
"Mabok? Kamu tuh kalo ngomong yang bener, Ra. Masa mantu kesayangan mami mabok. Orang pas makan malam tadi cuma minum air putih masa mabok." Jesi berdecak lirih.
"Itu Mi maksud Kara muntah-muntah. Kayaknya masuk angin deh, Mi. Minta obat, Mi."
Jesi memberikan teh hangat pada putrinya, "obat mi kok malah teh sih?"
"Itu teh nya udah mami campur obat masuk angin. Kasihin aja ke Dirga, biasanya Papi kalo masuk angin minum itu besoknya sembuh." Jelas Jesi.
"Oh gitu." Kara mengangguk, "makasih, Mi." Lanjutnya.
Kembali ke kamar ternyata Dirga sudah tiduran di ranjang.
"Yang, minum dulu nih. Kata Mami ini teh ampuh buay masuk angin. Udah dicampur obat." Kara membantu Dirga duduk dan memberikan teh nya. "Pelan-pelan panas."
"Makasih, Yang."
"Sama-sama." Kara menyimpan gelas kosong bekas teh dan ikut berbaring di samping Dirga.
"Jangan sakit, Yang." Rengeknya.
"Iya, nggak. Besok juga sembuh. Bobo yah..." Dirga mengelus pipi Kara pelan. Dirinya benar-benar lemas gara-gara muntah sebelum tidur.
"Perut, Yang."
"Oh perut? Iya iya." Jawab Dirga. Sampai pagi Dirga tak menjauhkan tangannya dari perut Kara, karena gadis itu selalu terbangun setiap kali tangannya berpindah mesti secara tak sengaja.
"Udah sembuh sakitnya? Kalo masih belum fit jangan sekolah dulu, lebih baik istirahat. Senin besok kan kalian ujian sekolah." Ucap Jesi saat sedang sarapan.
"Iya Yang mending kita di rumah aja yuk sayang-sayangan biar kamu cepet sembuh. Tuh wajah kamu keliatan pucet Yang." Sambung Kara.
"Yang disuruh istirahat Dirga, Ra bukan kamu." Ucap Jesi.
"Lah kan Kara istrinya. Kalo papi lagi sakit aja mami nemenin."
"Bisa aja jawabnya dasar santen sachetan!" Sindir Ridwan.
"Sirik aja Kang game!" Balas Kara.
"Udah-udah jangan ribut. Kalian itu tiap pagi ribut terus. Sekalinya nggak bikin ribut di rumah malah bikin masalah di sekolah." Lerai Rama.
"Kara, kamu sekolah kurang lebih tinggal semingguan lagi, jangan bikin masalah. Dirga juga kalo masih sakit jangan pergi sekolah."
"Tidak apa-apa, Pi. Udah enakan kok." Jawab Dirga, "yuk Yang berangkat ntar kesiangan kita."
"Oke cus otw. Kita berangkat dulu Pi." Pamitnya.
Di sekolah hari-harinya di jalani seperti biasa. Bahkan sekarang lebih tenang karena Deva tak pernah lagi mengganggunya. Hanya untuk sekedar menyapa pun tidak, Kara dan Deva benar-benar tak bertegur sapa sama sekali. Gadis yang kemaren membuat dirinya dalam masalah kini hanya menunduk setiap kali berpapasan dengan Kara. Kadang Deva justru terlihat jelas-jelas menghindari Kara, raut wajah menyebalkannya sekarang terlihat menyedihkan.
"Si sabun batangan kenapa yah murung banget wajahnya? Gue jadi kasihan." Ucap Kara saat tak sengaja berpapasan dengan Deva ketika dirinya hendak ke kelas Dirga.
"Udah sih biarin aja bukan urusan kita, Ra. Noh kelasnya udah deket, kita pulang duluan yah." Pamit Selvia dan Dila. Sekarang Selvia sudah tak pernah nabrak tukang dagang lagi karena dua bulan lalu setelah beli mobil baru diadakan syukuran dan do'a-do'a ekstra banyak.
"Iya ati-ati." Kara melambaikan tangan pada keduanya.
"Kenapa nggak nunggu di kelas aja Yang? Ini aku baru mau kesana." Ucap Dirga saat mendapati Kara di depan kelas.
"Aku udah selesai dari tadi ngerjain soalnya. Kamu lama banget, jadi aku susulin kesini. Takut kenapa-napa, tiap malem kamu muntah-muntah terus." Jawab Kara. Sejak insiden muntah-muntah beberapa hari lalu sampe sekarang suaminya itu selalu rutin mabok tiap sebelum tidur. Kara mendadak jadi tukang teh anget setiap malam karena Dirga yang menolak ke dokter. Katanya nggak apa-apa karena tiap pagi ia merasa badannya baik-baik saja. Jesi dan Rama pun sudah menyarankan supaya ke dokter tapi menantunya itu keukeuh menolak.
"Pulangnya kita mampir ke rumah sakit yuk Yang. Nanti aku kabarin Om Aldi deh biar kamu langsung di periksa nggak pake antri."
Dirga merangkul Kara di jalanan lorong sekolah yang cukup sepi siang itu. Hanya siswa kelas dua belas yang hadir ke sekolah untuk melaksanakan ujian sementara kelas sebelas dan sepuluh diliburkan.
"Aku nggak apa-apa kok Yang ngapain ke dokter. Nih sehat gini kok. Kemaren-kemaren tuh paling efek terlalu diforsir belajar buat ujian. Ntar malem main yuk? Kan ujiannya udah selesai."
"Kalo kamu nya nggak muntah-muntah, Yang. Udah hampir dua minggu kamu muntah-muntah terus." Jawab Kara.
