Always Loving U

Always Loving U
VC



Dirga mengambil boneka jumbo yang terlantar di lantai dan meletakkannya di dekat Kara. Tak tanggung-tanggung Dirga membuka selimut Kara dan memasukan si pink dirdiran ke dalamnya namun tak sampai tiga detik, boneka itu sudah mendarat lagi di lantai.


“Lo kenapa sih, Ra? Ngambek?” tanyanya tanpa dosa, gadis itu masih terdiam di bawah selimut.


“Lanjutin aja ngambeknya, dasar bocah!” cibir Dirga seperti biasa, ia tau betul Lengkara tak pernah bisa bertahan lama marah padanya. selama ini rekor marah Lengkara tak pernah lebih dari satu hari, paling lama juga dulu hanya setengah hari, itu pun gara-gara Dirga tak sengaja meminum kopi dengan botol bergambar salah satu idol favoritnya.


“Kalo lo nggak suka sama bonekanya biar gue bawa aja, lagian gue yang beli. Mau gue buang!” Dirga kembali mengambil boneka itu.


Kara sedikit membuka selimutnya, ia melihat Dirga yang sedang mengambil Dirdiran kesayangannya. Pemuda itu menyeret boneka jumbonya ke luar.


Kara dengan cepat turun dari ranjang dan merebut bonekanya tanpa bicara, hanya menatap tajam Dirga sebentar saja kemudian kembali masuk ke selimut. Disaat seperti ini ia tak mau berlama-lama menatap Dirga, bisa-bisa hatinya goyah cuma karena melihat wajah tampan itu. Kesel-kesel juga tetep aja, Dirdiran itu hadiah pertama yang ia terima dari Dirga. Tetap spesial dan sangat-sangat spesial!


“Jangan lupa diminum itu halalin nya. Udah gue beliin juga!” ucap Dirga sebelum keluar meninggalkan kamar Kara.


Kara membuka selimutnya saat langkah kaki Dirga yang kian menjauh dan tak lagi terdengar. Dia melirik meja kecil di samping ranjang, ada satu cup boba vanila dengan tulisan HALALIN AKU di wadahnya.


“Jangan lupa itu diminum halalin nya. Udah gue beliin juga.” Kara menirukan cara bicara Dirga, “lo begoo apa gimana sih, Ga? Ngeselin bener dah!” gerutunya namun tetap meraih cup boba dan menyedotnya sedikit.


“Lo mau?” Kara menyodorkan bobanya pada Dirdiran yang hanya diam membisu. “papi lo begoo banget deh, Diran... mami minta di halalin malah dibeliin boba. Edan kan?” lanjutnya seraya mendengus kesal.


“Huh pengen gue bejek-bejek deh si Dirga. My Dirgantara ngeselin... ngeselin!!” kesalnya sambil memukul Dirdiran yang tak punya salah apa pun. Boneka jumbo berwarna pink itu jadi sasaran kemarahannya.


“Ups... cup.. cup... maaf yah mami mukulin kamu... abis papi kamu ngeselin.” Kara sudah oleng, boneka sudah dianiaya kemudian ia sayang-sayang lagi, dielus dan dipeluk penuh perasaan.


Belum selesai ia bermonolog dengan boneka jumbo itu, ponselnya sudah berbunyi berulang kali. Panggilan vidio dari Selvia dan Dila. Meski malas, Lengkara menggeser ikon telepon berwarna hijau hingga dua wajah sahabat terbaiknya memenuhi layar.


“Dari tadi nggak diangkat-angkat, Ra? Padahal gue pengen lihat akad nikahnya loh.” Ucap Dila begitu antusias.


“Iya, gimana-gimana? Lancar nggak? Tadi jadi ke KUA nya?” sambung Selvia.


Kara hanya memutar bola matanya jengah, tidak tau saja dua sahabatnya itu kalo dirinya sedang kecewa setengah mam pus.


“Woy, Ra... jawab dong!”


“Tau nih kenapa malah lemes gitu sih mukanya?” tanya Selvia.


“Jangan bilang lo abis di garap sama Dirga?” lanjutnya.


“What? Masa sih secepat itu langsung tancap gas aja, Sel?” seru Dila.


“Ya laki mah kalo udah sah nunggu apa lagi sih? “ ucap Selvia. “gue cuma mau ngingetin aja Ra, jangan sampe hamil. Kita masih sekolah woy.” Lanjutnya.


“Eh sakit nggak sih, Ra?” sambung Dila. “jangan bilang lo sampe nggak bisa jalan? Tapi nggak apa-apa juga sih kan besok pramuka. Bolos aja nggak apa-apa lah.”


“Udah ngomongnya? Kalo udah gue matiin nih.” Ucap Kara.


“Cie yang mau gas lagi... masih siang, Ra. Ntar lah nunggu maleman.” Ledek Selvia.


“Gue mau gas tidur lah, cape!” balas Kara irit.


“Nggak usah pada ngaco deh kalian berdua. Temen bobo dari hongkong! Nih temen bobo gue!” gue memperlihatkan Dirdiran.


