
Jo pun segera menghampiri sang istri yang baru masuk ke dalam rumah.
"Sayang, kamu sudah berada di rumah?" tanya Mira ketika sang suami mendekatinya.
"Dari mana saja kau?" tanya Jo balik tanpa menjawab pertanyaan dari sang istri. "Apa kamu lupa, kamu itu seorang ibu, tapi keluar rumah tidak ingat waktu seperti ini!" seru Jo.
"Sayang, ada apa denganmu, kenapa kamu marah-marah tidak jelas sih?"
"Tidak jelas kamu bilang, kamu tidak tahu kan, Ara sedang sakit, kamu malah pergi, seolah-olah tidak memiliki tanggung jawab sebagai seorang ibu, ibu macam apa kamu hah!" ucap kesal Jo.
Namun, kekesalannya bukan hanya karena Mira, tapi juga karena Ev, yang dengan sepihak memutus hubungannya.
"Ara sakit, sayang?"
"Kamu ibunya, tapi anak sakit tidak tahu, apa urusan kamu yang tidak jelas itu, lebih penting dari anak kamu sendiri. Hingga ponsel kamu matikan, katakan Mir!" seru Jo.
"Maaf sayang, ponsel aku hilang,"
"Iya Jo, ponsel Mira hilang, aku tadi sudah membantu Mira mencari ponselnya, tapi tidak ketemu," sambung Bara membenarkan ucapan dari adik iparnya.
"Membantu mencari ponsel Mira?" tanya Jo penuh selidik, mengulangi apa yang sang kakak katakan, dan Jo berpikir Mira tadi pergi bersama dengan sang Kakak.
"Iya Jo, tadi aku bertemu dengan Mira di sebuah pusat pembelanjaan, dan melihat dia sedang kebingungan karena ponselnya hilang," jelas Bara, tidak ingin sang adik berpikir macam-macam tentangnya dan Mira. "Lagian untuk apa kamu memarahi Mira, putri kamu sudah bersama dengan pengasuhnya kan?"
"Jangan ikut campur urusan rumah tangga aku, Kak,"
"Bukan ingin ikut campur, tapi kamu membayar mahal pengasuh, tentu saja dia harus bekerja sesuai tugasnya, termasuk jika Ara sedang sakit,"
"Tapi seorang anak butuh ibu disisinya Kak,"
"Eleh begitu saja di ambil pusing, lagian juga pasti Ara baik-baik saja,"
Namun, Jo tidak lagi menanggapi ucapan sang Kakak, dan kini menarik tangan sang istri.
"Jangan kasar Jo," ujar Bara sambil menahan satu tangan Mira.
"Aku mohon, jangan ikut campur urusan rumah tangga aku!" tegas Jo dan menarik tangan Mira dengan kencang, agar terlepas dari genggaman tangan Bara.
"Dari pada ikut campur dengan rumah tangga orang, mending aku bersenang-senang," ucap Bara.
"Awww, sayang sakit, apa yang kamu lalukan?" tanya Mira, karena setibanya di dalam kamar, Jo melepas tangannya dengan kasar, hingga ia terjatuh tepat di atas tempat tidur. "Kenapa kamu jadi kasar seperti ini, sayang?" tanyanya lagi, karena sang suami tidak pernah memperlakukan dirinya dengan kasar, seperti apa yang baru saja di lakukannya.
"Mulai besok, jangan pernah keluar dari rumah tanpa seijin aku, paham!"
"Sayang, tapi..."
"Tidak ada tapi tapian, jika kamu masih keluar dari rumah tanpa seijin aku, lebih baik kamu tidak kembali, paham!" tegas Jo, yang langsung meninggalkan kamar.
"Ada apa dengan suamiku, masa hanya karena Ara sakit dia seperti ini," ucap Mira, yang merasa bingung dengan sikap sang suami.
*
*
*
Setelah makan malam, Ev tidak langsung pulang, karena ia langsung menuju ke sebuah klub malam, tentu saja tanpa Albert, yang tadi sudah mengantarnya pulang.
Melainkan dengan Jeni sang sahabat, yang hampir setiap malam pergi ke klub malam, tidak dengan Ev, yang jarang pergi ke tempat tersebut.
"Tumben kamu mau pergi ke klub malam Ev, mau cari om-om baru ya, yang kemarin lemah kan, pasti hanya kuat dua menit," ujar Jeni ketika keduanya baru tiba di sebuah klub malam, dan sekarang duduk di sebuah sofa.
Namun, Ev tidak menanggapi ucapan dari sang sahabat, karena tatapan matanya kini tertuju pada seseorang yang sedang duduk di sebuah kursi tepat di depan meja bartender.
Untuk memastikan jika ia tidak salah lihat, kemudian Ev mengambil ponselnya, lalu membuka galeri ponselnya untuk memastikan jika seseorang yang baru saja ia lihat, adalah seseorang yang sudah membunuh sang papa.
Ev pun kini menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya, jika seseorang yang sedang duduk di kursi tepat di depan meja bartender, adalah Bara, pria yang sudah membunuh sang papa, kemudian Ev pun beranjak dari duduknya.
"Ev, mau ke mana?" tanya Jeni.
Namun, Ev tidak menghiraukan pertanyaan sang sahabat, karena ia langsung berjalan menuju di mana Bara berada.
Bersambung...........