
Rama memijit kepalanya yang terasa pusing pagi ini. Seluruh badannya terasa sakit karena tidur dengan posisi duduk di samping ranjang Kara. Dielusnya kepala Kara yang masih terlelap dengan bibir sedikit terbuka, gadis itu memeluk erat boneka yang semalam sudah berulang kali ia buang. Rama tersenyum simpul melihat Kara yang sudah remaja, rasanya baru kemarin ia melihat gadis mungil itu lahir ke dunia.
“Dedek bayi gemoy kesayangan gue udah nggak gemoy lagi, udah pinter ngambek.” Ucapnya lirih sambil membenarkan selimut Kara.
Ayah dan anak itu baru terlelap saat pagi menjelang, semalaman Rama membujuk Kara dengan aneka drama yang menyesakkan. Dia berulang kali terusir dari kamar ditambah dengan lemparan aneka benda oleh Kara. Dari mulai di lepar Dirdiran, bantal, guling, selimut bahkan terakhir alas kaki berwarna pink dengan bulu-bulu halus yang lembut mendarat sempurna di tumbuh Rama. Namun ayah dua anak itu tak menyerah, dia hapal betul kebiasan putrinya yang suka melempar apapun saat kesal dan marah. Bahkan ia dengan sengaja tak menghindar dan membiarkan benda-benda yang di lempar Kara mengenai dirinya. Bukan tanpa alasan, semua orang punya caranya masing-masing untuk meluapkan sesak, sakit bahkan kecewa yang tengah dirasakan.
Tak ada satu pun orang tua yang ingin melihat anaknya menangis. Percayalah, begitu pun dengan Rama. Semua ia lakukan demi kebaikan Kara dan Dirga. Setelah dua jam berlalu akhirnya drama lempar-melempar itu berlalu, Kara juga sudah terlihat lebih tenang.
“Udah puas lempar-lemparnya?” Rama menghampiri Kara yang balas manyun di atas ranjang yang sudah kosong.
“Apa-apa? kamu mau ngelemparin apa lagi?” ledek Rama saat melihat Kara mencari benda di sekelilingnya. Sudah tak ada apa-apa.
“Masih sisa kasur yang kamu dudukkin tuh!” Rama menujuk ranjang Kara dan kemudian duduk di dekat anak gadisnya. “tapi kamu nggak bakal kuat ngangkatnya.” Lanjutnya seraya mencubit pipi gadis yang masih manyun.
“Awas lah jangan pegang-pegang.” Ketus Kara sambil menjauhkan tangan Rama, “Kara kesel sama papi. Papi jahat! Papi ngapain sih masih di sini kan udah Kara usir. Keluar gih, Pi! Sebel.” Lanjutnya.
“Papi nggak akan kemana-mana selama dedek gemoy papi ini masih ngambek. Masa yang abis ulang tahun malah ngambek? Tujuh belas tahun kok bukannya makin dewasa malah makin kayak anak kecil.”
“Masa anaknya ulang tahun malah dibikin nangis bukannya ngasih kado. Ayah macam apa itu?” sindir Kara.
“Kata siapa papi nggak ngasih kado? Papi sama mami udah beli kado buat kamu kok, mungkin besok pagi baru dianterin ke sini.”
“Tau lah Kara kesel. Papi keluar gih, Kara pengen sendiri. Papi jahat!” ucapnya.
“Papi disini aja, nemenin kamu. Semua yang papi lakuin itu demi kebaikan kamu sama Dirga.”
“Nggak ada yang baik dalam perpisahan Pi. Papi tega misahin Kara sama Dirga.” Keluhnya.
“Kalian itu cuma pisah sementara, lagi pula itu kan pilihan Dirga. Kamu percaya nggak kalo Dirga itu benar-benar cinta sama kamu?”
“Nggak tau, Pi. Nggak cinta kali, buktinya milih pindah dari pada nikah.” Jawab Kara.
“Dengerin papi baik-baik, sayang. Buat kamu nikah itu mudah karena kamu seorang perempuan. Beda dengan Dirga, banyak yang dia pikirkan karena menikah berarti memindahkan seluruh tanggungjawab papi ke bahunya.”
“Tau lah Kara nggak ngerti dan nggak mau ngerti. Papi sama Dirga sama aja. Sama-sama jahat. Awas lah Kara mau bobo.” Usirnya namun tak membuat Rama meninggalkan kamar putrinya, dia dengan sabar duduk di samping ranjang sambil membujuk Kara yang berbaring membelakanginya.
