Always Loving U

Always Loving U
Maling



Sampe malam menjelang Dirga sama sekali tak keluar dari kamarnya. Entah apa yang dilakukan lelaki terpandai di SMK Persada itu di dalam sana. Sasa, si adik yang biasanya suka keluar masuk tanpa permisi pun hari ini tak berani masuk ke kamar Dirga setelah dibentak habis-habisan siang tadi. Gadis itu hanya mondar-mandir di depan kamar kakaknya, ingin masuk tapi takut.


“Tau ah bodo amat. Kak Dirga juga nggak bakal bunuh diri kan?” ocehnya sendiri seraya menuruni tangga untuk menemui daddy nya dan bermanja-manja dengan lelaki yang menurut Sasa paling segalanya. Meski tak dipungkiri sebenarnya dia khawatir setengah mati pada Dirga, apalagi mengingat cerita mommy nya sebelum ia tidur siang tadi. Kakaknya sampai belum mandi dari kemarin.


Sasa menghampiri daddy Ardi yang sedang sibuk dengan tablet di tangannya, meski hari libur tapi tetap ada beberapa hal yang harus ia periksa.


“Daddy.” Panggil Sasa seraya mendudukan diri di samping daddy Ardi dan bersandar pada bahunya, manja.


“Putri daddy udah bangun.” Daddy Ardi meletakan tabletnya ke meja, sebelum di protes Sasa karena masih terus kerja meskipun weekend telah tiba. “Gimana pramukanya? Seru nggak?”


“Perjodohan Kaleng sama Kak Dirga beneran dibatalin, Dad?” bukannya menjawab pertanyaan daddy nya, dia justru balik bertanya.


“Jawab dulu dong pertanyaan daddy.” Gemas, daddy Ardi mencubit hidung mancung Sasa.


“Pramuka ya gitu-gitu aja, Dad. Biasa pagi-pagi upacara pembukaan terus siangnya menjelajah, sorenya diisi materi kepramukaan sama game-game gitu. Seru seperti biasa, kecuali acara malemnya yang Sasa nggak suka.”


“Kenapa? Bukannya seru ada api unggunnya?” tanya daddy Ardi.


“Kesel aja, Dad. Pas siang Sasa dapet kakak senior pembimbing yang cakep, baik lagi. Perhatian banget sama Sasa. Namanya Kak Justin, Dad. Tinggi, hitam manis gitu deh. Sasa sampe pura-pura sakit pas kegiatan menjelajah biar nggak cape, terus di UKS deh di temenin kak Justin.Eh malemnya malah dapat kakak pembimbing cewek yang judesnya minta ampun. Sasa salah mulu deh di mata dia, Sasa yakin itu kakak-kakak demen sama kak Justin deh tapi kak Justin nya demen sama Sasa.”


“Aw... Aw... sakit, Dad!” keluh Sasa saat daddy nya menjewer telinganya.


“Syukurin! Abis baru kelas 1 SMA aja kamu malah main-main. Bukannya ikutin kegiatan yang bener malah modusin senior!” Daddy Ardi kembali menjewer telinga Sasa.


“Siapa juga yang modus, Dad? Sasa tuh cuma jaga diri supaya nggak kecapean terus sakit. Kan kasihan mommy sama daddy kalo Sasa sakit pasti pada khawatir semua. Makanya Sasa pura-pura kecapean aja. Semua karena Sasa sayang sama mommy sama daddy juga.” Jawab gadis itu beralasan.


“Bisa aja alesannya nih putri daddy. Sekolah yang bener jangan ngurusin cinta-cinta mulu, masih kecil juga. Daddy aja dulu sekolahnya rajin bela-belain jauh dari orang tua biar mandiri.” Daddy Ardi. mengusak gemas rambut Sasa.


“Biar mandiri apa demi ngejar mamanya Retha?” sindir mommy Miya yang baru saja bergabung. Retha itu anak dari kakaknya daddy Ardi, Arka. Pemuda yang menikahi perempuan yang menjadi incaran adiknya. (yang belum tau kisah Ardi, Miya, Freya, Arka bisa banget baca JODOH DARI GC).


“Heh? Emang daddy pernah ngejar tante Freya?” Mata Sasa langsung berbinar antusias kalo dengar soal cinta-cinta.


