
“Lo nggak percaya sama gue, Ra? jadi lo nggak ngijinin gue pindah? Lo mau kita nikah?” Dirga meninggikan suaranya. “Ya udah ayo kita nikah!”
“Gue udah nggak mau nikah sama lo!” jawab Kara tak kalah tinggi.
Dirga menjambak rambutnya yang masih basah dan memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan diri. Sebisa mungkin menghadapi Kara ia tak boleh ikut terbawa emosi.
“Ra, Please jangan kayak anak kecil. Gue tau lo kekanakan tapi ayolah belajar lebih dewasa sedikit.” Ucap Dirga pelan, kedua tangannya memegang bahu Kara supaya lebih tenang. Kara hanya menyunggingkan senyum kesalnya seraya menepis kedua tangan Dirga.
“Oke gue kekanakan, cuma lo yang dewasa disini!” Kara menatap tajam mata Dirga, mendengar ucapan Dirga tak membuat emosinya turun justru makin meningkat.
“Ra, bukan gitu maksud gue.”
“Terus apa hah? Jangan kira karena gue suka banget sama lo terus lo bisa seenaknya ngatain gue? Oke lah gue kekanakan dan Sinta lebih dewasa meski lebih muda dari gue, jadi dia lebih pantes buat lo. Gitu kan?”
“Ra!” sentak Dirga, lama-lama dia jadi ikut kesal juga mendengar ocehan Kara yang merembet kemana-mana. Sasa yang mau masuk kamar dan menonton secara live pun tak berani karena mendengar bentakan Dirga. Alhasil ia hanya mengintip dari dari belakang pintu.
“Maaf udah ngebentak lo. Bukan itu maksud gue, Ra.” Dirga menarik Kara yang masih terlihat terkejut karena disentak ke dalam pelukannya. Gadis itu diam membisu di dekapan Dirga, dia hanya bersandar di dada tanpa membalas pelukan Dirga yang mengusap kepala dan menepuk punggungnya pelan berulang kali.
“Maaf yah..” ulangnya lagi.
“Gue salah udah ngatain lo kekanakan, gue juga sama kok kayak lo belum dewasa. Bukannya sabar pas lo marah-marah malah ikutan marah. Gue nggak tau apa yang bikin lo jadi kayak gini, Ra. Gue sayang sama lo. Jadi please, mulai sekarang kalo ada apa-apa jangan langsung ambil kesimpulan sendiri terus marah-marah kayak tadi. Lo nggak cape, Ra? kita itu bentar-bentar marahan terus baikan lagi.”
“Lepas! Gue cape. Cape banget, Ga. Gue mau pulang.” Ucap Kara setelah Dirga melepas pelukannya.
“Ra, dengerin gue! Kita belum selesai. Selain mikirin masa depan, ini juga yang bikin gue nggak yakin buat nikah sekarang. Masalah kekanakan bisa gue tolelir karena gue juga belum dewasa. Tapi masalahnya sekarang lo tuh nggak mau belajar jadi dewasa, lo tuh nggak mau denger penjelasan orang dan selalu ngambil keputusan sepihak, lo tuh nggak mau nyelesein masalah malah pergi gitu aja. Lo tuh egois, Ra.” ujar Dirga.
“Iya gue egois. Lo yang paling dewasa.” Kara tersenyum lalu berlalu meninggalkan kamar Dirga.
“Ra... Lengkara!!” panggil Dirga yang tak ditanggapi sama sekali.
Dirga melepar kaos yang belum sempat ia pakai ke arah pintu kemudian duduk di ranjang. Lagi-lagi lelaki itu menjambak rambutnya berulang kali. “bener-bener bocah banget!” gerutunya.
Sasa memungut kaos Dirga dan membawanya masuk. Miris juga melihat kakaknya pusing seperti itu.
“Gue lagi males ribut, Sa!” ucap Dirga begitu melihat Sasa bediri di hadapannya.
“Pake baju dulu kak, ntar kakak masuk angin kalo nggak pake baju.” Sasa memberikan kaos yang ia pungut pada Dirga.
“Sasa nggak akan ganggu kakak. Sasa tau Kak Dirga nggak kayak yang dividio.” Dirga hanya menatapnya tajam tanpa bicara.
“Sasa pergi dulu deh. Mau bantu mommy masak.” Elaknya supaya bisa pergi dari kamar Dirga. “Kak Dirga kerasukan apa sih serem banget gila.” Gumamnya selama menuruni tangga.
Selepas maghrib Dirga keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi lengkap dengan jaket dan kunci motor di tangan kanannya.
“Aku keluar dulu bentar mom.” Pamitnya.
“Mau kemana? Jangan pake motor, Ga. kayaknya mau ujan.” Ujar Miya tapi anak lelakinya sudah berlalu pergi.
