
Rama bersama Ardi memenuhi panggilan yang diterimanya melalui surat kemarin. Sekitar jam sepuluh siang keduanya tiba di sekolah. Satpam mengantarkan keduanya ke ruangan BP, namun guru yang berstatus janda itu justru terlihat tak enak hati dan membawa Rama dan Ardi ke ruang kepala sekolah.
“Mari Pak, saya antar ke ruang pak Kepala. Kebetulan ada sedikit kesalahan komunikasi karena kemarin saya memberikan surat panggilan kepada Dirga dan Lengkara tanpa sepengetahuan bapak kepala sekolah.” Jelasnya.
“Mari, Pak. Maaf saya jadi membuang waktu bapak karena harus ke sekolah. Saya tau bapak pasti sangat sibuk.”
“Tidak apa-apa, Bu. Sekalian saya silahturahmi saja ke sekolah, putri saya pasti sudah sangat merepotkan.”
“Tidak sama sekali, Pak. Lengkara anak yang baik.” Jawab bu Irma berdusta, yang penting dia tidak dipecat. Susah payah ia masuk untuk menjadi guru tetap di SMK Persada malah terancam angkat kaki gara-gara surat panggilan yang ia berikan kemarin.
Kaget bukan main bu Irma pagi tadi. Ia yang hendak mengajar jam pertama di kelas sepuluh justru di panggil ke ruang kepala. Hari ini ia memang berencana menghadap kepala sekolah untuk memberitahu jika dirinya memanggil wali Dirga dan Kara serta membahas masalah tersebut supaya saat wali murid tiba kepala sekolah sudah tau duduk permasalannya, karena untuk beberapa kasus yang mengharuskan melibatkan kepala sekolah dan tak biasa berakhir pada guru BP saja seperti kasus kenakalan yang masih bisa ditolerir. Namun alih-alih mendapat pujian karena berhasil mencoba bergerak cepat menanggapi masalah siswa yang menikah diam-diam ia malah kena semprot kepala sekolah bahkan sebelum ia menjelaskan duduk permasalahan Kara dan Dirga.
Bu Irma hanya bisa diam saat kepala sekolah sudah tau lebih dulu permasalahan Dirga dan Kara. bahkan pria berkumis itu tau betul jika anak didiknya sudah menikah tapi terlihat tenang-tenang saja dan malah menyalahkan dirinya karena berani menyentuh Kara dan Dirga. Pasalnya Kakek Dirga yang merupakan salah satu penyumbang donasi terbesar di SMK Persada sekaligus merangkap ketua komite sekolah sudah memberi kabar sejak lama jika cucunya akan menikah guna mencegah hal-hal yang tak diinginkan. Pria pemilik salah satu Bank Swasta itu pun menjelaskan jika pernikahan Dirga dan Kara hanya sebatas status saja dan mereka tinggal berpisah. Bahkan dirinya pun diundang untuk menghadiri ijab kabulnya tapi ia tak bisa hadir karena ada kepentingan yang lain.
“Selesaikan masalah ini tanpa menimbulkan keributan!”
“Ba-baik Pak.” Jawab bu Irma gugup, “tapi bagaimana dengan siswa yang melapor? Dia datang dengan bukti yang tidak bisa disangkal Pak?”
“Deva Thalita?”
“Ya, Pak. Dia anak yang cerdas, tidak akan mudah mengatasinya. Apa dia akan dikeluarkan karena membuat masalah ini?”
“Cukup jaga supaya anak itu tak bicara macam-macam. Dia juga anak yang dititipkan kakeknya Dirga. Semua biaya sekolahnya dicover dari beasiswa.” Jelas kepala sekolah. “Bu Irma, peraturan memang ada untuk ditegakna namun kadang semua tak bisa berjalan sesuai aturan yang ada. Mungkin ini tak adil bagi siswa lain, saya tau betul jika siswa yang melanggar aturan tertentu harus dikeluarkan. Tapi Dirga dan Kara hanya menikah sebatas status dan saya rasa bu Irma juga tau jika ada beberapa hal yang tak bisa kita selesaikan hanya karena aturan. Selain itu mengeluarkan siswa di detik-detik terakhir seperti tak mudah, data pokok mereka sudah masuk ke pusat, otomatis tak bisa mengeluarkan kelas dua belas. Jika pun dikeluarkan sepihak jumlah siswa peserta ujian sekolah tak bisa diubah, otomatis Dirga dan Kara akan masuk ke daftar siswa tidak lulus. Dan anda tentu tau jika sejak dulu sekolah kita terkenal karena prestasi dan tingkat kelulusan seratus persen. Adanya siswa tak lulus akan mencoreng nama baik.”
