Always Loving U

Always Loving U
Apes



“Biarin aja sih, Ra.” Ucap Dila sambil membereskan peralatan belajarnya. Memasukan pensil, pulpen, penghapus dan kalkulator ke dalam wadah pensil kemudian memasukannya ke dalam tas.


“Hadeh Dil, itu jawaban gue... ya ampun.” Kara menepuk keningnya sendiri.


“Emang kenapa jawaban lo? Belum selesai?” tanya Dila. “tenang aja kalo pun belum selesai juga tetep dapat nilai kok. terus juga kalo cuma salah satu masih dapat nilai delapan puluh, Ra.” Jelasnya.


“Hish! Bukan itu Dil!”


“Lah terus kenapa?” keduanya masih terus ngobrol meski ketua kelas sudah memberi perintah untuk berdiri dan menyanyikan lagu nasional sebelum berdo’a dan pulang. Menyanyikan lagu nasional di SMK Persada merupakan salah satu pembentukan karakter cinta tanah air dan menumbuhkan jiwa nasionalisme. Setiap pagi sebelum memulai pembelajaran diwajibkan berdo’a dan menyanyikan lagu indonesia raya sedang untuk pulangnya boleh memilih salah satu lagu wajib nasional lainnya seperti halo-halo bandung, satu nusa satu bangsa dan sebagainya.


“Tau ah! Satu bahasa kita... tanah air pasti jaya... untuk selama-lamanya.” Kara langsung nyambung ke lagu yang sudah dinyanyikan teman sekelasnya.


Setelah selesai menyanyikan lagu nasional, dilanjut dengan do’a dan salam. Berikutnya siswa siswi menyalami gurunya sebelum keluar kelas. Seperti biasa Kara dan Dila keluar paling akhir karena posisi kursi mereka yang berada di belakang. Katanya sih males kalo duduk di depan nggak bisa santai, di belakang lebih santai karena jauh dari meja guru meskipun pada akhirnya mereka lebih sering kena tegur guru karena tak jarang asik sendiri saat jam pelajaran berlangsung.


Saat keduanya ke luar, di depan kelas sudah ada Selvia yang menunggu dengan bersandar di salah satu tiang teras kelas.


“PJ, Ra!” ucapnya begitu melihat Kara dan Dila.


“Iya-iya ayo!” balas Kara. “Ke cafe mommy kan?”


Selvia mengangguk. “Iya. Anak-anak juga udah gue kasih tau kok. Mereka udah otw duluan.”


“Anak-anak siapa?”


“Ya anak-anak yang tadi ada di kantin lah, Ra. Yang jadi saksi kalian jadian, so wajib dapat PJ.” Jawab Selvia.


“Ish gila lo! Sebanyak itu? Oke fix abis makan kita buruh cuci piring di sana.” Ucap Kara.


“Nggak bakal lah, Ra. Biasanya juga kalo kita makan nggak pernah boleh bayar.” Sambung Dila.


“Nah iya bener tuh.” Timpal Selvia.


“Itu kan kalo yang makan cuma kita bertiga, kalo anak-anak yang tadi lo giring ke sana semua bisa rugi calon mertua gue.” Ucap Kara.


“Elah rugi sehari nggak apa-apa kali, Ra. Lagian nih yah menurut gue, kalo mami Jesi sama calon mertua lo tau kalian udah lopelope, gue rasa satu sekolah minta PJ pun bakal di turutin dengan senang hati.” Ujar Selvia.


“Ih tapi kan...” Kara tak meneruskan kalimatnya dan mengambil ponselnya yang bergetar disaku.


“Dirga?” ucapnya begitu melihat panggilan masuk dari kontak bernama My Dirgantara. “ntar gue ganti jadi calon suami deh namanya.” Gumam lirih seraya menggeser ikon telepon berwarna hijau.


“Iya... oke... siap meluncur ke parkiran sekarang juga.” Ucapnya dengan senyum yang semakin mengembang.


“Gue ke parkiran dulu, calon suami udah nunggu disana.” Pamitnya pada Dila dan Selvia. Kedua temannya itu langsung menarik tas Kara hingga gadis itu berhenti dan berbalik pada mereka. “Apaan sih? Nggak tau apa kalo gue lagi seneng banget mau pulang bareng Dirga. Gue berasa mimpi tau!” lanjutnya dengan wajah merona. Entah apa yang ada dipikiran Kara hingga wajahnya begitu merona.


“Iya, kita juga tau lo lagi seneng pake banget. Tapi kalo mau ke parkiran yah bareng aja, toh kita juga mau kesana. Ya kan, Dil?” ucap Selvia.


“Yoha... giliran seneng-seneng aja lupa sama temen.” Jawab Dila.


“Ih Diloooot! Gitu aja ngambek.” Kara mencubit pipi Dila. “bukannya lupa, tapi kan kita mau ke cafe mommy. Ntar juga ketemu di sana.” Kara berdiri di tengah dan menggandeng tangan Dila juga Selvia, ketiganya berjalan beriringan menuju parkiran.


“Ngapain tuh sabun batangan deket-deket sama calon suami gue?” kesal Kara saat tiba di parkiran justru disuguhi pemandangan Deva yang entah sedang membahas apa dengan Dirga.


“Kita samperin guys!” Kara membawa Dila dan Selvia menghampiri Dirga.


