
“Ra, mau kemana?” Dirga mengikuti Kara yang berjalan keluar lapang basket.
“Pulang lah.” jawab gadis itu tanpa menoleh.
“Kok pulang sih? Biasanya juga nonton gue main basket sambil teriak-teriak.”
“Itu kan biasanya, sekarang udah beda, Ga. Mau pulang aja bantu mami nyiram bunga. Males di sini ada lo.” Ucap Kara dengan berat hati, meski tak dipungkiri ia sebenarnya senang Dirga mulai memperhatikannya. Tapi kali ini tak ingin goyah hanya karena sikap manis lelaki itu. Jika ditanya masih cinta apa nggak ke Dirga? Tentu jawabannya masih. Karena merubah perasaan yang sudah melekat sejak lama tak semudah membalikan telapak tangan. Untuk saat ini Kara hanya ingin menjalani semuanya sebiasa mungkin, menganggap Dirga layaknya teman biasa saja. Meski sulit tapi ia harus bisa. Soal selama ini ia yang terus mengejar dan sering dibalas seperlunya oleh Dirga tak masalah untuk Kara bahkan tak mengurangi cintanya sedikit pun, tapi melihat Dirga bersama perempuan lain benar-benar bukan merupakan sikap yang bisa ditolerir lagi baginya.
“Males?” rasanya tak percaya Dirga bisa mendengar kalimat itu keluar dari bibir gadis yang selalu mengikutinya kemana pun.
“Iya males!” tegas Kara. “Please, jangan ikutin gue lagi Ga! biasanya juga lo nggak peduli sama gue. Dirgantara Rahardian, tetangga gue, ketos SMK Persada, gue mohon bersikap kayak biasanya aja. Cuekin gue, jaga jarak dari gue, biarin gue mulai terbiasa tanpa lo.”
“Nggak bisa gitu dong, Ra! gini-gini gue calon suami lo.”
“Udah bukan, Ga. Sekarang kita dijalan masing-masing aja. Sebatas teman sekolah dan tetangga. Gue balik dulu.” Pamitnya.
Dirga terpaku sebentar mendengar ucapan Kara, beberapa detik kemudian ia menyusul gadis itu dan menarik tangannya hingga berhenti jalan. “Lo masih marah gara-gara gue jalan sama Deva? Oke gue minta maaf, Ra. Gue salah.”
“Iya, nggak apa-apa. Udah gue maafin kok.” jawab Kara.
“Kalo gitu perjodohannya nggak jadi batal yah, Ra? kita baikan kan sekarang?”
Kara mengangguk sambil tersenyum, “iya kita baikan. Tapi soal perjodohan itu udah keputusan terbaik buat gue.”
“Nggak bisa gitu dong, Ra. Gue nggak terima perjodohan kita batal!” ucap Dirga, “gue nggak bisa terima, Ra! gue cin...” Dirga hanya berdecak pelan, bahkan untuk mengucapkan satu kata yang biasa diucapkan Sasa dengan enteng pun ia kesulitan. Lidahnya mendadak kelu dan sulit untuk bicara, padahal hanya di depan satu orang. Biasanya di depan banyak siswa saja dia bisa bicara lancar tanpa terbata sedikit pun.
“Gaje banget lo, Ga!” ejek Kara kemudian berlalu meninggalkannya.
“Ra, tunggu! Gue belum selesai ngomong.” Teriak Dirga.
Namun disisi lain Sasa juga berteriak sambil memukul mangkuk bubur ayam dengan sendok layaknya tukang baso. “Kak Dirga jangan kabur, buburnya belum dibayar. Sasa nggak bawa uang.”
“Ribet banget dah punya adek satu.” Gumam Dirga kemudian menghampiri Sasa dan membayar buburnya. “Mang, bayar buat empat porsi yah. Sekalian buat tiga minggu ke depan. Ini bocah kalo kesini nggak pernah bawa uang.” Ucap Dirga sambil memberikan uang pada penjual bubur ayam. Dirga melirik sekilas pada adiknya yang balas tersenyum padanya.
“Makasih, Kak.” Ucapnya.
“Kebiasaan lo, nggak bawa uang mulu!”
“Kan penghematan kak. Biar uang jajan Sasa utuh, kan hemat pangkal kaya.” Ucap Sasa.
“Iya uang jajan lo utuh, dompet gue menangis.” Ucap Dirga.
“Emang dompet bisa nangis yah, Kak?” ledek Sasa.
“Tau ah cape ngomong sama lo, Sa. Gue mau balik dah.”
“Nggak maen dulu kak?”
“Nggak, kaki lagi nggak fit.”
“Kaki kakak kenapa emang?”
“Nggak apa-apa, micin! Udah lo main aja sana sama Zein, kalo nggak teriak-teriak sana dukung Ridwan tuh.” Dirga menunjuk Ridwan dan Adrian yang sedang bermain basket.
Sasa menengok sekilas ke lapang kemudian kembali menatap kakaknya, “lagi males sama Ririd, kak. Sasa lagi suka sama temen Kaleng yang cakep itu. siapa yah namanya Sasa lupa?”
“Ah iya Sasa inget sekarang, Kak Tama namanya. Iya kan, kak? Dia udah punya cewek belum, kak?” sambungnya kemudian.