Sst!! Daddy Ardi meletakan jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat supaya istrinya tak membuka masa lalu mereka.


“Iya lah sampe bela-belain jauh-jauh sekolah SMK di Yogyakarta padahal di Bandung aja banyak.” Balas mommy Miya yang tak mengubris isyarat suaminya.


“Ih Daddy nakal yah sampe pindah sekolah segala.” Ejek Sasa pada daddy nya. “Sasa juga mau dong Dad pindah ke sekolah Kaleng, temen Kaleng yang tadi ganteng banget, Sasa jatuh cinta pada pandangan pertama.” Lanjut gadis itu sambil cengar-cengir tak jelas.


Daddy Ardi dan Mommy Miya saling pandang dan kompak memutar bola matanya, jengah. Sikap anak kedua mereka memang berbanding terbalik dengan anak pertamanya, jika Dirga sulit mengungkapkan perasaan, maka Sasa bisa mengungkapkan perasaannya kapanpun, dimana pun dan pada siapapun.


“Kalo ketemu orang ganteng langsung aja kamu tuh jatuh cinta pada pandangan pertama, padahal udah nggak tau pandangan yang keberapa.” Ucap daddy Ardi. “waktu SMP kamu bilang jatuh cinta sama Ridwan, terus pernah juga bilang jatuh cinta sama temen kakak kamu pas kerja kelompok disini, waktu ikut ke kantor daddy kamu bilang cinta juga sama anak magang, sekarang tinggal temen Kara jadi sasaran. Ini bibir gampang banget sih bilang cinta.” Daddy Ardi mencubit gemas bibir putrinya.


“Aduh dad sakit atuh. Dari pada nggak diungkapin ntar jadi tekanan batin, Dad. Kayak kak Dirga tuh, ih serem. Cinta dipendam malah otw gila.” Balas Sasa.


“Hush! Kalo ngomong jangan asal ceplos, masa kakak sendiri dikatain otw gila. Udah panggil kakak kamu sana, kita makan malam. Seharian dia nggak keluar kamar.” Ucap Mommy Miya.


“Nggak mau ah, Mom. Sasa takut kena mental. Kakak lagi mode galak.” Tolak Sasa, gadis itu ngeluyur pergi ke ruang makan sambil menarik daddy nya.


“Ya udah biar mommy ambilin makanan daddy dulu, terus manggil kakak kamu.” Balas Miya, ia mengikuti putri bungsu dan suaminya ke ruang makan.


“Eh?” Sasa menahan senyum saat tak sengaja bersitatap dengan Dirga begitu masuk ke ruang makan. Rupanya lelaki itu sudah makan malam lebih dulu, mungkin karena lapar sejak pagi tak makan apa pun. Pakaiannya sudah berganti dan wajahnya pun terlihat lebih segar.


Sasa menggeser kursi di sebelah Dirga, “wangi banget kakaknya Sasa. Udah mandi yah kak?” ledeknya.


“Sasa!” mommy Miya sedikit menggertak supaya Sasa tak mengganggu Dirga. “Jangan dengerin adek kamu, makan yang banyak. Mommy ambilin lagi yah?” sambungnya.


“Nggak usah, Mom. Aku udah kenyang kok.” balas Dirga.


“Mana ada makan dikit gitu udah kenyang, sini Sasa ambilin aja. Makan yang banyak kak, karena merjuangin cinta Kaleng sekarang nggak akan mudah. Kaleng kayaknya udah beneran move on, tadi Sasa bujuk aja nggak mempan.”


Sudah setengah satu malam Dirga belum bisa memejamkan matanya, sudah dua hari ini semenjak pembatalan perjodohan dia tak bisa tidur nyenyak bahkan nyaris tak tidur kalo bukan karena ketiduran. Seperti biasa memantau Kara dari kejauhan.


"Nggak beres nih gue, bisa-bisa nggak tidur lagi malam ini." gumamnya. "Nggak bisa dibiarin, sekarang juga gue mesti mastiin Kara tetep jodoh gue. Gue yakin itu anak pasti belum tidur."


