
“Suatu saat kamu akan tau alasannya, Tama. Tapi nggak sekarang.” Raya menepuk lengan kiri putranya.
"Nggak asik nih mama main rahasia-rahasiaan.” Gerutu Tama.
Beralih dari Tama yang masih mencoba mengorek alasan sang mama memintanya menjaga Kara, di tempat lain seorang lelaki baru saja keluar dari gerbang rumahnya dan masuk ke gerbang rumah yang berada di seberangnya dengan buru-buru.
Dirga, lelaki itu bahkan sampai tak mengenakan sendalnya. Dia semakin mengepalkan tangan saat melihat brio hitam terparkir di halaman rumah Kara.
“Cepet banget itu bocah udah balik kesini lagi.” Gerutunya seraya berjalan menuju pintu yang tak tertutup.
Dirga membuang nafasnya kasar, melihat Kara yang tersenyum lebar di dalam sana. Tebakannya gadis itu pasti sedang tertawa dengan si pemilik brio hitam yang terparkir di halaman, siapa lagi kalo bukan Tama.
Dalam keadaan gelisah Dirga berubah seperti Kara yang masuk rumah orang tanpa salam maupun permisi.
“Ra, lo bener-bener nggak bisa dibilangin yah. Gue kan udah bilang jangan deket-deket sama dia, eh sekarang lo malah biarin dia mas…” teriaknya berakhir sebelum selesai bicara begitu melihat orang yang duduk di seberang Kara. Tak seperti dugaannya orang itu bukan Tama, Justru wanita anggun dengan hijab warna lilac yang menatapnya terkejut.
Kara yang sedang tertawa renyah langsung berhenti melihat kehadiran Dirga yang masuk tiba-tiba dan langsung berteriak padanya. Kara hanya menatap bingung pada Dirga, sementara Dirga tersenyum canggung seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Eh ada tante Alya, aku kira…” Dirga tak menuntaskan ucapannya, dengan pelan ia berjalan menghampiri Alya dan menyalami wanita berhijab itu, “Tante apa kabar? Lumayan lama nggak ketemu tante.” Sapanya berbasa-basi.
“Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, tante baik-baik aja.” Jawab Alya.
“Tante jarang kesini, sibuk ngurusin kaktus-kaktus mini. Lagi rame sekarang banyak yang beli. Kamu sama Kara main-main aja kesana.” Lanjut ibu 2 anak yang sekarang menekuni bisnis kaktus mini hasil pengembangbiakan dari kaktus yang diberikan oleh suaminya sejak mereka pacaran dulu.
“Nanti tante kasih kaktus.” Lanjutnya.
“Ayo Al, kalo nggak berangkat sekarang nanti kita pulangnya kemaleman. Suka macet.” Ucapan Jesi yang baru saja bergabung ke ruang tamu menjadi akhir perbicangan Alya dan Dirga. Ibunda Lengkara itu berbicara tanpa melihat Alya, dia sibuk memeriksa isi tasnya takut ada yang ketinggalan.
“Eh ada calon mantu ternyata, tumben?” lanjutnya saat menyadari Dirga yang duduk di samping Alya.
“Kebetulan banget kalo gitu mami titip Kara yah. Kamu jangan pulang dulu kalo mami belum pulang, takutnya mami pulang kemaleman terus mati lampu. Kasihan Kara dia takut gelap, adeknya nggak bisa diandelin kalo udah main game susah keluar kamar.” Ujar Jesi.
“Sip kalo gitu. Yuk Al, kita otw.” Jesi berlalu meninggalkan rumah bersama Alya.
Kara dan Dirga ikut mengantar Alya dan Jesi hingga halaman, gadis imut di sampingnya itu terus melambaikan tangan berdadah ria hingga brio hitam yang dikemudikan tantenya menghilang di balik gerbang.
Dirga hanya menghela nafas kasar, “Njir otak gue jadi oleng tiap liat brio hitam. Padahal tante Alya kok bisa gue ngira itu bocah yang balik lagi.” Batinnya.
Lain halnya dengan Dirga yang masih menatap kosong ke depan sana, Kara justru menatap lelaki jangkung di sampingnya seraya melipat kedua tangan di depan dada. Diamatinya penampilan Dirga dari ujung kepala, “ganteng seperti biasa my future husband.” Kara mengangguk-anggukan kepalanya sambil terus melihat ke bawah, hingga tak lama tawanya pecah melihat Dirga yang tak memakai alas kaki.
“Udah nggak waras lo ketawa sendiri, Ra?” seperti biasa ucapan tetangganya itu selalu pedas, mengalahkan pedasnya bon cabe level akhirat.
Cih! Kara mencebikkan bibirnya. “Kayaknya yang nggak waras lo deh, Ga. Datang ke rumah orang langsung slonong-slonong tanpa salam terus marah-marah. Apa-apaan coba?”
“Terus itu juga…” Kara menunjuk kaki Dirga yang telanjang.
“Sejak kapan Dirgantara suka nyeker kayak gitu?” lanjutnya.
“Oh ini…” Dirga sedikit gelagapan menjawab pertanyaan Kara, pasalnya dia pun tak tau kenapa tiba-tiba berlari begitu saja saat mendengar ucapan Sasa yang mengatakan Tama akan datang.
“Ini tuh gue buru-buru, soalnya tadi Ridwan nelpon katanya laptop dia tiba-tiba mati padahal gamenya lagi seru.” Elaknya.
“Ya gara-gara itu.” Ulangnya menegaskan.
“Dah lah gue mau ke kamar Ridwan aja meriksa laptop dia.” Elaknya seraya merutuki sikapnya sendiri dan berjalan masuk ke dalam rumah, sementara Kara terus mengikutinya dari belakang.
Dirdiran yang seketika alih profesi jadi kang service laptop, mana nyeker pula🤦🤦
kencengin like, komen sama kirim bunga dong biar aku makin semangat 😘😘😘