Menjelang pagi barulah Rama berhasil membujuk Kara dan memberi pengertian dengan sangat-sangat perlahan hingga akhirnya gadis itu bisa menerima keputusan yang diambil Dirga. Dengan syarat setiap dua minggu sekali atau maksimal satu bulan sekali dia bisa menemui Dirga.
Saat turun untuk sarapan, Rama melihat Dirga dan Sasa yang sudah ada di ruang makan bersama dengan Jesi juga putra bungsunya. Jesi masih dengan mode kesalnya, sampe tangan Ridwan saja pagi ini Free tak memegang HP. Padahal Weekend tapi si mami kalo lagi ngambek emang suka gitu, semua kena imbasnya, HP Ridwan aja di sita.
“Mi, Sasa mau tambah nasinya.” Sasa menyodorkan piring yang langsung disisi nasi oleh Jesi. Diantara mereka hanya Sasa yang masih mendapat perlakuan ramah, sisanya benar-benar dicuekin.
“Lo ambil sendiri kan bisa, Sa. Nggak liat apa mood mami lagi nggak baik.” Bisik Dirga pada adiknya yang sengaja ia bawa untuk membantu membujuk Kara eh malah dengan santainya ikut sarapan pake nambah pula.
“Kata siapa mood mami lagi nggak baik? Baik kok, kecuali sama orang-orang yang ngeselin. Ya kan, Mi?” tanya Sasa yang dibalas senyum ramah oleh Jes.
“Udah kalian makan aja. Dirga kamu ambil sendiri, apa mau papi ambilin? Ridwan juga. Malah pada diem-diem aja. Makan itu nasi goreng buat sarapan kita, bukan sajen.” Ucap Rama sambil menyodorkan piringnya pada Jesi.
“Udah jangan cemberut terus, Kara udah nggak ngambek. Udah aku bujukin sampe subuh tadi akhirnya ngerti juga itu bocah. Udah nggak sedih lagi dia, tapi sekarang masih tidur.” Jelas Rama.
Mendengar itu Jesi merasa lega. Dia menerima piring Rama dan mengisinya dengan telaten.
“Mi, HP aku...” ucap Ridwan.
“HP terus kamu tuh! Makan aja, nggak usah HP HP HP terus.” Jesi mengambil piring Ridwan dan mengisinya.
“Tapi Mi, aku lagi persiapan buat turnamen ntar malem loh. Lagi latihan biar kompak. Hadiahnya lumayan loh mi.”
“Nggak ada tapi tapian. Makan!” balas Jesi.
“Iya, Mi. Bilangin tuh Ririd jangan HP mulu Mi. Semenjak gabung sama ekskul e-sport Ririd jadi HP mulu, Sasa di cuekin. Kemarin-kemarin aja Sasa pulang sendiri. Males sekarang mah Sasa sama Ririd. Kita putus lah.”
Ridwan menyunggikan senyum mengejeknya, “emang kita pernah jadian?”
“Ya pokoknya putus aja deh. Kita udah nggak best friend, Ririd jangan deket-deket Sasa lagi takut calon suami Sasa cemburu.” Ucapnya penuh percaya diri.
“Pi, aku ijin ke kamar Kara boleh? Mau sarapan sama Kara aja sekalian minta maaf.” Ucap Dirga, dari pada tetap di meja makan mendengarkan ocehan gaje Sasa dan Ridwan.
“Kara nya masih tidur, kamu sarapan saja dulu.” Jawab Rama.
“Nggak apa-apa, kamu kesana aja. Nih mami siapin, dia pasti seneng kalo bangun langsung liat kamu.” Jesi mengambil nampan dan meletakan satu piring nasi goreng dan dua gelas jus jeruk.
“Nih satu piring berdua aja, kamu suapin. Dia pasti makin seneng pake banget.” Lanjutnya.
“Makasih, Mi.” Ucap Dirga yang sudah beranjak dari duduknya.
“Inget Dirga, cuma nyuapin sarapan. Pintunya jangan di tutup, kamu jangan macem-macem! Inget setiap sudut rumah ini udah papi pasang CCTV.” Ucap Rama “CCTV tersembunyi.” Tegasnya lagi.
Dirga hanya mengangguk dengan kikuk, bagaimana pun ia masih ingat jelas dengan kejadian semalam. Gara-gara bibir Kara yang losdol sekarang pengawasan calon mertuanya jadi lebih ekstra.
.
.
.
ready buat buka kado? besok yah kita bukain kado ultah Kaleng. jangan lupa like sama jejak komennya😘😘