Always Loving U

Always Loving U
Seperti mau mu



Melihat Kara yang langsung berbicara tanpa bisa di rem membuat Dirga tak enak hati pada mertuanya. Padahal sudah berulang kali dinasehati supaya tak memotong pembicaraan orang tua tapi memang dasar sudah kebiasaan, sulit sekali diperbaikinya.


"Dah lah ngamuk lagi pasti itu anak kamu. Karam yang bikin masalah, silahkan diselesaikan sendiri. Aku males ikut-ikutan." Belum apa-apa Jesi sudah mengundurkan diri soal bujuk membujuk putrinya.


"Ini udah pasti besok kamar jadi kapal pecah lagi. Keterlaluan sih ngasih syarat kok nggak kira-kira. Itu anak sampe belajar gila-gilaan, aku liatnya aja kasihan."


"Pokoknya sekarang aku belain Kara. Kalo Kara sama Dirga masih pisah rumah, kita juga pisah rumah. Ya, minimal pisah kamar lah biar adil."


Rama tergelak mendengar penuturan istrinya, "ya ampun punya anak sama istri kok gini amat." Batinnya. Kadang dia jadi mikir kenapa Kara gampang sekali ngambek? Mungkinkah efek ngidam Jesi yang dulu ingin ketemu BTS tidak terwujud? Tapi kan dia sudah berusaha menghadirkan tukang Baso Tahu Siomay, malah istrinya marah-marah tak jelas.


"Nanti bantuin bujuk dedek gemoy kita. Aku kan belum selesai ngomong barusan." Rama menepuk pelan bahu istrinya.


"Emang Karam mau ngomong apa lagi? Pasti mau bilang, kalian nggak bisa tinggal bareng karena Kara gagal masuk tiga besar kan?" Tebak Jesi.


"Ya allah beneran deh ini emak sama anak bener-bener satu frekuensi." Batin Rama.


Dirga tak ingin menyela obrolan kedua mertuanya, tapi disisi lain ia khawatir dengan keadaan istrinya. Bisa ditebak gadis itu pasti sedang melempar semua barang yang ada di kamarnya, atau bahkan sedang nangis sambil guling-guling.


"Mami, Papi... Maaf, aku mau liat Kara dulu ke kamarnya." Pamit Dirga.


"Jangan, Dirga!" Larang Rama. "Jangan sekarang atau kamu bakal abis dilempar barang-barang. Papi aja dulu abis dilempar boneka, bantal, sendal, selimut, semua deh. Ntar aja, biarin dia tenang dulu."


"Nanti aja nunggu sorean biar dia cape dulu. Kalo udah cape kan nggak bisa lempar-lempar barang lagi." Imbuhnya.


"Nggak apa-apa, Pi. Aku udah biasa kok." Jawab Dirga dan beranjak meninggalkan ruang tamu.


"Yuk, Ga! Mami temenin." Jesi ikut beranjak dan pergi dengan menantunya.


"Nanti kalo Kara udah nggak ngambek ajak main, terus nggak usah pulang ke rumah. Nginep di hotel aja, dua minggu libur sekolah lumayan. Papi kan cuma nggak ngijinin kalian tinggal serumah, bukan sehotel. Jadi kalo bareng di hotel nggak apa-apa. Nanti mami booking hotelnya buat kalian berdua." Ucap Jesi.


"Hah?"


"Malah hah heh hoh..." Ledek Jesi, "buruan ketuk pintunya!"


"Eh biar Mami aja deh." Lanjutnya seraya mengetuk pintu kamar Kara.


"Sayang, ini mami. Buka pintunya!" Teriak Jesi yang hanya dibalas dengan bunyi lemparan benda keras yang mengenai pintu.


"Biar aku aja, Mi."


"Ra, buka pintunya. Ini gue, suami lo." Sama saja, hasilnya nihil.


Keduanya kembali ke ruang tamu, "ngamuk beneran tuh anak kamu." Ucap Jesi pada Rama.


"Aku keluar dulu, Pi." Pamit Dirga.


"Kak Dirga mau kemana? Beli jajan buat Kaleng yah? Sasa ikut."


Ck! Dirga berdecak lirih. "Jajan mulu pikiran lo, Sa." Tapi adik satu-satunya itu tetap membuntutinya.


Belum ada lima menit pergi, keduanya kembali masuk ke rumah Kara.


"Pi, tangga yang biasa di taman belakang kemana? Kok nggak ada."


"Papi, pindahin ke gudang. Takut dipake maling lagi, terakhir ada maling masuk lewat balkon kamar Kara." Jawab Rama.


"Sekarang malingnya mau masuk kamar Kaleng lagi nih, Pi." Ledek Sasa.


"Hust diem! Ngada-ngada lo tuh!" Sergah Dirga.


"Ih tapi Kaleng pernah bilang ke Sasa kalo ma--"


"Jangan di dengerin, Pi. Ngada-gada ini anak, aku pinjem tangganya yah, Pi."


"Ya ambil aja. Nanti malem temui Papi ada yang mau Papi omongin. Mending ngomong sama kamu lah, istri kamu nggak bisa diajak ngomong baik-baik malah ngambek mulu. Orang tua belum selesai ngomong udah ngambek." Keluh Rama.


"Iya, Pi. Siap." Balas Dirga.