Dirga mengambil hoodie hitam dan berjalan perlahan ke luar kamar. Keadaan rumahnya tak terlalu gelap karena tidak semua lampu dimatikan, mengingat adiknya yang takut gelap.


Dirga sudah tiba di halaman rumah Kara, diambilnya tangga di samping rumah dan memasangnya tepat ke arah balkon kamar Kara.


"Apa kata dunia kalo tau gue manjat rumah orang malem-malem gini? bodo amat dari pada nggak bisa tidur." Dirga memastikan tangganya sudah terpasang dengan benar sebelum menaikinya. Urusan naik tangga dia jagonya, secara sering benerin genteng yang melorot.


Sampai di balkon Kara, Dirga bisa membuka pintu itu dengan mudah. Kebiasaan calon istrinya, eh mantan calon istri belum berubah, selalu saja lupa mengunci pintu. Mungkin karena kebiasaan tak pernah menutup rapat pintu kamarnya.


Ceklek!


Pintu kaca itu terbuka membuat hembusan angin malam masuk ke dalam kamar. Terlihat Kara yang terlelap sambil memeluk bantal guling, bibirnya sedikit terbuka dengan hembusan nafas yang teratur.


Dirga menghampiri Kara di berjongkok di samping ranjang, menatap lekat wajah Kara yang terlelap.


"Bisa-bisanya lo tidur nyenyak setelah mutusin perjodohan kita, Ra. Gue malah nggak bisa tidur dari kemaren."


Dirga mengelus sayang kepala Kara, membelai helaian panjang rambut gadis itu kemudian beralih menyingkirkan poni yang menutupi keningnya.


"cantik calon istri gue." pujinya.


Tangan Dirga beralih menyusuri pipi Kara dan berlama-lama disana hingga membuat pemiliknya terusik dan mulai mengerjapkan mata.


"Mam pus gue, dia bangun." Dirga langsung ketar ketir jadinya. Buru-buru ia mematikan lampu tidur Kara hingga kamar itu gelap gulita dan langsung meninggalkan kamar, bukan lewat balkon melainkan lewat pintu utama.


"Papi... " teriaknya seraya menyalakan lampu, Kara bisa melihat sekelebat bayangan orang yang meninggalkan kamarnya.


"Papi ada maling!!" teriaknya heboh saat mendapati pintu balkonnya terbuka.


Papi, mami dan adiknya jadi keluar dari kamar masing-masing dan menghampiri Kara yang berdiri di depan kamarnya.


"Mana malingnya?"


"Kabur, Pi. barusan Kara liat sekilas doang. Mana malingnya mesum ih pegang-pegang pipi Kara." adunya.


Papi Rama langsung ke depan mencari si maling, tak lupa ia juga menghubungi satpam komplek hingga jalan di depan rumah mereka mendadak ramai karena Rama yang protes penjagaan kurang ketat.


Sasa yang terbangun karena haus dan mengambil minum ke dapur jadi belok ke ruang tamu dan mengintip karena terdengar keramaian di luar sana. Melihat semua anggota keluarga Kara ada di luar membuat Sasa buru-buru membangunkan kedua orang tuanya. Si kakak yang sedang galau pun tak lupa ia gedor kamarnya. Dirga keluar dari kamarnya sambil menguap, berpura-pura tidurnya terganggu.


"Ada apaan sih gedor-gedor jam segini?" tanyanya malas.


"Di depan rumah kita rame, Kak. Ayo buruan ke sana! mommy sama daddy udah duluan." Sasa menarik tangan Dirga.


Tiba di luar Sasa langsung menghampiri Kara, sementara orang tua mereka sibuk dengan petugas keamanan.


"Ada apaan sih, Kaleng?"


"Maling, cin. Mana mesum lagi malingnya nyentuh-nyentuh pipi gue." jawab Kara.


"Ya ampun ngeselin banget sih! Sasa do'ain itu maling kena azab deh." balas Sasa. "Kak Dirga ngapain masih di sini? ikut sana sama daddy dan yang lainnya nyari maling. Pokoknya tuh maling harus ketemu!" lanjutnya.


"Iya-iya. Ini kakak mau otw kok. Tenang aja kakak pasti temuin itu maling. Berani-beraninya dia nyentuh calon istri Dirgantara." ucap Dirga.