Always Loving U

Always Loving U
Lupa



“Aku ke bawah bentar yah? Mau ambil makanan. Kamu pasti belum makan kan? Habis ini makan terus minum obat.” Dirga mengusap sayang kepala gadis yang meringkuk sambil memeluk Dirdiran.


“Nggak mau ditinggal. Disini aja lah, perut aku sakit banget tau. Rasanya udah kayak baju yang di pe res sebelum di jemur. Mana kepala pusing banget, mendadak banyak kunang-kunang lo Yang. Tuh kan bling bling.” Kara menunjuk udara kosong dihadapannya, baginya banyak kunang-kunang di sana.


“Kunang-kunang? Ngaco! Kunang-kunang khayalan tuh gara-gara telat makan jadi kleyengan pusing terus berasa banyak kunang-kunang di depan mata.” Cerocos Jesi yang baru saja masuk sambil membawa nampan berisi makanan. Ada ekstra dua sendok di nampan itu.


“Makan dulu nih udah Mami ambilin. Tadi pagi juga nggak sarapan, di sekolah juga nggak makan yah?” Tebak Jesi.


“Tumbenan kamu tuh sampe pingsan beneran sayang? Biasanya juga Cuma pura-pura pingsan, lagian sekarang kan bukan hari senin. Mami sampe khawatir banget takut kamu kenapa-kenapa. Mami kira kalian udah mau ngasih cucu, ternyata Cuma masuk angin.”


Upps! Jesi menutup bibirnya sejenak.


“Mami lupa kalo Kara masih polos, jadi nggak mungkin lah dia hamil.” Lanjutnya sambil tergelak.


“Kamu yang sabar yah, Ga.” Jesi menepuk bahu Dirga “bentar lagi kan kalian lulus, bisalah Kara diajarin dikit-dikit, nyicil gitu. Soal Papi nggak usah di dengerin, Mami udah pengen cepet-cepet punya cucu. Udah gabut tiap hari nggak ada kerjaan, kalo kalian punya anak kan Mami jadi ada kerjaan, main sama anak kalian.”


“Kalian nih malah pada bengong. Dah lah Mami tinggal dulu, jangan lupa obantnya diminum. Udah Mami bawain sendok buat gerus obatnya tuh.” Jesi menunjuk dua sendok di nampan yang ia bawa sebelum pergi.


Dirga menghela nafas panjang kemudian menahan tawa seraya menggelengkan kepala. Antara lega bercampur dengan rasa bersalah. Kedua mertuanya selalu mengira putri kesayangan mereka masih polos, padahal udah dipolosin berkali-kali sampe ketar ketir takut hamil. Tak jarang Jesi yang paling mengira anaknya polos nggak ada obat, selalu memberikan wejangan pada Dirga supaya sabar menghadapi Kara.


“Yang, makan dulu terus minum obatnya.” Dirga menyuapi Kara dengan pelan.


“Rada cepet dong Yang nyuapinnya! Laper banget ini. Pakein sambelnya banyakan, kayaknya seger.” Kara menunjuk sambel tomat di pinggir piring.


“Perasaan tadi nggak naf su makan deh, kenapa sekarang kayak orang kelaperan?”


“Aslinya emang laper, Yang. Cuma dari kemaren aku nggak enak makan. Kepikiran takut hamil terus kamu dimarahin Papi. Lapernya sampe nggak kerasa, ngebanyangin kita diceramahin panjang lebar terus bisa-bisa dipisahin lagi gara-gara kamu ngelanggar janji. Serem.” Jelas Kara.


“Sama aku juga, Yang.” Jawab Dirga, ia ikut menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.


“Sama lapernya?”


“Sama semuanya lah. Ya laper, ya mikir. Kamu kira aku nggak pusing apa? Lebih-lebih tau Yang. Udah sekarang abisin makannya sendiri ya? Dikit lagi. Aku mau gerus obat kamu. Abis minum obat terus istirahat biar ilang pusingnya.” Ucap Dirga sambil memberikan piring yang tersisa sedikit isinya.


Dari meja belajar Dirga mengamati Kara yang sedang makan, wajahnya masih pucat tapi tetap terlihat cantik dimatanya. Dirga mengambil tiga buah obat dari dokter meletakannya di sendok, kemudian ia gerus menggunakan sendok yang satunya.


“Ya ampun nggak kebayang kalo gue punya anak sekarang-sekarang. Kara aja minum obat masih digerus kayak gini. Ntar saingan sama anak.” Batin Dirga.


Setelah memastikan obatnya halus, Dirga menambahkan sedikit air dan memberikannya pada Kara, “udah nih Yang, Aaa”


“Obatnya nggak ada yang sirup?”


“Nggak ada sayang. Udah minum ini.”


Kara menggeleng, “pait. Nggak mau.”


“Paitnya Cuma dikit. Habis itu langsung minum air madu. Nih udah disiapin juga sama Mami.”


“Lain kali obatnya minta yang rasa stroberi!” Protes Kara namun tetap mengambil sendok dari tangan Dirga dan menghabiskan obatnya.


Dirga memberikan air madu ditangannya yang langsung diteguk habis oleh Kara. “Tuh kan nggak pait. Bobo yah, semalaman kamu nggak bobo.”


“Temenin bobonya.” Rengek Kara. “sama kompresin perut juga, masih sakit.” Imbuhnya.


“Iya. Kalo gitu aku kebawah bentar ambil kompresannya.”


“Jangan lama.”


“Iya, sayang.”


Dirga kembali ke kamar dengan membawa bantalan kompres yang sudah ia isi dengan air hangat. Dirga naik ke ranjang dan merabahkan diri di samping Kara, dengan perlahan ia mengompres perut istrinya.


