
“Tama! Kamu denger nggak omongan mama?” teriak Raya saat putranya justru berlalu menuju kamar. Anak semata wayangnya itu benar-benar mirip dengan papanya, Zidan. Dari mulai wajah, postur tubuh bahkan senyumannya. Benar-benar tipe lelaki yang mampu membuat lawan jenis terpesona.
Bangga dan bersyukur atas semua yang dimiliki putranya tentu saja, setiap orang tua selalu memiliki kebanggaan tersendiri pada putra putrinya. Siapa yang tak ingin punya anak tampan dan dikagumi banyak orang? Jelas hal itu bukan merupakan anugerah yang mungkin ditolak karena bahkan orang lain bahkan sangat mendambakannya. Tapi, disisi lain ada ketakutan tersendiri di hati wanita yang kini sedang menatap punggung anak lelakinya yang kian menjauh.
Tama selalu dikelilingi gadis-gadis, tak jarang banyak diantara mereka yang sampai menyusul ke rumah. Di Surabaya, Raya sempat kewalahan melayani gadis-gadis yang setiap hari ke rumahnya sekedar memberi hadiah untuknya. Bukan tanpa maksud, mereka tentu menginginkan dukungan untuk hubungannya dengan Tama.
Melihat gadis-gadis mendekati putranya terlihat lucu, kadang Raya tertawa sendiri mengingat kelakuan gadis-gadis agresif masa kini. Sejauh ini dia cukup tenang karena Tama tak berbuat yang macam-macam namun di sisi lain Raya tetap takut. Takut putranya akan mengikuti jejak sang ayah yang suka main-main dengan perempuan. Apalagi mendengar candaan putranya tentang investasi di perut supaya auto sah, benar-benar seperti tamparan nyata yang membuatnya terlempar jauh ke masa lalu. Masa-masa saat dirinya begitu jahat menyakiti orang yang selalu ada di sisinya, Jesi. wanita yang 19 tahun lalu menjadi sahabat terbaiknya namun berakhir tak saling bertemu hingga saat ini.
Bukan, bukan karena tak ingin menemui Jesi. Bagi Raya kesalahan yang sudah ia lakukan pada ibunda dari Lengkara itu terlalu fatal, hingga ia merasa dirinya benar-benar tak layak untuk bertemu dengan Jesi lagi. Bahkan di acara resepsi pernikahan Jesi dulu, ia tak hadir meski sudah menerima undangan. Jesi terlalu baik untuknya dirinya yang benar-benar tak tau diri saat itu.
Bayangkan jika kalian di posisi Raya, jahat sekali bukan? Jesi sudah menganggapnya seperti keluarga tapi dia menikungnya dari belakang, bahkan dengan rencana yang begitu sempurna yang telah ia rancang sedemikian rupa bersama Zidan yang kini menjadi suaminya.
19 tahun berlalu dan Jesi sudah memanfaatkan semua kesalahannya, tapi tetap ada yang mengganjal di hati Raya. Rasanya tak cukup hanya dengan maaf, dia harus melakukan lebih banyak kebaikan untuk Jesi. Mengingat bagaimana Jesi memaafkan semua kesalahannya, membantu merebut kembali perusahaan milik keluarganya yang hampir bangkrut, hingga meluaskan hatinya untuk membiarkan Zidan bebas dari hukuman supaya bisa bertanggungjawab atas hadirnya janin yang tak diinginkan dulu. Jika bukan karena kebaikan Jesi mungkin saat ini dirinya sudah tak bisa menghirup udara lagi.
Jika bukan karena tekanan dari keluarga Jesi pula mungkin saat ini Zidan tak bisa menjadi manusia yang lebih baik dan bertanggung jawab pada dirinya.
Huuft…
Raya membuang nafasnya pelan. Perempuan yang kini tak muda lagi itu menyeka air mata yang membasahi pipinya. Mengingat masa lalu selalu membuat hatinya perih. Kadang menerima maaf dari orang yang benar-benar kita jahati justru membuat kita makin tertekan karena merasa tak pantas dimaafkan. Kadang kita merasa dibenci dan dicaci maki lebih baik sebagai imbalan atas kejahatan yang kita perbuat. Tapi dimaafkan dengan begitu lapang dada justru seolah memberi hukuman yang lebih berat. Berat karena merasa diri ini tak layak mendapat perlakuan baik setelah semua kejahatan yang dilakukan.