Setelah mengantar Rama dan Ardi ke ruang kepala, bu Irma tak banyak bicara. Dia justru meminta maaf karena sudah lancang menyentuh Kara dan Dirga. Sisanya mereka hanya mengobrol santai tentang perkembangan anak-anak mereka. Rama dan Ardi tak memperpanjang masalah tersebut, mereka justu berniat menjamin kerja sama dengan sekolah sebagai timbal balik karena mau memaklumi pernikahan diam-diam anak mereka. Rama dan Ardi sepakat akan menandatangi MoU untuk kerjasama Praktek kerja lapangan maupun penempatan kerja untuk alumni yang kompeten, hal itu tentu disambut antusias oleh pihak sekolah. Bisa bergabung dengan dua perusahaan besar akan membuat nama sekolah mereka makin melambung.
Bu Irma bersama kepala sekolah, Rama dan Ardi keluar dari ruangan saat mendengar kegaduhan di depan. Kumpulan siswa sedang melihat foto yang dipamerkan Deva, Bu Irma segera mengambil ponsel Deva dan membubarkan mereka semua. Tak lupa ia juga memberitahu siswa-siswanya jika soal pernikahan tersebut hanya salah paham. Hasil iseng-iseng Kara yang mengedit fotonya jadi pengantin yang tentu langsung dipercayai oleh para siswa mengingat betapa gilanya Kara yang mengejar Dirga sejak dulu.
“Editan? Bu, jelas-jelas kemarin aku udah ngasih-“
“Stop Deva! Masalah ini udah selesai.”
“Tapi bu...”
“Kamu ikut ibu ke ruangan!” Bu Irma menarik paksa Deva yang masih terus protes. “Saya permisi Pak.” Pamit bu Irma sebelum pergi.
“Awas aja lo, Ra!” Deva masih sempat mengancam Kara saat melewatinya.
“Sabun cuci piring dasar!” imbuh Dila.
“Sudah-sudah tidak baik saling ejek sesama teman. Kalian kembali ke kelas masing-masing.” Ucap Pak Kepala.
Setelah masalahnya selesai Kara kembali ceria seperti biasanya, hanya saja sekarang ia gampang baper dan nangis jika keinginannya tak dituruti, sore tadi saja ia rebutan es krim stroberi yang dipamerkan Sasa, biasalah katanya dibeliin si Abang. Sampe Dirga harus merogoh kocek dua ratus ribu demi mendapatkan es krim Sasa karena istrinya memaksa mau es krim yang sudah setengahnya di makan Sasa, dan sialnya si adik merangkap kang malak itu justru memanfaatkan keadaan. Pinter banget kan si gurih es krim gocengan jadi dua ratus ribu.
“Mau es krim lagi nggak?” tawar Dirga sebelum mereka naik ke kamar setelah makan malam. Selepas mahgrib tadi Dirga pergi ke indoapril depan komplek untuk membeli es krim, karena Kara terlihat sangat menyukai es krim sore tadi. Akhir-akhir ini cuacanya memang sedang panas, jadi bagi Dirga wajar jika istrinya ingin makan yang dingin-dingin segar.
Kara menggeleng, “nggak mau. Pengen disayang-sayang aja.” Jawabnya.
“Pi, Mi, Kara ke kamar dulu yah. Biasalah sayang-sayangan dulu sebelum bobo.”
“Ya sana sayang-sayangan sampe pagi.” Jawab Rama yang masih mengira sayang-sayangan versi elus-elus pipi.
“Siap, Pi. Makasih buat yang tadi yah, Pi. Kalo nggak ada Papi sama daddy pasti kita udah kena DO.” Kara mencium pipi Rama. “Papi the best.”
“Dasar!” Rama mengacak gemas kepala putrinya, “bilang makasih ke Kakek Bayu, beliau yang nyelesein masalah kalian. Papi sama daddy cuma ngasih finishing dikit.”
“Siap. Besok kita main ke rumah kakek, Pi. Kalo kakek udah pulang dari Singapura nya.” Ucap Kara kemudian berlalu pergi ke kamar.
Tiba di kamar Kara langsung merebahkan diri di ranjang. Ia memeluk Dirdiran sebentar kemudian meletakan boneka jumbo itu di ujung ranjang.
“Yang, sayang-sayang sekarang. Elus-elus perut aku nih, berasa penuh banget ini.”
“Bentar Yang, aku ke kamar mandi dulu. Enek banget ini rasanya, salah makan kayaknya.” Jawab Dirga yang berlalu ke kamar mandi.
Mendengar suara muntah-muntah membuat Kara beranjak dan menyusul ke kamar mandi. “Yang kamu kenapa?”
Belum sempat menjawab, Dirga kembali muntah. Membuat Kara jadi panik.
“Kamu mabok, Yang?” Tebak Kara, "maksud aku masuk angin, Yang." ralatnya.
“Bentar Yang, aku minta obat dulu ke Mami.” Buru-buru Kara keluar dari kamar mencari Mami nya.
“Mi... Mami dimana? Dirga mabok, Mi. Dia muntah-muntah.” Teriaknya.