Dirga tak menjawab ocehan adiknya, dia pergi begitu saja. Tak habis pikir tak hanya gadis-gadis di sekolah yang tergila-gila pada Tama, kini adiknya juga ikut-ikutan. Kalo di pikir baik-baik apa lebihnya lelaki itu? hanya pintar tebar pesona dan mengumbar kata-kata manis.
“Mikir-mikir Dirga plase, gimana caranya bikin Kara nggak jadi jalan sama teman-temannya.” Dirga makin mondar-mandir di atas sana. Tak lama kemudian ide cemerlang muncul di otaknya, dia buru-buru keluar kamar dan menghampiri Zein yang sedang bermain dengan Sasa, ditemani oleh mommy Miya dan daddy Ardi. Adiknya itu sejak pulang dari lapang basket membawa serta Zein bersamanya.
“Zein, ikut Om Dirga yuk!” Dirga duduk bersimpuh di depan balita yang sedang menggigit bola kecil. Anak Retha itu memang sedang di tahap memasukan apa pun yang ia temukan ke dalam mulut.
“Jangan macem-macem kamu, Ga. Zein lagi anteng, biarin aja.” Ucap mommy Miya.
“Iya, ntar jadi nangis kalo sama kak Dirga.” Imbuh Sasa.
“Justru gue pengen dia nangis. Ayo Zein!” tanpa menunggu persetujuan Dirga menggendong balita itu, dan benar saja seketika Zein langsung menangis.
“Dirga!” teriak mommy Miya, “mau dibawa kemana?”
“Pinjem bentar, mom.” Balas Dirga. “good job, Zein. Nangis yang kenceng.” Ucap Dirga seraya keluar rumah dengan buru-buru.
“Pagi, Mi.” Sapanya pada Jesi yang ada di halaman, wanita itu sedang memiringkan pot-pot kaktus yang disiram Kara supaya airnya sedikit berkurang. Kali aja masih bisa hidup pikirnya.
“Kamu apain itu anaknya Reret sampe nangis kejer?” tanya mami Jesi. Wanita itu menyudahi aktivitasnya dan menghampiri Dirga.
“Sini-sini anak ganteng sama mami yah.” Lanjutnya seraya mengulurkan tangan pada Zein. Balita itu langsung merespon dengan balik mengulurkan kedua tangannya minta di gendong.
“Jangan, Mi.” Dirga menjauh dari dari mami Jesi. “Katanya Zein pengen ke tante Kara. Dari tadi ala... ala... terus nangis deh.” Dirga menirukan cara bicara Zein yang tak jelas. “Kara nya dimana, mi? Makin kejer nih ponakan aku.” Lanjutnya.
Huft!! Mami Jesi menghela nafas dalam dan membuangnya perlahan, “sebenernya mami masih kesel sama kamu, tapi nggak tega juga liat Zein nangis kayak gitu.” Ucap mami Jesi.
“Kara ada di kamarnya lagi siap-siap mau otw katanya.” Imbuhnya.
“Ya udah aku langsung ke kamar Kara aja, Mi.” Tanpa menunggu jawaban lelaki itu buru-buru masuk ke dalam rumah.
“Nggak boleh! Tunggu di ruang tamu aja.” Cegah mami Jesi yang menyusulnya.
Dirga duduk di ruang tamu sambil berusaha menenangkan Zein yang sudah tentu hasilnya sia-sia karena pada dasarnya balita itu tak suka ikut lelaki mana pun kecuali bapaknya sendiri.
“Ra, Zein nih...” Dirga beranjak berdiri saat melihat Kara muncul. Gadis itu terlihat cantik dengan rambut yang dibiarkan tergerai. “nangis terus, pengen sama lo. Dari tadi Ala ala mulu.. ya udah gue bawa kesini.”
“Sini-sini sama tante Kara, sayang.” Kara mengambil Zein dari gendongan Dirga, balita itu langsung berhenti menangis di pangkuan Kara.
“Udah tau Zein nggak suka ikut lo, ngapain di gendong-gendong sih?” ketus Kara. “Karet kemana emang? Kok bisa Zein sama lo?” lanjutnya.
“Kak Retha lagi di rumah tante Freya lah. Zein tadi dibawa Sasa ke rumah, tapi sekarang Sasa nya malah sibuk sama Drakor di kamar terus kamarnya di kunci pula, jadi gue deh yang kena batunya mesti ngasuh Zein.” Jawab Dirga.
“Sorry Sa, gue pake nama lo. Urgent, demi kebaikan.” Batin Dirga.
“Kan ada mommy kali, Ga. kasih ke mommy aja, gue mau jalan nih. Bentar lagi berangkat.”
“Mommy sama daddy lagi belanja bulanan.” Jawabnya berbohong lagi.
“Ih terus gimana? Gue mau pergi.” Gerutu Kara.
“Ya jangan pergi aja, Ra. batalin!” jawab Dirga, “kita di rumah aja, ngasuh Zein. Masa lo tega sama ponakan gue, ntar dia nangis kalo lo tinggalin.” Lanjutnya.
Kara terlihat menghela nafas sambil sesekali melihat pada Zein di pangkuannya.
“Kalo nggak lo jalan sama gue aja, kita ajak Zein sekalin. Beres kan? Tetep bisa jalan ke mall terus Zein juga nggak bakal nangis-nangis lagi.” Ucap Dirga sambil tersenyum dan meraih tangan kecil Zein. “Zein mau kan jalan-jalan bareng Om Dirga sama tante Kara?”
“Mau banget Om.” lanjutnya, Dirga menjawab sendiri.