Always Loving U

Always Loving U
Gift



Dirga langsung berdiri dan menoyor kening adiknya. “kissing! Kissing! Orang Kakak cuma mau niup mata Kara yang kelilipan. Ya kan Ra?”


“Kagak, Kakak lo mau kiss kiss gue tapi nggak jadi gara-gara lo teriak! Harusnya tadi lo teriak dalam hati aja Cin, biar gue jadi di kiss dan lo juga bisa nonton gratis. Sama-sama untung kan?” ucap Kara.


“Ya udah kalo gitu ulang deh. Sasa keluar dulu yah.” Ucap Sasa.


Pletak! Pletak!! Dirga menyentil kening kedua perempuan di depannya bergantian. “nggak usah aneh-aneh!”


“Kak Dirga nggak asik!” cibir Sasa. “ke bawah aja yuk, Kaleng. Mobil baru Kaleng udah dateng. Bagus banget, Sasa pengen diajak jalan-jalan pake mobil barunya Kaleng.”


“Mobil?”


“Iya. Kado dari papi katanya. Makanya Sasa kesini buat manggil Kaleng. Ayo lah buru Kaleng!” Sasa menarik-narik tangan Kara.


“Iya-iya bentar.” Karena Sasa yang rusuh alhasil Kara tak memakai alas kaki. “seriusan gue di beliin mobil?”


Sampai di halaman mobil barunya benar-benar ada. Kara begitu senang, dia memeluk papi dan maminya setelah di beri kunci.


"Wih beneran mobil." Kara memeluk bagian depan mobilnya sementara si penyedap rasa sudah duduk cantik di bangku penumpang, lengkap dengan sabuk pengaman yang sudah ia pasangkan.


"Pi, ini beneran mobil buat Kara? papi nggak lagi ngeprank kan?" Kara berlari menghampiri papi dan maminya.


"Nggak lah. Emang buat kamu, sekarang udah tujuh belas tahun jadi bisa bikin SIM terus bawa mobil sendiri." jawab Rama.


"Seneng banget deh... makasih Pi, Mi. Kara kira papi bakal ngasih baju sama tiket liburan kayak tahun lalu." Kara memeluk erat papinya, kini lirikan matanya beralih pada Jesi. "Mobil kan dari papi, kado mami mana? kali aja mami mau ngasih kartu debit gitu. Nggak muluk-muluk pengen black card, debit aja Kara udah seneng banget deh."


"Ngelunjak deh. Uang jajan tetep seperti biasa. Debit nanti mami kasih kalo kamu udah kuliah." jawab Jesi.


"Kan udah punya mobil masa uang jajan masih harian Mi? ntar kalo bensinnya abis gimana?"


"Pake bensin campur aja!"


"Emang bisa, Mi? campur apa?"


"Campur dorong. Gratis!" balas Jesi sambil terkekeh.


"Mamiiii...." rengek Kara.


"Kaleng buruan test drive!" teriak Sasa dari dalam mobil.


Seharian itu Kara dan Sasa jalan-jalan dengan mobil barunya, tentu dengan calon suami yang menjadi supir spesialnya. Bukan karena tak bisa mengendarai mobil sendiri, tapi pengalamannya yang sering menabrak saat berkendara dengan Selvia membuat Kara sedikit trauma untuk membawa kendaraan sendiri. Ditambah lagi takutnya Dirga tak mengantarnya kemana-mana jika ia bisa melakukannya sendiri.


“Gue tau lo bisa bawa mobil, Ra. Seminggu ini gue anterin lo kemana pun, tapi minggu depan lo harus bawa sendiri.” Ucap Dirga saat memberikan kunci mobil pada Kara.


“Siap My Dirgantara. Kalo perlu ntar ke Yogya gue nyetir sendiri.” Balas Kara sambil tersenyum. “Makasih buat hari ini. Besok kita jalan lagi yah, tapi jangan ngajak Sasa. Berdua aja.” Lanjutnya.


“Ih Sasa mau ikut! Kara sama Kak Dirga jangan berduaan, harus ada Sasa biar nggak ada setan. Kan kalo cuma berdua yang ketiga setan.” Ucap Sasa.


“Makanya lo jangan ikut kalo nggak mau jadi setan!” balas Kara.


“Gue balik yah, Ra. kalian berdua terusin aja ributnya. Gue udah cape.” Pamit Dirga. “Tapi lo pulang aja deh, Sa. Udah sore.” Lanjutnya.


“Nggak mau, Kak Dirga pulang duluan aja. Sasa bantuin Kaleng buka kado, kali aja dapat bonus.” Jawab Sasa.


“Ya udah ayo. Ntar gue kasih satu deh kadonya buat lo, tapi besok jangan ikut.” Ucap Kara.


“Tergantung sikon deh.” Balas Sasa yang sudah masuk ke dalam rumah lebih dulu.


Di dalam kamar keduanya membuka satu persatu kado milik Kara. Banyak sekali barang-barang yang yang ia dapatkan dari mulai tas, baju, sepatu dan merchandise KPOP.


“Kaleng, ini tas yang dari bang Tama. Sasa yang milihin lo, ini sama kayak tas Sasa.”


“Iya-iya. Kalo lo mau, ambil yang itu juga boleh.” Ucap Kara yang sedang membuka kado dari Om Raka. “Hm udah gue duga. Om Karak emang nggak modal, masa sweet seventeen di kado misting. Mana misting dari kantor papi lagi.” Kara melempar tempat bekal berwarna ungu itu ke ranjang. “besok gue main ke rumahnya, gue comot dah kaktusnya yang mahal-mahal itu.”


