Always Loving U

Always Loving U
Terbongkar



Dalam perjalanan pulang Kara terus memandangi dua amplop di tangannya dengan tatapan kosong. Raut cemas jelas terlihat di wajah yang berulang menghembuskan nafas berat.


“Sini suratnya di simpan aja. Ntar biar aku yang ngomong sama orang tua kita.” Dirga yang sedang menyetir mengambil kedua amplop itu dan meletakannya di dashboard.


“Jangan dipikirin terus. Percaya sama aku, pasti aja jalan Yang.” Lanjutnya seraya mengelus sayang kepala Kara.


Yang diusap kepalanya hanya memaksakan tsersenyum.


“Nah gitu senyum! Kamu tuh akhir-akhir ini jadi beda, Yang. Dikit-dikit kepikiran, baperan sampe siklus datang bulan kamu tuh nggak teratur. Terlalu stres kamu tuh sayang.” Kali ini keduanya sudah tak panik lagi persoalan datang bulan telat karena dua bulan terakhir saja siklus Kara sudah acak-acakan. Mungkin banyaknya rangkaian ujian di semester akhir mereka menjadi salah satu penyebabnya.


“Gimana nggak stres Yang, baru aja ngelewatin PTS terus uji kompetensi padahal tinggal satu lagi aja, ujian sekolah dan kita bisa lulus SMK. Kenapa pake ada masalah kayak gini segala? Gimana kalo kita sampe dikeluarin? Masa depan kamu gimana? Cita-cita kamu juga.”


“Kamu Cuma khawatir sama masa depan aku, Yang? Gimana sama masa depan kamu? Cita-cita kamu hm?” Dirga menepikan mobilnya meski mereka belum tiba di rumah. Ditatapnya lekat-lekat wajah Kara yang cemas.


“Aku nggak penting, yang penting kamu. Lagian cita-cita aku kan udah kecapai, jadi istrinya Dirgantara.” Jawab Kara enteng “jadi kalo aku dikeluari nggak apa-apa, asal kamu jangan.”


“Dasar! Istrinya Dirgantara juga harus lulus sekolah dong. Kita bakal lulus bareng dan kuliah bareng juga Yang. Sini peluk!”


“Udah-udah jangan dipikirin, biar aku aja mikir oke.” Dirga menepuk pelan punggung Kara. Gadis itu terisak di pelukannya.


“Hei kok malah nangis? Udah-udah yah... semua pasti baik-baik aja.”


“Semua gara-gara aku. Coba kalo HP aku nggak ilang? Coba kalo dulu aku nurut pas kamu bilang jangan nyimpen foto nikahan kita di HP, pasti nggak akan kayak gini.” Kara sungguh menyesali perbuatannya. Sejak awal menikah Dirga pernah memintanya untuk memindahkan semua foto pernikahan mereka ke laptop, tapi dirinya tetap ngeyel.


“Udah nggak apa-apa, semua udah terjadi. Nangis nggak akan bikin masalah selesei, Yang. Udah yah jangan nangis lagi.”


“Tapi nanti Papi pasti marah nih.”


“Nggak akan, biar nanti aku yang ngomong sama Papi. Kita lanjut pulang sekarang yah?”


“Mampir resto Mommy dulu deh sebelum pulang, Yang.”


“Mau ngapain? Mau ngadu ke Mommy? Nggak usah, kamu diem aja. Biar aku yang bilang sama orang tua kita.”


“Bukan. Aku pengen makan disana, laper!”


“Iya, ayo!” Dirga mengelus sayang kepala Kara sebelum melajukan mobilnya. Setidaknya sekarang ia bisa tenang karena Kara beberapa hari ini makan lebih banyak dari biasanya, ia tak perlu khawatir istrinya akan sakit gara-gara telat makan akibat banyak pikiran seperti dulu.


Malam harinya usai makan Dirga lebih dulu mengantar Kara ke kamar, ia juga meminta Sasa untuk menemani istrinya sementara dirinya menemui Rama dan Ardi.


“Jadi gara-gara ini Kara dari tadi murung?” Rama meletakkan surat panggilan itu kembali setelah membacanya.


Hal yang sama pun dilakukan oleh Ardi, “dari awal udah aku tebak kalo hal kayak gini lambat laun pasti ketahuan.”


“Dari awal kan aku udah nyaranin pihak sekolah suruh hadir salah satu, biar aman gitu.” Sambung Jesi. “kalo udah kayak gini kan jadi repot urusannya.”


“Maaf ini salah aku yang nggak bisa jaga semuanya dengan baik.” Ucap Dirga lirih.


“Bukan salah kamu, anak mami aja yang emang susah dibilangin. Harusnya dia yang disini biar disemprot papi nya.”


“Jangan, Mi. Kasihan Kara, kalo istri salah berarti aku sebagai suami yang salah karena nggak bisa ngarahin Kara.” jawab Dirga.


