
"Nih... Nih..." Kara menunjuk daun mangga dengan kakinya. Gadis berambut panjang yang dikuncir satu itu berjalan kesana kemari seraya mengejek Dirga yang sedang menyapu.
"Sebelah sini abang..." Rengeknya saat Dirga tak menanggapi celotehannya.
"Tinggalin nih tinggalin!" Ancam Kara.
"Ah nyusul Tamarin ah... ngeselin di sini abangnya cuek mulu." Cibir Kara dan mulai siap-siap melangkah pergi.
"Berani selangkah aja lo pergi, gue nggak mau ketemu lo lagi." Ucap Dirga tanpa menatap Kara, tapi sedari tadi tatapan matanya tak sedetik pun berhenti mengikuti langkah lincah kaki Kara yang berjalan kesana kemari. Menyebalkan, saat dirinya bersih-bersih gadis itu justru terus menyerakan daun mangga yang sudah ia kumpulkan hingga kegiatan bersih-bersih yang ia lakukan tak ada habisnya.
Kara tentu tersenyum lebar mendengar ucapan Dirga, dia tak jadi pergi. Bukan melangkah menjauh, Kara justru kian mendekat pada Dirga dan berhenti tepat di hadapannya.
"Kalo gue pergi yakin nggak akan nemuin gue lagi?" Tanya Kara, karena Dirga yang tak menatapnya malah memilih menatap daun mangga di bawahnya membuat Lengkara berjongkok dan mendongak menatap Dirga.
"Ya udah sana pergi aja kalo mau nemuin dia. Sana!!" Ketus Dirga.
"Nggak deh. Adek di sini aja nemenin abang. Takut ada kebakaran. Kasihan ntar anak-anak nggak bisa sekolah, jadi adek ngalah di sini aja lah. Demi keamanan bersama. Demi kesehatan jiwa dan raga abang Dirgantara kesayangan adek." Kara menatap Dirga deh wajah yang di imut-imutkan. Meskipun aslinya tanpa diimut-imut pun gadis itu tetep imut.
CK! Dirga berdecak mendengar ocehan Kara. Gadis itu sungguh terlalu, selalu ada saja yang diocehkan.
"Abang jawab dong..." Kara menangkup kedua pipinya seraya menatap Dirga.
"Pengen gue cubit dah ini bocah." Batin Dirga.
"Abang..." Kara masih terus meledeknya.
"Bang beng bong bang beng bong mulu!! Lama-lama gue sapu lo, dek." Ucap Dirga, "Eh Kara maksud gue." Ralatnya cepat.
"Adek Lengkara Ayudia sayang dong, abang." Kara masih diam di tempatnya tak bergeser sedikit pun.
"Minggir ah santan sachet tiga ribuan. Gue sapu beneran nih!" Ancam Dirga.
"Ih kok beneran di sapu sih?" Kara buru-buru berdiri dan sedikit menjauh dari Dirga, "biar kata santan sachet tiga ribuan juga kalo nggak ada gue hidup lo nggak gurih." Celoteh Kara.
"Terserah lo deh, Ra." Dirga pasrah, kalo pun terus dijawab ocehan Kara itu tak akan ada habisnya.
"Sebelah sini belum, Ga!" Lagi-lagi Kara menyerakan daun yang sudah dikumpulkan Dirga.
"Tanggung banget pake kaki doang, Ra. Sekalian lo ambil pake kedua tangan lo terus lo awurin dah ke lapangan upacara sana."
"Lo kira gue nggak tau dari tadi lo ngacak-ngacak daun yang udah gue kumpulin hm?"
"Kan biar bisa lama-lama bareng My Dirgantara."
"Lo betah lama, gue nggak! Liat tuh anak-anak pada ngeliatin kesini semua. Mau di taruh dimana di wajah gue, ketos telat. Gara-gara lo nih image ketos gue jadi anjlog." Gerutu Dirga.
"Nggak apa-apa atuh meskipun image ketosnya turun tapi image My Dirgantara tetep melonjak dihati Lengkara."
"Lagian juga ngapain tadi pagi pake ribut sama Tama segala."
"Jangan sebut nama itu bocah di depan gue."
"Iya iya maaf. Buruan deh nyapunya, Ga. Gue laper, tadi kan belum sempat sarapan." Kara memegangi perutnya.
"Kalo nggak lo serakin itu daun udah selesai gue sapuin dari tadi!" Gerutu Dirga namun tetap menyapu daun-daun kering itu.
"Sini deh gue bantuin biar cepet selesei." Pada akhirnya bukannya mengawasi Kara justru ikut bersih-bersih di bawah pohon mangga.