Tak jauh sama sekali hanya dengan satu tarikan gas, Dirga sudah memarkirkan motornya di halaman rumah Kara.
“Udah sebelas dua belas sama Kara yah kamu, masuk main slonong aja!” sindir Rama yang berada di ruang keluarga.
“Maaf, Pi. Urgent banget.” Jawab Dirga seraya menyalami Rama. “Kara dimana, Pi? Ada yang mesti aku jelasin.” Lanjutnya.
“Di kamarnya, lagi ngamuk.” Jawab Rama irit. Dia sudah pusing bukan main mengurusi pasangan yang dikit-dikit ribut. “Kalian ribut lagi?” tebaknya.
“Aku boleh nemuin Kara, Pi?”
“Sana temuin aja. Papi udah pusing, dia marah-marah terus dari tadi. Maminya sampe nggak masak makan malam gara-gara ngurusin Kara. Ardi di rumah nggak?”
“Daddy ada di rumah, Pi. Lagi pada mau makan malam, papi kesana aja mommy aku masak banyak.” Balas Dirga yag kemudian berlalu ke kamar Kara.
Setelah dilempari aneka barang dan dibantu oleh mami Jesi akhirnya Kara bersedia pergi dengan Dirga.
“Tunggu bentar, Ga. Biar Kara nya ganti baju dulu.” Ucap Jesi. “sini mami bantu, rambut kamu juga acak-acakan gini.”
“Nggak mau. Kara nggak mau ganti baju, udah kayak gini aja biar Dirga malu!” ucap Kara.
“Ya udah pake baju tidur kayak gitu juga nggak apa-apa. Mau seberantakan apa pun penampilannya gue tetep sayang sama lo, Ra.” ucap Dirga.
“Bohong banget!”
“Iya udah terserah lo deh kalo nggak percaya. Mi, kita pamit dulu.” Ucap Dirga yang kemduian menggandeng tangan Kara.
“Jangan pegang-pegang!”
“Iya iya gue lepasin. Pake jaketnya, dijalan dingin. Kayaknya mau ujan.” Ucap Dirga. Dia melepas jaketnya dan memakaikannya pada Kara.
“Udah tau mau ujan malah ngajak keluar! Mana pake motor lagi.”
“Biar cepet. Udah nggak ada waktu, buruan naik!”
Selama perjalanan Kara sama sekali tak memeluk Dirga, dia hanya berpegangan pada ujung kaos yang di kenakan Dirga. Angin malam itu benar-benar dingin diiringi dengan rintik gerimis yang membasahi bumi.
“Ga, baju lo basah.” Ucap Kara begitu turun. Mereka berada di parkiran stasiun Bandung.
“Cuma dikit, nggak apa-apa.” jawab Dirga tanpa melihat Kara, dia sedang fokus melakukan panggilan. “Tunggu bentar yah, gue udah di depan.” Ucapnya setelah panggilan tersambung.
“Yuk cepetan!” Dirga menarik Kara supaya sedikit berlari mengikutinya.
“Lo harus ketemu dia supaya berenti marah-marah nggak jelas, Ra.” jawab Dirga.
“Ketemu siapa?”
“Sinta.”
Kara langsung berhenti dan melepaskan tangannya, “males gue.”
“Lo harus ketemu dia. Cepetan!” Dirga memaksa. Karena Kara yang hanya diam mematung akhirnya Dirga dengan terpaksa menggendong Kara, tak peduli banyak pasang mata melihat ke arah mereka.
“Ta, lo jelasin!” Dirga menurunkan Kara tepat di depan Sinta dan ibunya. “gue tunggu di sana.” lanjutnya seraya menunjuk kursi di depan indoapril stasiun.
Sekitar sepuluh menit Dirga menunggu sambil memijit keningnya yang terasa pusing. Belum makan sejak siang karena jadi supir dadakan keliling kesana kemari di tambah drama Kara yang marah-marah membuatnya pening. Tubuhnya mulai terasa menggigil meski dirinya sudah meminum kopi untuk menghangatkan badan. Kali ini Dirga hanya berharap dengan mempertemukan Kara dan Sinta semua masalah jadi clear. Susah payah dia meminta Sinta supaya merubah jam keberangkatannya ke Yogya setelah menjelaskan duduk permasalahan vidio pelukan. Tak dipungkiri terakhir kali bertemu Sinta memang memelukanya di kamar, tapi tak hanya dirinya. Bu Dini dan Deva juga dipeluk secara bergantian sebagai ucapan terimakasih karena sudah membuatnya sadar jika tak selamanya ayah tiri itu jahat hingga ia mau ikut dengan ibunya pindah ke Yogya dan melanjutkan pendidikan di sana.
“Kak Dirga, nih gue balikin Kak Kara nya. Langgeng terus yah kalian. Makasih buat semuanya.” Ucap Sinta saat mengantarkan Kara pada Dirga.
