
Papi Rama hanya menghela nafas panjang dari balik helm full face yang ia kenakan, pria ber jas rapi itu sama sekali tak membuka helm nya. Niatnya hanya membiarkan putrinya turun kemudian kembali melanjutkan perjalanan ke kantor, namun siapa sangka si gemoy kesayangannya yang sekarang sudah tak gemoy lagi melainkan lebih sering menguras emosi justru terus nyerocos tanpa henti.
“Papi denger Kara ngomong nggak sih?”
“Iya iya papi denger. Udah sana masuk.” Ucap Rama.
“Jadi kapan nikahnya, Pi?”
“Ya nanti kalo Dirga udah ngelamar kamu!”
“Kelamaan lah, Pi. Gimana kalo kita yang ngelamar Dirga duluan?”
Lagi-lagi Rama menghela nafas dalam-dalam, tak habis pikir tanpa putrinya begitu tergila-gila pada tetangga depan rumah itu.
“Wih Kara... jadi sugar baby lo sekarang?” belum selesai ia dengan putrinya, dua orang gadis yang seusia dengan Kara menghampirinya, “katanya cinta mati sama Dirga kenapa berangkat sama Om Om sih?” lanjutnya
“Tapi ini motor kayaknya gue kenal deh?” sambung Dila.
“Motor Dirga, Dil.” Jawab Kara.
“Terus dia?” Dila menunjuk papi Rama.
“Papi gue lah.” balas Kara.
“Om Rama?” tanya Selvia.
“Iya.” Jawab Kara.
“Tumben papi lo pake motor? Terus Dirga gimana?” tanya Selvia.
“Ntar gue cerita deh. Udah sana lo berdua masuk dulu. Ntar gue nyusul, masih ada urusan sama papi.” Usir Kara.
“Ya udah deh, kita duluan. Lo jangan kelamaan bentar lagi bel.” Ucap Dila. Keduanya kemudian masuk lebih dlu setelah menyapa ayah dari sahabatnya.
“Sana masuk! Papi juga mau lanjut ke kantor.”
“Tapi kan urusan yang tadi belum beres, Pi.”
“Urusan yang mana lagi?”
“Yang Dirga lah, pi. Emangnya papi nggak mau anaknya jadi juara umum satu sekolah?”
“Kalo mau jadi juara umum yah belajar yang bener bukan malah minta nikah. Kamu kira nikah mudah? Udah lah papi mau ke kantor, sana masuk liat tuh yang lain udah pada mulai lari.” Papi Rama menunjuk beberapa siswa yang berlarian masuk dan mengulurkan tangannya sebelum kembali melajukan motor Dirga. Ia tau betul jika dilayani ocehan putrinya itu tak kan ada habisnya, dia benar-benar salinan sang istri.
Kara berjalan menuju gerbang setelah papi nya melesat jauh meninggalkan lingkungan sekolah.
“Pagi bu Irma...” sapanya begitu melewati guru BK seraya menyalaminya.
“Pagi juga Lengkara. Wah luar biasa hari ini kamu nggak kesiangan lagi.” Ucap Bu Irma, “meskipun nyaris kesiangan sih. Dua menit lagi.” Lanjutnya.
“Nggak lah bu, kan hari ini aku dianterin papi.” Jawab Kara, dia melihat ke jajaran anak OSIS yang mulai menahan anak-anak yang datang terlambat.
“Justru itu yang mau ibu tanyain ke kamu. Biasanya kamu paling tau soal dia, kenapa jam segini belum kelihatan. Dia tidak biasanya telat.”
“Oh jadi dia belum sampe yah.” Ucap Kara lirih, dia menganggukkan kepala berulang kali.
“Kayaknya Dirga kena macet bu. Sebagai gantinya biar Kara yang bantuin ibu menghukum anak-anak yang telat gimana?” tawar Kara.