“Lagi pula ini bukan sepenuhnya salah Kara, Mi. Aku yakin ada yang sengaja ngelakuin semuanya. HP itu udah ilang dua bulan lalu dan tiba-tiba ada di bu Irma. Pasti ada yang sengaja pengen aku sama Kara di keluarin.” Sambungnya.


Rama menghela nafas panjang seraya memijit keningnya, “sudah tidak perlu saling menyalahkan. Berapa orang yang tau kalian sudah menikah?”


Dirga menggelengkan kepala. “Aku nggak tau, Pi.”


“Teman-teman kalian sudah tau?” tanya Ardi.


“Teman-teman yang lain? Apa sudah ada yang membicarakan penikahan kalian? Atau mungkin foto kalian menyebar di grup-grup dunia maya?” timpal Rama.


“Sampe sekarang belum, Pi. Di grup juga hanya membahas persiapan ujian sekolah senin besok.” Jawab Dirga.


“Bagus kalo gitu. Kamu kembali ke kamar biar kami yang menyelesaikan masalah ini.” Ucap Rama.


“Makasih, Pi. Maaf udah bikin masalah buat Mommy, Daddy, Papi sama Mami. Kedepannya aku akan belajar jadi suami yang lebih baik lagi.” Ucap Dirga.


Jesi menepuk bahu menantunya sebelum siswa kelas dua belas yang dipaksa dewasa karena tanggungjawab itu berlalu meninggalkan ruang kerja suaminya. ”Kamu menantu terbaik Mami.”


Begitu masuk ke kamar, istri dan adiknya entah sedang membahas apa sampai Kara yang tadi murung bisa tertawa lepas sambil memakan keripik kentang yang dibawa Sasa. Biasa lah adiknya itu datang dengan banyak jajan. Dirga tak habis pikir kenapa adiknya selalu memiliki stok jajanan bocil, padahal sepengetahuannya gadis itu sedang menabung uang jajan untuk beli tiket konser, sama seperti Kara.


“Ada Kak Dirga, udahan yah Kaleng. Nanti lanjut misi kalo Kaleng udah selesai ujian.”


“Sasa pulang yah.” Pamitnya yang dibalas anggukan kepala oleh Kara.


“Gimana kata Papi, Yang? Pasti marah-marah yah?” tanya Kara setelah Dirga mengunci kamar mereka.


“Nggak kok. Papi sama Daddy bakal beresin masalah kita. Tidur sini, biar aku sayang-sayang.” Dirga menepuk kasur di sampingnya.


Kara melipat bungkus keripik kentangnya yang masih tersisa setengah dan menyimpannya di meja, ia pergi ke toilet terlebih dulu untuk mencuci tangan kemudian berbaring di sisi Dirga.


“Nggak mau pipi, Yang. Pengen perut aja yang dielus-elus.” Kara memindahkan tangan Dirga dari wajahnya.


“Hm? Kamu dapet Yang? Aku ambil kompresan dulu kalo gitu.”


“Nggak. Pengen di elus-elus perut aja, kayaknya aku kekeyangan deh. Kalo di elus gini nyaman.” Balas Kara.


Esok harinya di sekolah Kara menceritakan soal surat panggilan itu ke Selvia dan Dila. Dua sahabatnya itu sampai menemani Kara dan Dirga di depan ruang kepala sekolah saat orang tua mereka sedang berbicara di dalam sana.


“Semua pasti baik-baik aja, Ra. Tenang yah.” Ucap Selvia.


“Nggak akan ada yang baik-baik aja buat siswa yang ketahuan nikah. Udah pasti D.O!” Seru Deva yang entah sejak kapan berada di sana, yang jelas gadis itu keluar dari samping ruangan, menyenderkan diri di dinding seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


“Dev, ini semua? lo?” Dirga langsung berdiri dan menatap gadis itu dengan sengit.


“Ya, gue. Gimana suka nggak sama kado dari gue?” jawabnya enteng “pasti suka lah yah. Apa lagi Kara, suka banget kan? sampe nggak bisa ngomong.”


“Lo bener-bener udah gila, Dev!” sentak Dirga.


“Yah gue gila, Ga. Gila karena lo nikah diem-diem sama dia!” balas Deva tak kalah keras hingga siswa lain mulai berkumpul di sekitar mereka.


“Siapa yang nikah?”


“Dirga udah nikah?”


“Ya, Dirga sama Kara udah nikah. Gue punya buktinya.” Deva menunjukan salah satu foto pernikahan Kara dan Dirga di ponselnya. Hingga para siswa makin ricuh membicarakan keduanya.


.


.


.


JANGAN LUPA VOTE BUAT KARA DIRGA GAES, UDAH SENIN INI😘😘😘 kasihan mereka butuh semangat buat bertahan di tengah kericuhan🤪🤪