Always Loving U

Always Loving U
Feeling



Pagi ini Kara sedang berjalan-jalan santai di depan rumahnya di temani Dirga yang dengan setia menggandeng ibu hamil yang kini sudah memasuki usia delapan bulan lebih tiga minggu. Dokter memprediksi seminggu lagi si dede gemoy itu akan lahir. Setiap pagi Kara selalu rajin jalan santai di dekat rumah, kata mami biar lahirannya lancar. Beruntung si dede di perutnya itu tak neko-neko malah cenderung membuat si bumil yang dulu manjanya nggak ketulungan jadi lebih dewasa. Berbeda dengan Jesi yang dulu rewel sekali saat mengandung Kara, calon cucunya malah begitu anteng dan tak menyusahkan.


Banyak sekali perubahan yang dialami Kara selama mengandung anak Dirga. Rama dan Jesi sampai hampir tak percaya jika putrinya yang selama ini sangat merepotkan bisa berubah drastis. Dia yang dulu anti sekali masak jadi rajin masak setiap pagi. Bermula dari Dirga yang kerap kali ingin makan ini itu membuat Kara tergerak untuk memasak. Meski awalnya rasa masakan Kara sama sekali tak enak tapi lambat laun seiring berjalannya waktu masakannya berangsur layak untuk dimakan.


Tak hanya Dirga yang jadi korban masakan Kara tapi seisi rumah juga ikut menikmati maha karya Kara itu. Mereka menikmatinya meski tak enak demi menjaga perasaan bumil yang mudah baper.


"Hari ini jadwal kuliah pagi kan? Berangkat aja ntar telat. Aku jalan-jalan sendiri nggak apa-apa." Ucap Kara.


"Aku nya yang nggak mau, sayang." Jawab Dirga, "hei anak papa baik-baik yah di perut mama." Dirga berjongkok dan mencium sayang perut Kara. "Sayangnya papa..."


"Dede baik kok papa. Papa kuliah aja, ntar telat." Ucap Kara dengan menirukan suara anak kecil seraya mengelus rambut suaminya.


"Gimana kalo hari ini aku nggak kuliah aja, Yang? Rasanya pengen deket kamu terus."


"Jangan ngaco deh, Yang. Berangkat! Aku yang hamil kok kamu yang males." Ucap Kara. "Aku yang disuruh cuti kuliah aja tetep semangat kok." Lanjutnya. Mami Jesi sudah memintanya untuk cuti sejak kandungannya masuk usia tujuh bulan malah tak digubris, katanya pengen tetep kuliah, cutinya nanti saja pas si dede udah lahir.


"Aku nggak mau jauh-jauh dari kamu Yang, takut kamu lahiran aku nya nggak ada."


"Kata dokter kan lahirannya masih minggu depan Yang. Udah yuk pulang, kamu siap-siap kuliah." Kara menarik Dirga supaya bangkit.


"Iya, ayo!" Jawab Dirga pasrah.


Belum sampai ia masuk ke gerbang rumah, brio hitam sudah berhenti di sampingnya.


"Pagi bumil..." Sapanya seraya turun dari mobil. Dia membawa satu kresek penuh makanan ringan kesukaan Sasa. "Ciki nih buat calon ponakan gue." Tama memberikan snack rasa jagung bakar pada Kara.


"Kagak modal lo ngapel pagi buta cuma ngasih ciki ke gue, mana yang dua ribuan pula."


"Ya mau gimana lagi kata Sasa ponakannya lagi pengen makan itu." Jawabnya enteng. Semenjak jadian Tama memang rutin menjemput Sasa dan mengantarkan gadis itu sekolah. Bahkan pulang pun di jemput asal tak bentrok dengan jadwal kuliahnya.


"Heh mau kemana lo? Main slonong aja!" Seru Kara saat Tama melewatinya untuk masuk rumah, "si micin hari ini kagak nebeng sarapan di rumah gue."


"Terus dimana kesayangan gue?"


"Ga, please. Lo berdua ikut sarapan disana lah, gue serem kalo sarapan bareng bokap lo." Pinta Tama memelas. Jujur meskipun sudah mendapat restu dari Ardi dan Miya tapi ia masih sedikit takut pada Ardi, mengingat dirinya pernah di marahi habis-habisan karena ketahuan nongkrong di indoapril dengan Sasa saat semua orang ketar ketir setengah mam pus.


"Resiko lah." Jawab Dirga. "Makanya kalo ngelayab mesti tau waktu. Nggak kira-kira dari pulang sekolah sampe jam sepuluh. Mommy gue sampe panik nangis-nangis, semua orang ketar ketir khawatir, lo berdua malah asik-asikan pacaran!" Dirga jadi kesal sendiri mengingat hari itu. Dimana semua orang khawatir dan hampir lapor polisi, untung saja belum sempat lapor karena saat melewati indoapril terlihat Sasa yang duduk santai dengan Tama di sana.


"Ye elah masih aja di bahas, Ga. Kan cuma sekali, itu juga Sasa nya yang nggak mau pulang." Jawab Tama. Hari itu jam delapan malam saja Tama sudah mengantarkan Sasa pulang, tapi gadis itu merengek tak mau pulang malah ngajakin nongkrong di indoapril. Hp miliknya saja di sita Sasa supaya tak menerima telpon dari Kara, alasannya masih kangen pengen bareng Bang Tama.


"Bodo amat. Yuk yang, masuk." Dirga mengabaikan Tama.


Di kamar Kara membantu menyiapkan keperluan Dirga. Dari mulai pakaian hingga tas pemuda itu.


"Nanti aku ke kampus dianter mami aja, kamu nggak usah pulang buat jemput aku. Hari ini full presentasi kan?" Hari ini jadwal kuliah mereka memang berbeda, Dirga ada jadwal pagi sedang si bumil jadwal kuliahnya dimulai jam sepuluh tiga puluh.


"Ya udah nanti kita ketemu pas istirahat aja. Papa berangkat dulu yah." Ucapnya seraya mengelus perut Kara, "aku kuliah dulu yah." Pamitnya lagi kemudian mengecup kening Kara sebelum pergi.


Siang harinya sambil kembali ke ruang kelasnya, Dirga berulang kali menelpon nomor istrinya karena di kampus ia tak menemukan Kara bahkan teman sekelasnya berkata jika Kara tak masuk kuliah hari ini. Dirga semakin khawatir karena Kara tak menjawab panggilannya. Dirga beralih menghubungi mertuanya, mami Jesi pun di telpon tak menjawab, padahal sebelumnya ada satu panggilan tak terjawab dari mami Jesi.


"Ga, presentasi giliran kelompok kita. Cepet dosen udah di kelas." Seru salah satu temannya.


Selama presentasi Dirga benar-benar tak fokus, isi kepalanya saat ini hanya Kara, Kara dan Kara. Hingga di akhir presentasi, Dirga yang biasanya tak main HP saat pelajaran kini terus menatap layar benda pipih sambil berulang kali menghubungi Kara.


Dirga langsung berdiri dan berpamitan pulang lebih dulu setelah membaca chat masuk dari Sasa.


"Kak Dirga telponan sama siapa sih? Nomornya sibuk terus. Kaleng masuk rumah sakit!"


"Pak, permisi saya izin pulang lebih dulu. Istri saya masuk rumah sakit." Ucapnya lalu pergi, tak peduli teman-temannya yang berusaha menahannya.


"Ga, nanti dulu lah. Bentar lagi, mam pus kita tanya jawab nggak ada lo."


"Sorry banget." Dirga bahkan tak membawa tasnya saat keluar kelas.