“Nggak perlu bu, nggak ada Dirga pun aku masi bisa nanganin kok bu.” Sambung Deeva yang datang dengan membawa tisu basah di tangan kanannya. “lagian Lengkara kan bukan pengurus OSIS bu.” Lanjutnya.
“Main nyambung aja. Gue nanya ke bu Irma kali bukan ke lo.” Sindir Kara “lagian gue cuma mau bantu aja. Selama ini kan gue selalu bikin bu Irma susah karena kesiangan mulu. Berhubung sekarang udah tobat kesiangannya jadi mau berterimakasih aja gitu bantu-bantu bu Irma. Boleh kan bu?” lanjutnya meminta izin.
“Deeva, kamu urus anak-anak yang pake make up aja. Biar ibu sama Kara yang ngurus anak kesiangan.” Ucap bu Irma.
“Baik bu.” Deeva menurut, dia berjalan menghampiri beberapa siswi yang mengenakan make up berlebih dan menghapusnya. Sementara bu Irma dan Lengkara berjalan lebih dekat ke gerbang untuk menahan anak-anak yan baru datang.
“Nanti kamu catat nama siswa yang datang terlambat dan pastikan mereka melakukan hukumannya.” Ucap bu Irma.
“Siap bu.” Kara melakukan tugasnya dengan baik, hanya mencatat nama siswa dan ikut melihat barisan anak yang datang terlambat terkena semprot bu Irma benar-benar menyenangkan, padahal biasanya dia yang berada di posisi itu.
“Ibu senang kamu udah nggak kesiangan lagi. Pertahankan yah, jangan sampe telat lagi.” Bu Irma menepuk bahu Kara.
“Siap bu.” Balas Kara.
Anak yang datang terlambat itu di beri hukuman yang bervariatif dari mulai menyapu halaman hingga menyambut rumput. Kara membantu bu Irma memastikan siswa yang terlambat benar-benar melakukan hukumannya karena jika tak begitu kebanyakan dari mereka hanya berjongkok sambil pura-pura mencabuti rumput padahal hanya saling ngobrol belaka. “yang bener nyabutinnya dong. Ngobrol mulu.” Ucap Kara pada beberapa siswa, perhatiannya teralihkan saat melihat dua lelaki yang sangat ia kenali keluar dari mobil dan berdiri di depan bu Irma.
“Ya ampun coba kita lihat siapa yang telat nih? Oh My God, ketos kita nih.” Ucapnya heboh begitu tiba di samping bu Irma.
“Cie ketos telat cie...” ledeknya seraya melirik Dirga, “hukum nyapuin daun mangga bu.” Lanjutnya.
“Ya sudah kalian berdua sapuin daun mangga aja sana.” ucap Bu Irma.
“Tapi bu...”
“Nggak ada tapi tapian, Dirga. Ibu benar-benar kecewa kenapa sebagai ketua OSIS kamu tidak bisa memberi contoh pada yang lainnya malah datang terlambat. Besok-besok jangan diulangi lagi, meskipun sebentar lagi masa jabatan kamu berakhir bukan berarti kamu bisa seenaknya.” Jelas bu Irma. “Kara, beri mereka berdua sapu dan pastikan mereka menyapu daun mangga sampe bersih.” Lanjutnya.
“Siap, bu.” Balas Kara.
“Bentar gue catat dulu nama kalian. Finaly nama Dirgantara ada di daftar pelanggar tata tertib sekolah.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Yuk ikut gue. Gue ambilin sapunya.” Lanjutnya.
“Dengan senang hati calon pacar. Asal sama lo, gue disuruh ngapain aja nggak masalah.” Ucap Tama.
“Masa sih? Kalo hukumannya gue ganti jadi bersihin toilet gimana?” tanya Kara.
“Nggak masalah, asal jangan dihukum suruh bersihin nama lo dari hati gue aja.” Balas Tama.
Dirga mengepalkan kedua tangannya menahan emosi, sejak kedatangan Tama pagi tadi benar-benar membuat moodnya rusak. Dan sekarang dia justru terang-terangan berani menggoda Kara di depan matanya.