“Lah Dirga nya kemana? Jangan bilang kalo lo berdua pisah ranjang.” Tebak Selvia.


“Pikiran lo berdua cuma ranjang doang. Gue nggak jadi nikah! Liat nih halalin.” Kara menunjukan bobanya. "Kesel banget sumpah gue.” Lanjutnya.


Panjang lebar Kara menceritakan insiden boba halalin yang menyebalkan itu, hingga kedua sahabatnya hanya tertawa puas mendengarnya.


“Tuh kan!! Pas tadi di sekolah lo bilang Dirga mau ngehalalin lo aja gue udah setengah nggak percaya, tapi berhubung lo nya udah seneng banget ya udah gue iyain aja.” Ujar Selvia.


“Tau lah, Sel... kesel banget gue, rasanya nyesek.” Balas Kara.


“Lo stop deh Ra, ngejar Dirga. Gue cape liatnya. Lo nggak cape?”


“Iya, sama Sel. Gue cape liatnya.” Sambung Dila si jomblo yang senangnya cari yang bening-bening.


“Nggak tau deh. Hati gue nih udah mentok di Dirga.” Ucap Kara lirih.


“Ya mundurin dikit, Ra. Jangan sampe mentok. Lo tau nggak? Seseorang akan bertidak semaunya saat merasa dirinya dianggap penting. Saat merasa apa pun yang dia lakuin nggak akan bikin lo benci sama dia. Please, Ra! Bukan gue so ikut campur soal perasaan lo, tapi ini karena gue peduli sama lo. Buka mata lo, di dunia ini nggak cuma Dirga. Gue akuin calon suami lo itu ganteng, pinter, idaman cewek-cewek di sekolah kita, tapi buat apa kalo dia nggak bisa ngehargain lo? Buat apa kalo di matanya lo itu cuma adek.” Ucap Selvia panjang lebar.


“Jangan ngomong dulu! Gue belum selesai.” selanya begitu melihat Kara hendak bicara.


“Cewek itu harusnya diperjuangin cowok, Ra. Bukan malah lo yang merjuangin dia, kebalik!”


“Berhenti ngejar Dirga, Ra. Supaya dia tau betapa berharganya lo buat dia. Kalo perlu lo buka hati lo buat cowok lain, Pratama Arhan misalnya? Atau cowok-cowok lain juga nggak apa-apa, banyak yang suka sama lo. Temen-temen cowok gue juga banyak yang nanyain lo. Kalo lo nggak buka hati buat yang lain gimana lo bisa tau kalo di luar sana banyak yang lebih dari Dirga.” Pungkas Selvia.


Kara terdiam mencoba mencerna nasihat sahabatnya, menjauhi Dirga dan memberi kesempatan pada lelaki lain bukan pertama kali ia dengar. Sudah berulang kali, bahkan si micin pun pernah menyarankannya berdasarkan drama korea yang mereka tonton.


Kara menghela nafas panjang, ini keputusan terberat yang harus ia ambil setelah bertahun-tahun usianya dihabiskan sebagai bucinable tetangga depan rumah.


“Tapi nanti kalo Dirga malah makin ngejauh dari gue gimana? Gue tempel tiap hari aja nggak kena-kena ini malah suruh dijauhin?” tanya Kara.


“Percaya sama gue, Ra. Semua nggak akan seburuk yang lo kira. Delapan puluh persen gue yakin Dirga nggak akan ngejauh dari lo!” jawab Selvia mantap. Melihat bagaimana Dirga memperlakukan Kara selama ini, ia yakin betul jika calon suami sahabatnya yang selalu berkedok adik kakak itu hanya belum menyadari perasaannya.


“Kalo dia makin jauh gimana? Lo mau tanggung jawab?”


“Gue ini udah pengalaman soal cinta-cintaan, Ra. Udah lo coba dulu aja. Kalo dia makin ngejauh ya berati bukan jodoh.” Balas Selvia. “Dah lah gue mau siap-siap dulu. Bentar lagi Kak Septian jemput nih.” Lanjutnya.


“Kak Septian apa Om Septian, Sel?” Dila yang dari tadi jadi pendengar yang baik akhirnya ikut bersuara.


“Kak Septian lah. Lo berdua para jomblo sana pada bobo siang aja. Gue mau jalan. Bye.” Selvia memutus panggilan vidionya.


Setelah sesi vidio call yang cukup lama berakhir, Kara masih bersandar di kepala ranjang sambil memeluk Dirdiran di pangkuannya. “Oke Dirdiran, mami bakal ngejauh dari papi kamu. Tapi tenang aja, mami nggak selingkuh kok. Papimu tetep number one di hati mami.”


Sementara itu Dirga sedang mondar-mandir di balkon depan kamarnya, melihat ke arah kamar Kara. Dirga berulang kali melihat jam tangan yang terpasang di lengan kirinya.


“Udah dua jam lebih, tumben masih belum keliatan?” ucapnya lirih.