Always Loving U

Always Loving U
Ayang



Karena Kara yang tak juga datang di istirahat pertama membuat Dirga ketar-ketir dan berakibat fokusnya saat pelajaran menjadi buyar. Jika bukan karena otaknya yang di atas rata-rata sudah dipastikan ia akan menjadi sasaran ejekan teman-temannya karena tak bisa menjawab pertanyaan dari guru. Seperti biasa guru selalu bisa menangkap siswa yang tatapan kosong, melihat ke depan tapi jiwanya entah traveling kemana. Sama, seperti yang dilakukan Dirga saat ini.


“Izin ke toilet sebentar pak.” Dirga mengangkat tangan dan segera meninggalkan kelas setelah mendapat persetujuan dari guru matematika.


Toilet hanya jadi alasan, nyatanya pemuda itu justru berjalan ke kelas Kara dan melihat sekilas ke dalam sana. Bukan rasa lega yang ia dapatkan setelah melihat Kara, hatinya kian kesal karena tetangganya itu duduk dengan Tama. Ah kenapa bisa sampe lupa jika lelaki itu sekelas dengan Kara membuat Dirga seketika ingin pindah jurusan. Andai saja bisa, tapi nyatanya hal itu mustahil mengingat mereka ada ditingkat akhir. Dirga tak habis pikir juga dengan Selvia dan Dila yang terlihat berusaha mendekatkan Kara dengan Tama padahal mereka jelas-jelas tau Kara begitu mencintainya.


“Udah tau temen lo bucin sama gue, malah di deketin sama buaya darat.” Batin Dirga seraya menjauh dari kelas Kara.


Tiba di kelas seperti sebelumnya tatapannya kosong, otaknya masih memikirkan Kara, Kara dan Kara. Melihat Tama begitu dekat dengan Kara benar-benar mengusik ketenangannya. Dirga mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Kara.


^^^"Istirahat ke dua gue tunggu di kantin!"^^^


“Mau nagih halalin yah?”


“Mau yang cup jumbo apa sedeng aja?”


“Mau pake topping ekstra boba nggak?”


Dirga hanya menghela nafas dalam membaca pesan balasan dari Kara dan memasukan kembali ponselnya ke dalam saku.


Saat jam istirahat kedua tiba, Dirga sudah lebih dulu ke kantin dan memesankan Bakso serta jus jeruk untuk gadis itu. Dirga berdiri dan melambaikan tangannya ketika melihat Kara memasuki area kantin. Gadis yang datang bersama kedua sahabatnya itu balas tersenyum pada Dirga tapi senyuman itu langsung hiang saat melihat Deva yang lebih dulu berjalan dan menghampiri meja Dirga.


“Nggak nyangka sampe lambai tangan ke gue segala.” Ucap Deva yang baru saja duduk.


“Bakso sama jus jeruknya buat gue juga?” Deva menunjuk mangkuk bakso dan jus di meja itu.


“Pasti mau sekalian bahas cara ngebujuk Sinta supaya sekolah lagi kan? Soalnya kata bu Dini sampe sekarang dia masih belum masuk.” Deva hendak mengambil sendok untuk mengaduk baksonya namun buru-buru Dirga menjauhkan mangkuk itu.


“Sorry tapi ini bukan buat lo, Dev.” Ucapnya.


“Terus?” Dirga menengok ke sekitar mereka, hanya ada Kara CS yang duduk meja sebelah mereka.


“Buat Kara.” Jawab Dirga, “duduk sini, Ra!” Dirga menepuk kursi di sebelahnya.


“Sorry... gue tadi lambai tangan ke Kara yang bediri di belakang lo, Dev.” Lanjutnya pada Deva.


“Its oke, Ga. Gue cabut kalo gitu, jangan lupa nanti pulang sekolah yah.” Ucapnya setelah menatap Kara dengan sinis.


“Hilihhh... malu nih ye... tutupin Dev, tutupin tuh muka...” ejek Selvia.


“Udah sih biarin aja. Kasian sabun batangan jangan di bully.” Imbuh Kara.


“Jangan dibully tapi lo nya ikutan-ikutan ngejek.” Sambung Dirga.


“Cemburu yah calon istri gue?” Dirga menarik tangan Kara yang baru saja bangkit dari duduknya dan hendak pergi.


“Duduk sini!” Dirga membawa Kara pindah ke mejanya. “bakso spesial tanpa kecap kesukaan calon istri Dirgantara Rahardian.” Ucapnya seraya mendorong mangkuk itu ke hadapan Kara.