"Tenang aja ntar malem nggak bakal muntah-muntah deh. Lagian bulan ini kamu belum dapet padahal udah lewat seminggu. Nggak mau aku kalo sampe keduluan sama si merah kayak bulan lalu. Nggak dapet jatah." Keluh Dirga.
"Awas yah kalo baru tiga kali udah nyerah, paginya harus nambah." Ledek Dirga.
"Ish dasar mesum!" Kara mencubit lengan suaminya.
"Ga..." Panggilan Deva membuat keduanya berhenti. Ini kali pertama gadis itu berani berbicara pada mereka.
"Gue mau ngomong bentar aja sama Dirga, Ra. Boleh?"
"Nggak boleh!" Jawab Kara cepat.
"Sayang..."
"Ya udah deh boleh, tapi jangan lama." Ucap Kara, "inget suami gue nih." Lanjutnya pada Deva.
"Iya gue tau Dirga suami lo, Ra. Gue juga tau kalian tinggal bareng dan foto-foto itu sama sekali bukan editan karena gue udah cek keasliannya."
"Bagus deh kalo gitu. Lo bisa berenti ngaku-ngaku jadi calon istri Dirga yang udah dikasih restu sama kakek. Please halunya jangan ketinggian." Ejek Kara. "Yang, aku tunggu di mobil. Jangan lama-lama." Lanjutnya pada Dirga.
Seperti permintaan Kara, tak sampai sepuluh menit Dirga sudah masuk ke dalam mobil. Tak banyak yang dikatakan Deva, gadis itu hanya meminta maaf padanya dan minta ditemani menemui kakek besok. Pasalnya dia takut kakeknya Dirga akan marah dan mencabut semua bantuan yang selama ini diberikan padanya. Sejak SMP, kakek Dirga membiayai hidupnya. Membantu dirinya dan ibunya hingga kini bisa hidup layak dan menikmati belajar di sekolah elit. Mungkin dirinya yang terlalu menganggap serius ucapan kakek Dirga saat pertama kali bertemu dengan pria paruh baya itu di acara olimpiade matematika SMP yang berjanji akan menjadikannya menantu kelak.
"Ngomong apa barusan sabun batangan?" Tanya Kara.
"Nggak ngomong apa-apa, Yang."
"Jangan bohong!"
"Seriusan nggak bohong Yang. Dia cuma minta maaf sama minta temenin nemuin kakek besok. Kamu ikut yah? Kita udah lama nggak ketemu kakek."
"Nggak mau ada sabun batangan!"
"Yakin nggak mau ikut? Ntar malah mkir yang aneh-aneh kalo nggak ikut. Lagian aku nolak Deva yang minta nemuin kakek di luar, aku suruh dia ke rumah kakek aja dan kita ketemu disana. Sasa juga ikut, itu bocah pasti mau minta oleh-oleh yang banyak."
"Ya udah deh aku ikut."
"Nah gitu dong baru istrinya Dirgantara."
Malam harinya sekitar jam sepuluh Kara setengah berlari menuruni tangga.
"Eh ada Om Karak... Ngapain Om jam segini disini? Diusir tante ale-ale yah?" Ledeknya saat melewati Rama dan Raka yang sibuk dengan beberapa berkas di meja makan. Sepertinya mereka baru pulang, makam malam dan lanjut kerja di meja makan. Terlihat dari piring sisa makan mereka yang masih ada dan beberapa berkas yang berceceran.
"Ponakan nggak ada akhlak kalo ngomong sekenanya." Gerutu Raka sambil membenarkan kaca matanya. "Ngapain sih itu bocah jam segini belum merem?" Lanjutnya pada Rama.
"Om kalo mau teh itu masih ada sisa. Ambil aja, Kara ikhlas." Ucap Kara saat melewatinya lagi.
"Sejak kapan santen sachetan minum teh jam segini, Wan? Bukannya biasanya susu kotak."
"Buat lakinya. Muntah-muntah mulu itu anak, disuruh ke dokter katanya nggak apa-apa. Udah ada dua mingguan lah kayak gitu, tiap malem ongkek." Jawab Rama tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas yang sedang ia pegang.
"Wih mantep udah mau jadi kakek aja lo, Wan." Ucap Raka, "gila si santen sachetan udah mau jadi mama muda aja. Kagak kebayang kayak gimana cucu lo, Wan. Emaknya aja modelan si santen." Raka jadi tergelak sendiri.
"Nggak usah mikir kejauhan, anak gue polos!"
"Iya si santen polos tapi lakinya kan kagak. Lo pikir aja masa mereka cuma tidur doang tiap hari bareng-bareng gitu, yang ada si santen udah dipolosin."
"Nggak mungkin lah, Kara itu taunya cuma peluk cium doang. Lagian nggak ada tanda-tanda pengen yang aneh-aneh kayak orang ngidam."
"Nggak percaya banget sama omongan gue, Wan. Kalo lakinya sehat-sehat aja tapi muntah-muntah tiap malem udah fix sih ini." Raka menganggukkan kepalanya, yakin. "Gue nih berpengalaman banget perkara ngidam."
"Inget nggak dulu pas Alya hamil siapa yang muntah-muntah? Gue, Wan! berani taruhan deh gue nggak digaji bulan depan kalo si santen nggak hamil, tapi kalo tuh bocah hamil gantian kasih gue double bonus."
"Gue yakin sih ini si santen hamil."
Rama menutup berkasnya. "Kita lanjut besok aja." Ucapan Raka seketika membuat konsentrasinya buyar. Ia jadi makin ketar ketir mengingat semua yang diucapkan Raka ada benarnya juga, ditambah lagi dengan tubuh Kara yang akhir-akhir ini lebih berisi. Gadis itu pun makan lebih banyak dari biasanya.