“Apaan lagi? Gue mau telpon Om Karak bentar nih, masa gue dikado misting!”


“Ini liat masa ada yang ngado flashdisk sih?” Sasa menunjukan benda mungil itu pada Kara.


“Buset parah bener dah! Bungkusnya yang mana? Biar gue tandain ntar kalo dia ultah gue kado kabel USB aja!”


“Yang ini.” Sasa mengambil kotak berwarna pink.


“Si sabun batangan.” Ucap Kara lirih, “ambilin laptop gue cin.” Pintanya pada Sasa.


Dengan semangat empat enam Sasa mengambil laptop dengan logo buah yang digigit sedikit. “Nih Kaleng, jangan-jangan isinya vidio uwuw Kaleng sama Kak Dirga yang diabadiin nih. The best banget temen Kaleng.”


Kara menyalakan laptopnya dan memasang flashdisk pemberian Deva, “dia bukan temen gue, Cin. Lebih pantes di sebut musuh soalnya dia demen sama Kakak lo.” Ucap Kara sambil membuka file dari flashdisk. Tak banyak hanya ada satu file vidio.


“Kaleng...” ucap Sasa lirih saat vidio itu mulai diputar, sementara Kara sudah meneteskan air matanya.


“Tinggalin gue sendiri, Cin. Kakak lo milih pindah dari pada nikah bukan karena mikirin masa depan. Tapi karena dia.”


"Kaleng tenang dulu, ini pasti editan nih." ucap Sasa " tapi kok bisa mulus bener yah ngeditnya?" komentar Sasa pada Vidio singkat Dirga yang memeluk seorang gadis di dalam kamar. Gadis itu terlihat tersenyum bahagia dalam dekapan Dirga.


"Tun kan ini tuh emang bukan editan, Cin. Kakak lo bener-bener dah!" Kara mengusap pipinya yang basah.


"Pantes aja milih ke Yogya pindahnya, pasti biar satu sekolah sama dia."


"Kaleng jangan mikir yang nggak-nggak dulu deh, Kak Dirga tuh nggak gitu orangnya. Sekarang Kaleng tenang dulu deh, jangan sampe kayak kemaren-kemaren kalian ribut gara-gara salah paham. Mending kita selidikin dulu cewek itu siapa toh Kaleng juga nggak kenal kan?" bujuk Sasa mencoba menenangkan, meskipun dalam hati ia juga sudah ingin menyiksa kakaknya yang kurang ajar.


"Dia tuh adek kelas gue, Sinta. Pantesan aja gue pengen ikut pas Dirga kesana nggak boleh, ternyata kelakuan kakak lo dibelakang gue kayak gini. Katanya cuma ngebujuk supaya sekolah lagi eh malah main serong dibelakang gue. Nggak bisa didiemin emang kakak lo." ucap Kara yang bergegas meninggalkan kamarnya.


"Kaleng mau kemana?" buru-buru Sasa menyusulnya.


"Kaleng tungguin!" teriak Sasa yang tertinggal, rupanya Kara pergi ke rumah Dirga. Tanpa permisi seperti biasa, ia melewati Ardi dan Miya begitu saja bahkan mengabaikan sapaan calon mertuanya dan langsung menuju kamar Dirga.


"Eh mau kemana kamu?" Miya menarik kaos putrinya hingga Sasa berhenti. "Kenapa Kara?" tanyanya.


"Prahara rumah tangga, Mom." jawab Sasa. "Lepasin Sasa mau nonton ntar ketinggalan, moment calon istri melabrak calon suami yang minta dihajar!"


Kara yang sudah berada di depan kamar Dirga langsung membuka pintu itu dengan kasar.


"Sa!! berapa kali gue harus bilang kalo masuk tuh..." Dirga menutup tubuhnya dengan kaos yang belum ia kenakan, dia baru saja selesai mandi dan mengenakan celana pendek. Baju baru mau dipakai eh pintu kamarnya sudah di buka secara kasar. "Kara?" ucapnya heran.


"Udah selesai buka kadonya? kenapa main slonong aja sih? kenapa juga wajahnya cemberut gini hm?"


"Nggak usah so perhatian. Kita putus! lo bisa lanjut bahagia di Yogya sama Sinta."


"Kenapa tiba-tiba bawa Sinta sih? dia emang mau lanjut sekolah di Yogya karena calon ayah tirinya orang sana. Nggak ada hubungannya sama gue, Ra. Gue pilih sekolah disana karena daddy sama mommy juga dulu sekolah disana." Jelas Dirga.


"Alesan!"


"Ini kenapa sih tiba-tiba jadi kayak gini? tadi aja nggak apa-apa, kita kan bisa ketemu dua minggu sekali." ucap Dirga.


"Gue nggak mau. Gue kira selama ini yang dibilang Deva tuh bohong, ternyata gue yang terlalu bodoh bisa dibohongin. Lo bilang bujuk Sinta buat sekolah tapi nyatanya kalian main peluk. Di kamar pula!"


"Deva bilang apa?" tanya Dirga "lo lebih percaya orang lain dari pada gue? calon suami lo!"


"Gimana gue bisa percaya sama lo kalo bukti yang ada aja udah nunjukin kelakuan bejad lo dibelakang gue, Ga." ucap Kara. "Lo ada di deket gue aja kayak gini, apalagi kalo jauh." ucapnya lirih.


"Lo nggak percaya sama gue, Ra? jadi lo nggak ngijinin gue pindah? lo mau kita nikah?" Dirga meninggikan suaranya. "Ya udah ayo kita nikah!"


"Gue udah nggak mau nikah sama lo!" jawab Kara tak kalah tinggi.