“Sayang, kita pulang sekarang?” ucapnya dengan keras, tentu supaya Deva tau kalo Dirga itu miliknya. Kara langsung menggaet tangan kanan Dirga dan menyandarkan kepalanya di tubuh tinggi itu. Deva hanya menatapnya dengan masam, seolah ilfeel dengan sikap Kara yang begitu manja.


“Iri?” ejek Kara. “Iya pasti iri lah, masa nggak!” lanjutnya.


Deva menanggapinya dengan senyum ilfeel. “Ya udah kalo hari ini lo nggak bisa gue kesana sama Icha aja, Ga.”


“Iya gih sono jauh-jauh dari calon suami gue.” Ucap Kara.


“Yee... bilang aja iri.” Teriak Kara karena gadis itu sudah menjauh. “Emang tadinya mau pergi sama Deva, Ga?” tanyanya pada Dirga yang sedang melepas jaket.


“Pake di jalan panas.” Dirga memakaikan jaketnya pada Kara. “tapi helm nya cuma satu, nanti kita mampir beli helm dulu deh.” Lanjutnya.


“Ih jawab dulu, Ga! Emang tadinya mau pergi sama Deva?”


“Iya tapi nggak jadi. Mau jalan sama calon istri aja.” Jawab Dirga.


“Emang tadinya mau kemana sama Deva? Awas aja kalo deket-deket sama Deva. Gue nggak ngasih izin!” ucapnya menirukan bagaimana Dirga berbicara.


“Gue nggak ngasih izin!” ucap Dirga, “kurang tegas lo tuh ngomongnya.” Ledeknya kemudian.


“Tau ah sebel. Lagi serius malah becanda!”ucap Kara dengan cemberut.


“Dah lah gue sama Dila berangkat duluan. Lama-lama bisa muntah liat tingkah kalian berdua.” Ucap Selvia seraya menarik Dila.


“Ya, sana duluan aja. Pesen aja apa yang di pengen, bebas.” Ucap Dirga. Selvia menjawabnya dengan acungan jempol.


Dirga kembali beralih pada gadis yang justru komat kamit menirukan ucapannya. “ya, sana duluan aja. Pesen apa yang dipengen, bebas.”


“Ngambek?”


“Nggak!” ketus Kara.


“Yakin?”


“Nggak!”


“Tapi kata Sasa kalo cewek bilang nggak artinya iya.” Ucap Dirga. “Sini-sini liat abang sini... kenapa sih dedek Kara ini?” Dirga menangkup kedua pipi Kara dan menjewelnya pelan. “Lo ngegemesin banget tau Ra kalo lagi cemberut gini. Makanya gue seneng bikin lo kesel. Cemberut lo tuh lucu.” Lanjutnya.


“Nggak usah pengalihan isu deh!” Kara menyingkirkan tangan Dirga dari wajahnya, “lo belum jawab yang tadi.”


“Yang mana?”


“Mau pergi kemana sama Deva?”


“Nggak kemana-mana, kan jadinya pergi sama lo.” Jawab Dirga. “Gue nggak akan pergi kemana pun tanpa izin dari lo, Ra.”


“Ayo naik! Kasian anak-anak pasti udah pada nunggu di cafe.” Ucap Dirga.


Kara sudah duduk menyamping di jok belakang, tasnya ia gunakan untuk menutup roknya yang sedikit terangkat. “udah.”


“Pegangan!” Dirga menarik tangan Kara yang hanya memegang ujung seragamnya dan melingkarkannya ke perut. “biasanya aja cari-cari kesempatan biar bisa meluk. Sekarang so jaga image nih ceritanya?” ledek Dirga.


“Bukan gitu, Ga. Kalo duduknya kayak gini susah tau pegangannya. Mana harus megangin tas juga.”


“Ya udah besok ke sekolah pake mobil aja deh.”


“Nah boleh itu. Kan sayang punya supra dianggurin.” Balas Kara, “eh tapi nggak mau pake mobil yang itu lah. Kursi gue kemarin di dudukin Deva kan?” Kara sampai memukul pundak Dirga karena kesal mengingat kejadian di parkiran beberapa hari lalu.


“Ntar gue beli mobil baru kalo gitu. Lo mau nya mobil apa hm?”


“Naik motor aja deh, Ga. Nggak usah ganti mobil, kalo pake mobil nggak bisa meluk. Nggak uwuw.” Balas Kara.


“Dasar!” Dirga menoleh dan mencubit pipi Kara sebelum melajukan motornya. Lagi-lagi Kara tak bisa memeluk Dirga dari belakang tapi ia cukup bahagia karena bisa bersandar di punggung lelaki yang belum dua puluh empat jam mengakuinya sebagai calon istri.


Lain halnya dengan Kara dan Dirga yang sedang merasa dunia milik pribadi, Tama justru sedang duduk di depan salah satu indoapril. Dia berulang kali memijit kening mendengar gadis yang duduk di sampingnya terus ngoceh tanpa henti setelah minta dibelikan es krim yang bungkusnya ada gambar boneka unyu. Katanya sih kolaborasi pabrik es krim sama bities. “Apes bener dah. Di sekolah dibikin ngenes sama abangnya, eh sekarang gue malah nongkrong bareng adeknya.” Gumam Tama.