“Biasanya dikompres gini tuh kalo kamu lagi dapet Yang. Kok bisa sekarang belum dapet yah? Udah telat tiga hari loh.” Ucap Dirga, “Om kamu bener nggak yah meriksanya? Takutnya kamu beneran masuk bayi bukan masuk angin.”


“Yang...”


“Ya ampun udah merem aja ternyata. Ngantuk banget pasti yah semalaman nggak tidur?” Dirga mengusap sayang kening Kara.


Sudah satu jam Kara terlelap tapi Dirga masih terjaga di sisinya, sama halnya dengan Kara ia juga mengantuk tapi otaknya tak mau berenti berfikir membuat dia tak bisa terlelap. Jadwal merah yang belum juga dtang membuatnya tak tenang. Hingga akhirnya Dirga beranjak dan mengambil ponselnya, berseluncur ke mbah google.


Tidak datang bulan apakah hamil?


Penyebab telat datang bulan


Dan banyak lagi kata kunci yang ia ketikan disana. Hingga tiga puluh menit berlalu, baca sana sini akhirnya ia menangguk mengerti jika penyebab wanita telat datang bulan itu banyak. Bukan berati hamil, bisa karena stres, kelelahan, banyak pikiran bahkan pola tidur yang teratur, bisa juga dipengaruhi oleh makanan.


“Yang... Yang, beliin pembalut.” Sambil memegangi perutnya Kara membangunkan Dirga yang terlelap di sofa.


“Yang...” panggilnya lagi seraya mengguncang bahu Dirga lebih kencang.


“Hm... apa Yang? Kamu udah bangun?” ucapnya parau sambil mengerjapkan mata.


“Pembalutnya abis. Beliin.”


“Kamu dapet?” dan Kara mengangguk.


“Bentar aku cuci muka dulu terus beli ke depan, sekalian sama minuman wajibnya juga.” Balas Dirga. Dia menyepatkan mengecup kilas bibir Kara sebelum pergi ke kamar mandi.


“Mau nitip sama yang lainnya nggak? Biar aku beliin sekalian Yang. Cemilan mungkin?” tawarnya sebelum berlalu.


“Nggak pengen apa-apa, cepetan beli terus kompresin perut lagi.”


Baru saja keluar kamar Dirga hampir menubruk Sasa. “Kata Mami Kaleng sakit, Kak?” gadis yang masih berseragam itu mengintip ke dalam.


“Kebetulan lo disini.” Dirga mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang.


“Iya, Sasa baru pulang sama Ririd. Mau nebeng makan siang tapi kata Mami Kaleng sakit. Jadi mau liat Kaleng dulu.”


“Nggak apa-apa dia, biasa sakit perut bulanan. Nih beliin pembalut sama ki ran ti dua. Sisanya buat jajan lo.” Dirga memberikan uang pecahan lima puluh ribu, “kakak mau ngompres perut Kaleng. Sana otw ke indoapril depan, nggak pake lama!”


“Segini? Kurang dong Kak. Ongkirnya mana?” Sasa mengibaskan uang biru di tangannya.


“Elah ke depan doang minta ongkir. Itu kan masih ada sisanya.”


“Sisa sepuluh ribu doang Kak, mana cukup.”


“Nih...” Dirga memberikan satu lembar lagi. “buruan, nggak pake lama!”


“Siap laksanakan!” Jawab Sasa senang kemudian secepat kilat pergi dari hadapan Dirga. “Ririd anterin Sasa ke indoapril depan.” Teriaknya sambil menuruni tangga.


Sasa terengah-terangah masuk ke indoapril. Ia sedikit berlari tadi karena Ridwan yang tak mau mengantarnya malah memberikan kunci motor yang jelas-jelas tak bisa ia kendarai.


“Awas aja si Ririd, besok gue bilangin ke ceweknya kalo dia nembak Sasa. Biar rame mereka.” Sasa tertawa jahat membayangkan Ridwan dan pacarnya ribut. Mengingat pacar Ridwan itu sangat sensi dengan dirinya yang suka nebeng berangkat dan pulang sekolah.


Sasa berjalan ke arah showcase untuk mengambil minum sebelum membeli pesanan Dirga. Dirinya benar-banar merasa lelah hanya karena berlari dari komplek rumah hingga ke indoapril.


“Sabar yah Kaleng, Sasa minum dulu. Dehidrasi nih.” Gerutunya sambil mengikat rambut panjangnya asal. “gerah bener dah” Sasa mengambil air mineral dan meneguknya langsung.


“Haus, Neng?” ucap lelaki yang berdiri di sampingnya.


“Abang? Ya ampun jodoh emang nggak kemana.” Sasa langsung merapikan rambutnya. “Abang lagi ngapain disini? Itu beli buah banyak amat?” Sasa menunjuk isi keranjang Tama. “Titip ini sekalian deh.” Diletakannya air mineral yang sisa setengah botol.


“Bang, sekalian ini juga deh.” Sasa mengambil beberapa camilan.


“Udah sih jangan banyak-banyak. Gue tau nih ntar ujung-ujungnya lo nitip bayarin juga.” Ucap Tama.


“Padahal Sasa mau bayar sendiri loh. Tapi kalo Abang maksa mau bayarin ya udah deh Sasa ikhlas.” Tama hanya memutar bola matanya, jengah. Tapi sekesal-kesalnya dia pada Sasa tetap saja dituruti apa pun maunya.


Semetara itu di rumah Kara sudah misuh-misuh karena pesanannya tak juga datang.


“Bentar Yang aku telpon dulu si Sasa. Tadi udah dibilangin nggak pake lama padahal.” Ucap Dirga sambil berulang kali menghubungi nomor adiknya.