Always Loving U

Always Loving U
Gagal



Kara hanya diam, sekilas dia melirik Dirga yang masih asik ngoceh-ngoceh sendiri dengan Zein. Sedikit aneh, baru akhir-akhir ini lelaki yang biasa bicara secukupnya itu jadi banyak bicara. Mana prik banget lagi, ngomong sendiri dijawab sendiri. Kara jadi bertanya-tanya, apakah ini sisi lain Dirga yang tak ia ketahui selama ini? Ah entahlah.


Kara bisa melihat Dirga yang langsung memalingkan muka dan beralih mencubit gemas pipi Zein saat tak sengaja pandangan mereka bersitatap.


“Jangan dicubitin! ntar nangis lagi Zein nya.” Ucap Kara seraya menyingkirkan tangan Dirga dari wajah Zein.


“Kagak bakal nangis, kan ada pawangnya.” Jawab Dirga, dia kembali mencubit gemas pipi bulat Zein. “Iya-iya, udahan gue nyubitnya.” Ucap Dirga saat Kara menatapnya dengan kesal. “Ate Ala ayo alan alan ke mall dong. Ein pengen alan-alan. Di lumah telus bocen.”ucap Dirga dengan menirukan cara bicara Zein yang acak kadul tak jelas.


Kara memicingkan matanya mendengar ocehan Dirga, bukannya gemas Kara justru ingin menoyor kepala Dirga dengan sandal supaya otaknya normal kembali. Aneh sekali melihat si irit ngomong jadi nyerocos tak jelas.


“Jadi gimana mau jalan-jalan ke mall nggak?” belum selesai dengan keanehannya, Dirga sudah kembali bersuara.


“Gue mau lah, udah ready gini masa di rumah aja. Ntar disangka rice cooker hari libur diem di rumah terus.”


“Ya udah ayo jalan, gue ambil mobil dulu bentar. Apa mau pake motor aja?” tanya Dirga yang sudah beranjak berdiri.


“Ya kali pake motor Ga? ntar Zein gumoh masuk angin.” Jawab Kara. “Lagian ntar kalo Zein nangis gimana?”


“Ya kan bareng sama lo, Ra. Nggak bakalan nangis dia kalo sama cewek.”


“Ya tapi kalo laper dia bakalan nangis, Ga! Ntar kalo dia mau ne nen gimana?”


“Ya tinggal di kasih aja lah, Ra. Gitu aja repot.”


Kara melotot mendengarnya, “gila aja gue mesti ngasih ne nen Zein. Mana ada airnya punya gue, Ga. dah lah nggak usah ke mall, jalan-jalan di depan rumah aja.”


“Sufor, Ra. sufor! Susu formula.” Balas Dirga sambil menahan tawa, ingin terbahak tapi takut Kara ngambek. Kan susah bujuknya, dulu aja ngejar-ngejar eh sekarang di ajak jalan susahnya minta ampun. “Lo tunggu di depan. Gue ke rumah dulu ambil perlengkapan Zein.”


Dirga buru-buru pulang ke rumahnya, senyum mengembang jelas terlihat di wajah tampan itu. “Tas Zein mana mom?” tanyanya begitu tiba di ruang keluarga.


Mommy Miya menunjuk tas yang ada di samping meja, Dirga langsung mengambilnya. Sebelum masuk ke mobil dia memeriksa isi tas Zein, memastikan semua kebutuhan anak itu ada di dalam sana.


“Pempers, celana, baju, minyak telon, tisu, bedak, biskuit, susu ada. Oke lengkap, tinggal ini termos ada airnya kagak yah?” Dirga mengangkat termos stainless mini dari dalam tas, “lah nanti kalo abis beli aja air panas banyak kok.” lanjutnya.


Dirga melajukan mobilnya keluar, tepat di depan rumah Kara ia membunyikan klakson beberapa kali karena gadis itu tak terlihat padahal tadi sudah diminta untuk menunggu di depan.


“Kemana sih? Lah kok...” Dirga langsung keluar dari mobil saat mendapati Zein di gendong oleh Retha.


“Kok Zein sama kak Retha sih? Kara mana?” tanya Dirga.


“Udah jalan dijemput temennya barusan.” Jawab Retha. “udah mulai pinter bohong yah sepupu gue ini.” Retha menjewer telinga Dirga hingga lelaki itu meringis.


Saat menuju rumah mommy Miya tadi, Retha tak sengaja melihat Kara yang menggendong putranya di depan rumah. Dia menghampiri Kara dan mengambil alih Zein setelah Kara menceritakan semua omongan Dirga.