"Cape?" Tanya Dirga saat mereka selesai menyapu, keduanya bersandar di pohon mangga.
"Gue lupa kalo Lengkara udah biasa nyapuin daun mangga. Nggak bakalan cape lah yah orang udah terlatih." Ejek Dirga.
"Udah dibantuin bukannya makasih malahan ngejek." Kara cemberut seraya meniup poninya naik turun. "Tau gini, tadi gue ngikutin Ta..."
"Stop nggak usah di lanjut." Dirga membungkam bibir Kara dengan telapak tangannya. "Jangan cemberut gitu." Lanjutnya.
"Cape yah?" Dirga ikut meniup kening Kara beberapa kali.
"Nggak ngaruh ah masih cape. Malah makin cape nih kalo deket-deket sama lo kayak gini. Cape jantung gue jedag jedug jeder gini."
"Terus gue mesti gimana biar lo nggak cape lagi hm?" Ucap Dirga lembut. Gila, menatap Lengkara sedekat ini membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
"Halalin lah, Bang."
Ingin rasanya Dirga menoyor keras kepala Kara yang otaknya sering oleng, tak habis pikir gadis yang selalu meraih peringkat tiga besar di kelas itu dengan mudahnya berbicara soal nikah. Mau digetok itu kepala tapi sayang, wajahnya terlalu imut.
"Yakin mau dihalalin?"
"Mau pake banget." Balas Kara.
"Ya udah ayo gue halalin."
"Cius???" Sumpah demi apa pun bagi Kara rasanya mustahil. Andai ini mimpi please jangan dibangunin dulu pikirnya.
"Serius lah. Toh nggak mahal ini, itung-itung gue balas jasa lo udah bantuin nyapu barusan." Balas Dirga.
Ya ampun, andai tau untuk bisa secepatnya dihalalin Dirga cukup bantuin nyapu, nggak apa-apa deh dia tiap hari nyapu halaman rumah Dirga juga. Kara sudah senyam senyum tak jelas seraya merutuki kebodohannya kenapa tak nyapu saja di rumah Dirga sejak dulu.
"Tapi inget nggak boleh deket-deket sama dia."
"Jangankan nggak boleh deket-deket, nggak boleh ketemu dia juga gue rela." Saking girangnya Kara sudah memeluk lengan kiri Dirga.
"Good." Dirga mengelus sayang kepala Kara.
"Ya udah ntar pulang sekolah gue halalin." Lanjutnya.
Sepanjang hari Kara selalu mengikuti Dirga kesana kemari bahkan Dila dan Selvia pun melakukan hal yang sama, demi mengawal Dirga dan memastikan pemuda itu tak berubah pikiran.
Pulang sekolah pun Kara cuek pada Tama yang seperti biasa dengan kata-kata manisnya memohon supaya bisa mengantarnya pulang. Dan Dirga tentu saja tersenyum puas melihat lelaki so segalanya itu dicueki Lengkara.
"Ga, kita ke kantor papi dulu aja. Kan gue mesti ada walinya. Terus juga kayaknya perlu sedikit pelicin deh biar acara halal menghalalkan lancar, soalnya gue belum punya KTP." Yang Kara tau kalo nikah yah pengantin perempuan harus ada walinya dan melampirkan identitas diri, masa iya dia mau melampirkan kartu pelajar. Kalo ada papi kan lumayan bisa di suap itu petugas KUA, pikir Kara.
"Ntar kita ke kantor papi, sekarang gue halalin lo dulu. Jalan kaki aja nggak apa-apa yah? deket kok." ucap Dirga.
"Mana ada ke KUA deket, Dirga? jauh tau. ke papi dulu lah, ntar nggak sah nggak ada walinya." protes Kara.
"Kok KUA sih, Ra? halalin mah di depan doang. Udah jalan aja bentar. ntar abis beli kita ke kantor papi, ngambil motor." ujar Dirga.
"Kok beli sih, Ga?"
"Katanya tadi mau halalin? ya udah ayo gue beliin boba halalin yang di depan sana." Dirga menunjuk stand boba dengan nama HALALIN AKU. Jenis minuman masa kini yang di cup nya ada tulisan halalin.
"Dirga!!!" teriak Kara kesal, ratusan kupu-kupu yang sedari pagi terasa menggelitik di perutnya auto hilang, kabur semua.
"Jangan teriak-teriak kayak gitu, Ra. Tenang aja lo mau cup ukuran besar juga nggak apa-apa. Mau pake ekstra topping boleh banget juga, atau mau dua cup juga boleh supaya double halal nya." ucap Dirga.