"Pegangin yang bener, Sa!" Sore itu Dirga benar-benar mengulang prestasinya sebagai maling. Hanya saja kali ini ia tak sendiri, ada adiknya yang ikut memegangi tangga di bawah sana.


Seperti biasa pintu balkon Kara tak dikunci. Dari pintu kaca itu Dirga bisa melihat istinya yang duduk bersandar di samping ranjang sambil memeluk Dirdiran. Benda-benda berserakan di sekitarnya, tapi tak sebanyak dulu. Hanya beberapa kosmetik dan buku. Ranjangnya pun masih terlihat rapi, tapi koper pink besar yang berada di samping lemari lumayan menyita perhatiannya.


"Ra..." Panggil Dirga lirih seraya mendekat.


Dirdiran langsung melayang mengenai wajah Dirga.


"Gue bilang juga apa! Coba kalo lo nggak ngelarang gue silaturahmi ke wali kelas, kita pasti bisa tinggal bareng!"


"Udah-udah, jangan bahas itu. Nyogok wali kelas nggak ngejamin lo masuk tiga besar." Dirga memeluk Kara yang masih saja memukul punggungnya dengan asal.


"Jangan mukul-mukul dong, ntar kalo gue mati gimana?"


"Lebay! Mana ada mati cuma gara-gara dipukul pelan gini." Kara melepas pelukan Dirga.


"Ga..."


"Hm, apa sayangnya gue?" Jawab Dirga. Tebakan istrinya akan nangis guling-guling ternyata salah. Kara hanya melempar barang-barangnya dan tak sedikit pun menangis, meski rambutnya terlihat acak-acakan.


"Kabur yuk!!"


"Apa?"


"Kabur, Ga. Minggat!!" Tegas Kara, "gue udah packing baju, kita minggat ke rumah kakek aja. Kakek pasti seneng banget kalo gue ngabisin liburan disana, biar papi kalang kabut nyariin gue."


"Minggat kok ke rumah kakek. Nggak bakal kalang kabut papi kalo anaknya kabur ke rumah kakek. Lo tuh ada-ada aja."


"Udah jangan mikir minggat segala. Sini gue sayang-sayang." Dirga menarik Kara ke pelukannya, mengelus sayang punggung Kara dan berulang kali mencium puncak kepala gadis itu.


"Lo bisa masuk lima besar dalam satu semester, Ra. Istri gue emang hebat. Gue bangga sama lo, Ra. Nggak apa-apa kita nggak serumah, mungkin belum waktunya."


"Tapi nggak bisa sayang-sayangan sampe pagi, Ga." Kara menatapnya dengan melas.


"Sekolah libur dua minggu, kita bisa sayang-sayangan sampe malem. Udah nggak usah sedih."


Malak harinya setelah dibujuk akhirnya Kara mau keluar kamar, tapi gadis itu selalu ketus setiap kali diajak bicara oleh Rama.


"Nggak mau ngomong sama Papi, Kara lagi ngambek!" Ucap Kara. "Suapin lagi, Yang. Itu daun bawangnya awasin, nggak suka." Lanjutnya pada Dirga.


"Nggak mau ngomong sama Papi, Kara lagi ngambek. Daun bawangnya awasin, nggak suka." Rama tergelak mengulang kata-kata putrinya. Dia beranjak meninggalkan meja makan dan mencubit gemas pipi Kara.


"Ngambek kok ngomong." Ledeknya.


"Kalo udah selesai nyuapin bayi yang suka ngambek temuin papi, Ga. Di ruang kerja." Lanjutnya pada Dirga.


"Ngobrol sama Dirga nya jangan lama-lama, Pi." Ucap Kara.


"Katanya lagi ngambek nggak mau ngomong sama Papi? Kok barusan ngomong."


"Papi!"


"Hust hust udah! Pake sendalnya! Kebiasaan mau lempar-lempar." Cegah Dirga.


"Tuh dengerin kalo suami ngomong! Katanya istri solehah." Ledek Rama. Membuat anaknya kesal itu menyenangkan, Kara terlihat lebih menggemaskan saat marah-marah.


"Ini sama anak sendiri aja diledek terus! Udah tau anak lagi ngambek malah sengaja diledekin!" Jesi mencubit lengan suaminya dan membawanya pergi dari sana.


"Abis Kara kalo ngambek lucu, kayaknya mami nya dulu." Balas Rama.


Sudah satu jam lebih Kara menunggu Dirga yang sedang di panggil papi nya, suaminya itu tak kunjung kembali padahal dia ingin disayang-sayang seperti biasa sebelum tidur.


Tepat jam sebelas malam Dirga kembali ke kamar Kara. Gadis itu sudah terlelap dengan bibir yang sedikit terbuka, kedua tangannya memeluk erat Dirdiran.


Dengan perlahan Dirga naik ke ranjang dan mengambil Dirdiran dari pelukan Kara. Istrinya sedikit terusik saat benda besar yang dipelukannya disingkirkan, dia meraba-raba sekitarnya dan berakhir memeluk erat papi nya Dirdiran.


"Maaf yah lama. Papi ngobrolnya panjang kali lebar, sayang. Tapi lo pasti seneng banget, karena besok pas lo bangun gue masih disini, meluk lo kayak gini. Seperti yang lo mau selama ini, Ra." Ucapnya seraya mengelus sayang wajah yang sudah terlelap di pelukannya.


.


.


.


Gimana-gimana, ini bukan mimpi kan thor?? πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›