“Sakit tau kak.” Dirga mengusap telinganya, “kenapa Kara dibiarin pergi sih, kan mau jalan bareng gue, bareng Zein juga. Yang jemput Kara cewek apa cowok Kak?”


“Wah nggak bisa dibiarin. Gue jalan dulu kak, mesti dikawal calon istri.” Ucap Dirga.


“Eh mau kemana?” Retha menahan tangan Dirga yang hendak membuka pintu mobil, “lo bilang ke Kara dari tau ngasuh Zein sendiri kan? Ya udah nih asuh Zein yang bener sekarang!” Retha memindahkan Zein ke pelukan Dirga dan berlalu masuk ke rumah mommy Miya. Seperti biasa, di tangan Dirga balita itu langsung nangis kejer.


“Kak Retha jangan kayak gini lah. Gue mohon ampun.” Teriak Dirga sambil berjalan menyusul Retha ke dalam rumah. Namun pada akhirnya dia tetap kalah dan berakhir benar-benar mengasuh Zein bersama Sasa hingga sore.


“Kak jangan HP terus dong! Ambil bolanya, itu masuk ke kolong kursi.” Teriak Sasa.


“Ambil aja sendiri, Sa! Kakak lagi sibuk.” Dirga tak menggubris teriakan adiknya, dia terus berulang kali menelpon Kara.


Esok harinya Dirga sudah siap dengan seragam sekolahnya. Duduk di salah satu kursi dan sarapan bersama semua anggota keluarganya. Yang berbeda kali ini tak ada lagi anak putih biru di meja makan karena Sasa sudah menggenakan seragam SMA nya, gadis itu terlihat lebih dewasa dalam balutan pakaian putih abu.


Lain halnya dengan Sasa yang menikmati sarapanya dengan lahap, Dirga justru berulang kali melihat ke arah pintu ruang makan. Menunggu seseorang yang biasa berteriak pipipip calon mantu saat masuk dan langsung duduk di sampingnya sambil memamerkan senyum manis.


“Nungguin Kaleng yah, kak?” tanya Sasa. “Kaleng nggak bakal sarapan di sini lagi, kan udah bukan calon istri kakak lagi.” Imbuhnya.


“Aku berangkat dulu mom.” Pamit Dirga tanpa menggubris obrolan Sasa.


Dirga menghentikan motornya di depan rumah Kara dan masuk ke sana, ada Ridwan yang sedang mengenakan sepatu di teras.


“Nyari santen sachetan, bang?” tanya Ridwan dan Dirga mengangguk.


“Udah berangkat dia, ada yang jemput. Sasa udah selesai sarapan belum, bang?”


“Masih sarapan dia. Titip adek gue yah, Rid. Gue berangkat duluan.” Pamit Dirga.


Sampai sekolah seperti hari-hari sebelumnya, Dirga bersama anggota OSIS lainnya bertugas membantu guru BK di gerbang. Hari ini Kara tidak telat, dia datang bersama Tama. Persis seperti yang sudah Dirga kira.


Dirga menghampiri Tama dan Kara, kali ini dia tak marah-marah seperti dulu. Meski dalam hati kesalnya pada Tama benar-benar teramat sangat.


“Makasih udah nganterin calon istri gue, besok-besok nggak usah. Gue masih bisa anter jemput calon istri gue sendiri.”


“Mantan, Ga. inget mantan! Iya kan, Ra?” tanya Tama dan Kara hanya tersenyum canggung. “Karena lo udah nyia-nyiain dia selama ini, jadi mulai sekarang biarin gue buat jagain Kara.”


“Udah nggak usah dibahas, kita semua teman. Yuk ke lapang upacara udah bel tuh.” Sela Kara. “Oh iya Ga, mulai sekarang gue nggak akan pura-pura pingsan lagi.” Lanjutnya.


Selama upacara Dirga melihat Kara dari kejauhan, gadis itu tak terlihat jelas karena jarak yang memisahkan mereka ditambah lagi Dirga yang berbaris di belakang. Dan benar saja hingga upacara berakhir Kara tak berpura-pura sakit.


“Nggak gendong lo di hari senin rasanya aneh, Ra.” gumam Dirga.


Hingga jam istirahat tiba Dirga masih duduk di kelasnya, menatap bangku kosong di sampingnya. Kursi yang biasa di duduki Kara sambil menatap ke arahnya seraya berkata “Dirga... My Dirgantara... udah cinta belum sama Kara?” tapi mulai hari ini gadis itu tak mendatangi kelasnya lagi.


“Lo nggak dateng yah, Ra? padahal sekarang gue udah cinta sama Kara.” Gumamnya.