“Makasih yah udah bantu jelasin. Sorry udah bikin lo ngerubah jadwal, harusnya tadi jam lima kan? Kirim no rekening lo aja, ntar gue ganti uang tiketnya.” Jawab Dirga.
“Nggak perlu kak. Ini nggak sebanding sama apa yang udah kakak lakuin ke gue. Titip salam aja buat bu Dini sama kak Deva yah. Bilangin kak Deva vidionya jangan di potong biar nggak ada yang salah paham.” Ucap Sinta, “Gue pamit kak. kalo peluk sekali lagi buat terakhiran boleh nggak?” ledeknya.
“Canda kakak. Peluk kak Lengkara aja deh.” imbuhnya seraya memeluk Kara dan melambaikan tangan pada Dirga.
Kara masih melambaikan tangan pada Sinta sementara Dirga sudah lebih dulu keluar.
“Eh?” Kara celingukan mencari Dirga yang tak ada di sampingnya. “Ya ampun di tinggal. My Dirgantara tungguin...” teriaknya sambil berlari menyusul Dirga.
“Ga... tungguin ih... ngebut banget jalannya.”
“Lo nggak pengen ngomong sesuatu gitu ke gue?” tanya Dirga yang sudah menaiki motornya sementara Kara masih berdiri di samping.
“Ngomong apa?”
“Bener-bener deh, kapan sih lo bisa dewasa Ra? ngakuin kesalahan aja nggak mau.”
“Iya iya maaf.” Ucap Kara lirih sambil menunduk, “kebawa emosi tadi.”
“Ngomong apa? nggak kedengeran!”
“Maaf My Dirgantara.” Ucap Kara, “udah jangan nyuruh ngulang lagi. Malu.”
“Iya. Naik cepet mumpung belum ujan, kita pulang.”
“Tapi udah gerimis, Ga. Baju lo juga udah basah. Lo yang pake jaketnya aja yah, gue di belakang ini nggak basah-basah amat.”
“Nggak usah. Lo pake aja, gue nggak apa-apa. kita pulang sekarang, bukannya dulu lo bilang pengen banget dibonceng ujan-ujanan sambil meluk gue dari belakang?”
“Iya sih. Tapi kali di pikir-pikir nggak tega juga, lo ujan-ujanan pake kaos doang sedangkan gue pake jaket.” Ucap Kara lirih namun pada akhirnya ia hanya tersenyum senang dibawah rintik gerimis yang berubah jadi hujan cukup deras saat mereka memasuki komplek tempat tinggalnya.
“Ra, denger gue nggak?” ucap Dirga cukup keras.
“Iya apa?”
“Nggak jadi deh ntar di rumah aja.”
Dirga tak membelokan motornya ke rumah Kara melainkan ke rumahnya, mengingat tadi Rama mau ikut makan malam di rumahnya.
“Ke rumah gue aja dulu.” Ucapnya begitu turun.
“Tapi gue basah gini.”
“Udah nggak apa-apa, gue aja basah. Papi sama Mami lo juga pasti ada di sini. Yuk!” Dirga menarik tangan Kara untuk masuk. “tuh kan bener, mereka di sini.” Ucap Dirga.
“Pi, Dirga mau ngomong penting.”
“Mau ngomong apa? pada mandi dulu terus ganti baju gih kalian basah gitu nanti sakit.” Ucap Miya, “Sasa bawa Kara ke kamar kamu, pinjemin baju kamu dulu.” Lanjutnya pada Sasa.
“Nanti dulu, Mom. Aku cuma bentar kok.” sela Dirga.
“Ganti baju dulu deh, Ga. Tangan lo dingin banget, gemetaran juga.” Ucap Kara.
“Nggak sekarang aja. Gue udah mikirin ini dari semenjak lo marah-marah tadi sore, Ra. Kita nggak bisa berjauhan, deket aja ribut terus apalagi jauh.” jawab Dirga.
“Papi, Mami, Daddy, mommy...” Dirga manatap satu persatu dari mereka secara bergantian. “Aku nggak mau pindah. Ijinin aku nikahin Kara, Pi.”
“Ga...” ucap Kara lirih.
“Gue serius, Ra. Lo mau kan nikah sama gue?”
“Iya ma..ma... mau banget, Ga.” jawab Kara gugup.
“Good. Kita belajar buat jadi dewasa bareng-bareng, Ra.” Ditariknya Kara dan memeluknya erat, tak peduli ada orang tua di sekitar mereka.
“Ga!!” teriak Kara saat Dirga ambruk begitu saja padahal dia belum melepaskan pelukan.
“Ga! lo kenapa? Dirga!!!” panik Kara.
“Mi, Dirga kenapa? Dirga bangun!” Kara menepuk pipi Dirga yang begitu dingin. “Ga, jangan mati dulu. Kita belum nikah! Dirga!!”