“Jesi, maaf… dulu aku tak bisa menjadi sahabat yang baik untuk kamu. Sekarang, biarkan putraku menjaga putrimu sebagai gantinya.” Gumamnya lirih.
“Loh Ma? Kok mama masih duduk di situ sih? Katanya mau masak makan siang? Aku udah lapar nih.” Suara Tama membuat Raya tersadar dari lamunannya. Terlihat putranya menuruni tangga dengan pakaian yang sudah berganti menjadi baju rumahan, kaos putih polos dan celana pendek.
Raya menyeka pipinya berulang kali dengan telapak tangan, memastikan tak ada air mata yang tersisa di sana.
“Mama nangis?” Tanya Tama yang sudah menghampirinya.
“Nggak, sayang. Mama nggak apa-apa.” Elak Raya.
“Tapi mata mama merah loh.”
“Kelilipan tadi.” Jawabnya asal sambil membawa belanjaannya ke belakang.
“Masa sih?” Tama mengikuti mamanya berjalan ke dapur.
“Iya. Udah kamu duduk aja sini. Biar mama masak sebentar.” Raya menarik satu kursi dan meminta putranya untuk duduk, namun lelaki itu justru mengikutinya terus.
“Biar mama aja. Kamu duduk aja sana. Malah ganggu ntar nggak selesai-selesai.”
“Masa sih? Kan aku bantuin biar cepet, Ma. Itung-itung aku belajar jadi suami idaman gitu. Suami yang nggak malu-malu bantuin kerjaan istri. Karena aku tau kalo mencuci baju, cuci piring dan lainnya itu sebenernya tugas suami. Hanya saja seorang istri melakukan semuanya untuk membantu suaminya.” Ujar Tama. Dia mengucapkannya penuh keyakinan sambil memainkan wortel di tangannya.
“Halah so banget anak mama ini.” Raya mengambil wortel dari tangan Tama.
“Paling juga kamu belajar kata-kata itu dari papa kan? Cuma asal jeplak tapi prakteknya zonk. Udah sana duduk aja, tungguin.” Raya memukul pelan kepala Tama dengan wortel di tangannya.
“Kok mama nggak muji aku so sweet sih?”
“Padahal cewek-cewek di sekolah suka langsung klepek-klepek kalo aku bilang kayak gitu. Mereka auto mau ngerjain PR aku, Ma.”
“Karena mama tau, anak mama ini pinter sepik sepik.” Cibir Raya.
“Ya udah deh aku tunggu di kamar aja. Padahal aku ngarep mama bakal muji aku terus ngasih uang jajan tambahan.” Ucap Tama.
“Urusan uang jajan tambahan bisa diatur asal kamu nurut sama mama. Jagain Lengkara, pastiin nggak ada satu orang pun yang bikin dia sedih.”
“Lengkara lagi? Mama ini sebenernya kenapa sih? Kayaknya terobsesi banget sama Kara. Dari dulu aku bolak balik bawa temen cewek nggak ada satu pun yang menarik buat mama. Padahal banyak loh mantan aku yang lebih cantik di banding Kara, lebih bohay juga. Tapi Kara? Mama belum pernah ketemu sama dia, Ma.”
“Aku akuin Kara itu cantik, ceria dan aku lumayan suka, dia imut dan menggemaskan meskipun kadang terlihat sedikit aneh. Tapi dia bukan tipe cewek yang mudah di deketin, Ma.”
“Suatu saat kamu akan tau alasannya, Tama. Tapi nggak sekarang.” Raya menepuk lengan kiri putranya.
.
.
.
Suatu saat kalo kamu tau... mungkin kamu akan...
kalo nih yah kalo... kalo kalian jadi Tama dan tau masa lalu mamanya bakal gimana??
aku kasih double up nih, jangan lupa klik like sama komen sebelum lanjut part berikutnya.