
Heko besteh bestehku tersayang... maafkan nggak jadi double up kemaren, asli udha ku ketik sebagian tapi gara-gara ada yang ngajak munggahan ya udah ku pending dulu nulisnya. cus lanjut lah...
.
.
.
.
"Makasih, Jes. Jujur sebelumnya aku sempet was-was buat balik ke Bandung, tapi di Surabaya kepikiran kamu terus, pengen balas jasa buat semua kebaikan kamu. Jadi aku kirim deh Tama ke sekolah Kara buat jagain dia. Eh taunya udah telat, kayaknya Kara nggak tertarik sama Tama. Padahal di Surabaya cewek-cewek pada rebutan.”
“Kayak bapaknya yah jadi rebutan cewek-cewek.” Cibir Jesi.
“Iya begitulah. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.”
“Semoga kelakuannya nggak sama yah.”
“Ya jelas nggak lah, Jes. Biar pun suka ganti-ganti cewek tapi dia nggak pernah selingkuh. Putus dulu baru ganti yang baru. Dijamin nggak kayak kak Zidan deh.” Jawab Raya. “minat nggak besanan sama aku, Jes?” ledeknya kemudian.
“Nggak lah. Nggak denger apa tadi Kara bilang udah punya calon mertua? Gila aja aku besanan sama mantan. Ogah!”
“Bercanda, Jes. Bisa ngobrol kayak gini sama kamu berasa mimpi, Jes. Aku ikut seneng liat anak kamu bahagia. Meskipun tadinya ngarep kita bisa besanan tapi nggak apa-apa lah asal kamu udah nggak marah sama aku aja udah seneng banget.”
“Ya aku juga seneng, Ray.” Jawab Jesi.
“Peluk boleh nggak sih, Jes?”
“Why not? Peluk sini.” Jesi tersenyum dan memeluk Raya lebih dulu.
Raya memeluk erat Jesi, air matanya menetes antara sedih campur bahagia bisa memeluk sahabatnya kembali. Sahabat yang pernah ia sakiti begitu dalam akibat kesalapahaman bisnis di masa lalu. “Maafin aku, Jes...”
“Nggak usah minta maaf terus, Ray. Aku udah maafin sejak lama.” Jesi menepuk pelan punggung Raya, wanita itu makin terisak dipelukannya.
“Ma, ayo pulang...” seru Tama yang sedikit berlari ke meja Jesi karena terus di kejar-kejar Sasa. Dia mendadak berhenti sesaat sebelum sampai ke meja Jesi hingga Sasa yang mengejarnya menabrak punggungnya.
“Aduh! Abang kalo ngerem jangan dadakan dong! Sakit nih.” Sasa mengusap keningnya. Tama tak peduli dan beranjak menghampiri mamanya yang terisak di pelukan Jesi.
“Mama kenapa?” ucapnya seraya memegang bahu sang mama hingga pelukan keduanya terlepas.
Raya buru-buru menghapus air matanya, “mama nggak apa-apa.”
“Tapi mama nangis”
“Nggak apa-apa mama nangis karena seneng kok, bisa ketemu lagi sama temen lama.” Jawab Raya.
“Seneng juga karena bisa ketemu calon mantu seperti Sasa yah, Tan?” ucap Sasa yang ikut nimbrung. Mendengar ocehan Sasa membuat Raya tersenyum.
“Tuh kan seneng tante nya ketemu Sasa.” Lanjutnya.
“Lo diem deh, bocil! Nyambung mulu.” Gertak Tama. “balik ke abang loh gih! Liat noh mata abang lo udah mau keluar melototin gue!”
“Jauh-jauh deh! Males gue urusan sama kakak lo.”
“Ya udah deh Sasa gandeng calon mertua aja.” Sasa beralih memegang lengan Kiri Raya dengan manja. Gadis itu bahkan terus menempel pada Raya hingga dia berpamitan untuk pulang.
“Lo mau kemana, Sa?” Dirga menarik kerah baju adiknya saat gadis itu hendak ikut masuk ke mobil Tama.
“Mau nebeng pulang lah.” Jawabnya enteng.
“Pulang bareng Mommy. Jangan kecentilan!” gertak Dirga, dia sampe lelah dari tadi terus menggertak adiknya tapi yang digertak nggak ada takut-takutnya sama sekali.
“Tante, titip calon suami aku yah.” Ucapnya saat Raya melambaikan tangan padanya, “Kak Dirga nggak asik!” lanjutnya pada Dirga sambil manyun dan berlalu ke mobil mommy nya.
Mobil yang ditumpangi Sasa sudah berlalu lebih dulu, di susul oleh Rama dan Jesi juga Ridwan. “selesai masukin kado langsung pulang! Jangan aneh-aneh” Ucap Rama pada Dirga yang sedang memasukan tumpukan kado Kara ke dalam mobilnya.
“Siap, Pi.” Jawab Dirga.
“Ya. Papi tunggu di rumah. Hati-hati di jalannya.”
“Siap.” Balas Dirga lagi.
Dirga menutup bagasinya setelah semua kado Kara berhasil ia masukan. Tak hanya bagasi bahkan kursi penumpang di belakang pun penuh oleh Kado ulang tahun calon istrinya.
“Ga, tadi kan kata lo mau di belakang. Sekarang aja yuk kan udah aman, papi nggak ada.” Kara menagih ciuman yang di pending tadi.
“Pulang aja, Ra. Tadi Papi bilang nggak boleh macem-macem. Terus lo liat deh tuh!” Dirga menunjuk CCTV yang terpasang di depan cafe.
“Kesel deh! Pengen gue lempar batu itu CCTV biar rusak!” gerutu Kara kemudian masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan Kara terus cemberut karena gagal dapat first kiss di sweet seventeen nya. Besok kalo masuk sekolah bisa-bisa diejek habis-habisan sama Selvia karena gagal first kiss. Secara kata Selvia yang sudah pakarnya pacaran, sweet seventeen nggak asik kalo nggak dapat ciuman dari orang yang kita cinta. Entah lah ajaran sesat dari mana yang diambil Selvia, yang jelas Kara juga ingin mencobanya. Mengingat teman-teman di sekolah yang selalu heboh kalo membahas soal ciuman. Katanya sih rasanya luar biasa bikin jantung jeda jedug juga.
“Sampe...”Dirga memberhentikan mobilnya di depan gerbang rumah Kara. “Kenapa sih cemberut terus hm?”
Cukup lama mereka di dalam mobil hanya saling diam. Dirga jadi bingung sendiri melihat Kara yang mendiamkannya sejak tadi padahal seingatnya dia tak melakukan kesalahan apa pun “Ra...” panggilnya lirih.
“Hm?”
“Kenapa diem terus? Masih mau nagih yang tadi?” Dirga mendekatkan wajahnya pada Kara dan menangkup kedua pipi gadis itu.
“Love you, Lengkara Ayudhia” ucapnya kemudian mencium bibir mungil Kara. Keduanya saling tatap dalam diam saat bibir mereka bersentuhan. Beberapa detik kemudian Kara memejamkan matanya saat ciuman Dirga menuntut lebih dalam. Namun ketukan berulang kali pada kaca di belakang Dirga membuat dia buru-buru melepaskan ciumannya, panik.
“Mam pus gue!” batinnya saat melihat sosok yang mengetuk kaca mobilnya.
.
.
.
udah senin lagi nih, jadwalnya nonton bisnis proposal. eh salah jadwalnya vote. pokoknya jangan lupa vote nya buat Kaleng sama Dirdiran😘😘😘