Always Loving U

Always Loving U
Ngambek



“Aduh stop... stop, Ra! Apa-apain sih? Kayak anak kecil aja deh.” Dirga memungut sepatu kiri Kara yang baru saja dilemparkan asal setelah puas memukulnya. Harapan setinggi langit yang seketika runtuh gara-gara boba membuat Lengkara kesal setengah mam pus, tak seperti biasanya yang hanya melepas sepatu kemudian melemparnya pada Dirga, kali ini gadis itu memukul berulang kali pada bahu Dirga hingga lelaki itu mengaduh. Tanpa sepatah kata pun Kara melepas sepatu satunya lagi dan melemparkannya pada Dirga yang baru saja memungut sepatu kirinya, membuat Dirga yang baru saja berdiri kembali berjongkok untuk mengambil sepatu lagi.


“Mulai deh kumat lempar-lempar sepatu.” Gerutunya, sementara yang melempar tampak acuh dan melenggang pergi.


“Woy, Ra! Sepatu lo nih.” Teriak Dirga, tapi gadis itu tak menoleh padahal jarak keduanya tak begitu jauh.


“Nggak sekalian aja lo buang itu tas? Kebiasaan banget dah lempar-lempar barang.” Ucap Dirga dari belakang dan sialnya gadis itu benar-benar membuka tasnya kemudian melemparkannya asal.


Ck! Dirga berdecak kesal. Tangan kirinya sudah menenteng sepatu dan kini tangan kanannya harus membawa tas Lengkara juga.


“Udah berasa kayak pemulung nih gue.” Ucapnya seraya mengambil tas Kara, “udah dibaik-baikin masih aja ngeselin. Kara... Kara... bisa nggak sehari aja lo nggak bikin gue kesel?” lanjutnya.


Dirga hanya menggelengkan kepala melihat Kara yang berjalan tanpa alas kaki dan menaiki salah satu ojeg online, “katanya minta halalin? Mau dibeliin malah ngambek. Belum dua puluh empat jam udah dua kali aja lo ninggalin gue, Ra? Mana motor gue nggak ada. Apes dah.” Ucap Dirga lirih. “Mana harus bawa tas sama sepatu lo juga, Ra. Huh! Lama-lama gue buang aja nih semuanya.” Lanjutnya namun tetap membawa barang-barang Kara.


Sepanjang jalan Kara merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya dia begitu percaya diri jika Dirga akan menghalalkannya, huh ternyata hanya boba.


“begoo... begoo... begoo...” rutuknya dalam hati, “dasar My Dirgantara ngeselin.”


Tiba di rumah Kara mencari-cari tasnya untuk mengambil uang guna membayar ongkos ojeg. Ia menghela nafas kasar saat mengingat tasnya ia lempar asal saking kesalnya tadi.


“Bentar yah, mang. Nggak bawa uang akunya.” Ucap Kara lirih.


Kara masuk ke dalam rumah, melewati Ridwan dan Sasa yang entah sedang mengerjakan apa di halaman rumah. Dia bahkan mengabaikan teriakan calon adik iparnya, tujuannya saat ini adalah meminta uang pada mami Jesi.


“Ririd, mami kemana?” teriak Kara dari dekat pintu setelah mendapati mami nya tak di rumah.


“Di rumah calon mertua lo.” Balas Ridwan tak kalah teriak.


“Susulin gih. Minta uang buat bayar ojeg, gue nggak ada uang.”


“Lo susulin sendiri aja, Kak. Kagak liat apa gue lagi sibuk nih.” Ridwan menunjuk kayu-kayu yang sedang ia ikat. Mana tugasnya jadi double pula gara-gara si micin minta dibikinin juga. Kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah sudah berakhir tepat hari ini, besok keduanya diharuskan membawa barang-barang yang sudah di list oleh senior untuk mengikuti kegiatan pramuka selama dua hari satu malam. Banyak barang yang harus mereka bawa dari mulai kayu bakar untuk api unggun, aneka makanan hingga barang-barang yang membuatnya harus putar otak mengartikan barang yang dimaksud seniornya karena namanya aneh-aneh.


“Iya, Kaleng. Kita lagi sibuk nih, Kaleng bantuin dong kan udah pengalaman. Ini namanya aneh-aneh dah, kita baru bisa ngartiin setengahnya.” Imbuh Sasa.


“Gue lagi nggak mood, lo berdua kerjain sendiri aja. Pokoknya bayarin itu ojeg yah.” Pungkas Kara yang kemudian berlalu masuk kembali ke rumah.


Pada akhirnya Sasa yang membayar ongkos ojeg Kara. “Rid, Kaleng kenapa yah? Tumben banget kayak gitu. Mana pulang nyeker, nggak bawa tas juga.”


“Apa jangan-jangan Kaleng abis kerampokan yah?” tebak Sasa.


“Paling juga ribut sama bang Dirga. Udah sih biarin aja, bantuin ngiket ngapa Sa? Lo tuh malah ngeliatin doang dari tadi.” Ucap Ridwan.


“Kan Sasa bantu do’a Rid.” Kilah gadis itu.


“Dasar!” cibir Ridwan.


“Eh kayaknya bener deh ribut sama Kak Dirga. Tuh kak Dirga bawa sepatu sama tas nya Kaleng.” Sasa menunjuk Dirga yang baru saja masuk ke dalam rumah.


“Gue bilang juga apa. Udah biarin aja, mereka itu aneh.” Ucap Ridwan.


Sementara itu di dalam rumah, Dirga baru saja meletakan sepatu Kara di ruang tamu dan mencari keberadaan gadis itu. Sudah ke dapur dan ruang keluarga namun tak terlihat batang hidung gadis yang meninggalkannya tanpa sepatah kata itu.


“Pasti di kamar nih.” Tebak Dirga kemudian menaiki tangga menuju kamar Kara.


Tiba di atas, seperti biasa pintu kamar gadis itu tak tertutup rapat. Dirga mengetuk pintu itu berulang kali namun tak ada jawaban.


“Ra, gue masuk yah.” Ucapnya.


Tepat saat Dirga masuk, Kara baru saja keluar dari kamar mandi. Rupanya gadis itu telah mengganti seragam putih abunya.


“Tas lo.” Dirga mengasongkan tas yang ia bawa,tak lupa halalin ukuran cup jumbo dengan topping ekstra boba juga ia berikan.


Kara masih tak menggubrisnya, gadis itu justru naik ke atas ranjang dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


“Ra! Lo denger gue ngomong nggak sih?” ucap Dirga.


“Kara...” panggilnya lagi yang masih tak dijawab oleh Kara.


“Lengkara!!” teriaknya, kali ini sambil menarik selimut yang dikenakan Kara. Tapi gadis itu sama sekali tak terusik, malah mengambil guling dan memeluknya erat. Sementara si Dirdiran, boneka jumbo berwarna pink yang dibelikan Dirga ditendang hingga jatuh tak berdaya di lantai.


“Si a lan!! Gue dicuekin.” Geram Dirga.