Byur... semburan boba halalin sukses meluncur keluar dari bibir Selvia. “ketos kita ngomong apaan barusan, Dil? Gue nggak salah denger kan?”


Sementara Kara? Jangan tanya perasaan gadis itu saat ini, indah pokoknya. Tapi dia berusaha bersikap biasa saja. Hanya ingin menjalani semua dengan apa adanya, biarkan mengalir begitu saja. Karena meski Dirga akhir-akhir ini selalu bersikap manis, Kara belum yakin akan perasaan lelaki yang belum pernah mengungkapkan isi hatinya. Bisa saja kan Dirga bersikap manis karena paksaan dari mommy Miya, mengingat bagaimana lelaki itu selalu menurut dengan permintaan mommy nya.


“Lap dulu bibir lo deh.” Dila memberikan tisu pada Selvia. “Kayaknya kita salah denger deh.” Lanjut Dila.


“Lo ngomong apa barusan, Ga?” Selvia dan Dila kompak berpindah ke meja Dirga dan duduk di hadapan pasangan yang sudah dijodohkan sejak kecil itu.


“Calon istri.” Balas Dirga. “kalian berdua udah tau kan gue calon suaminya. My Dirgantara nya Lengkara.” Lanjutkan penuh penegasan.


“Ya ampun sumpah demi apa ini lo ngakuin sahabat gue calon istri?” ucap Dila.


“Terus gue mesti gimana? Mesti sumpah dihadapan kalian berdua gitu?” balas Dirga.


“Ya nggak gitu juga, Ga. Cuma aneh aja, nggak ada angin nggak ada ujan tiba-tiba lo ngakuin Kara calon istri. Ini bukan tanda-tanda bencana alam kan?” ujar Selvia.


“Nggak usah aneh-aneh lo berdua. Pesen makan aja gih biar nggak berisik, kasian ayang gue kan mau makan. Ya nggak yang?” ucap Dirga seraya melirik Kara, yang dilirik hanya balik menatap bingung. “Sendoknya, yang.” Dirga mengambil sendok dan meletakannya di mangkuk. “mau pake sambel juga nggak? Biar gue ambilin.” Lanjutnya pada Kara yang masih terpaku.


“Yang?” ucap Kara lirih.


“Iya, sayang...” balas Dirga.


“Ya ampun sumpah! ini sih fix ketos kita lagi error, Dil.” Ucap Selvia. "Buruan telepon tante lo yang kerja di rumah sakit jiwa, ketos kita terdeteksi ODGJ." lanjutnya.


Tak hanya mereka berdua, beberapa siswa yang duduk di sekitar meja Dirga yang mendengar ucapannya pun mulai memperhatikan. Sama seperti Selvia dan Dila, mereka juga terkejut bukan main. Siapa yang tak tau jika selama ini Kara selalu mengejar Dirga, namun tak ada yang menyangka jika ketos yang selalu marah-marah dan cuek pada Kara tiba-tiba berubah jadi begitu manis.


“Yang haus... yang haus... ciki, kacang, permennya kakak... yang haus yang haus boleh. Akua mijon nya kakak... yang haus yang haus...” ejek Dila yang tiba-tiba jadi kang dagang asongan guna memecah kesunyian diantara dua orang yang hanya diam dan saling tatap.


Dirga tak memperdulikan Selvia dan Dila yang heboh sendiri. Dia merebahkan kepalanya di meja, menggunakan tangan kirinya sebagai bantalan kemudian menatap lekat wajah Kara, sama seperti posisi Kara setiap kali datang ke kelasnya dan duduk di sebelahnya. Tangan kanan Dirga meraih jemari Kara dan menggenggamnya erat.


“Kara, Lengkara Ayudhia... Masih cinta nggak sama Dirga?” tanyanya.


“Sayangnya Dirgantara jawab dong!” Lanjutnya.


Kara terdiam sebentar, antara percaya dan setengah tak percaya dengan apa yang ia dengar. Namun sedetik kemudian ia mengangguk.


Dirga langsung mengangkat kepalanya dan menangkup kedua pipi Kara, “Jangan ngambek-ngambek lagi yah, ayang Lengkara. Future wife nya gue.” Ucapnya, rasanya pengen meluk Kara erat-erat sekarang juga, tapi dia sadar sedang ada di keramaian. Ditambah lagi dengan sorak sorai dari siswa yang ada di kantin membuatnya hanya berakhir mengacak gemas puncak kepala Kara, gadis itu hanya menunduk malu-malu sambil tersipu.