
Semua mata tertuju pada oma Camel yang baru saja berteriak pada sang putri, setelah mama Hazel menampik tangan mama Lala yang ingin menjabat tangannya.
"Kurang ajar kamu ya, benar-benar minta di kirim ke kutub utara kamu!" kesal oma Camel pada sang putri.
Namun, tidak dihiraukan oleh mama Hazel yang kini mendorong mama Lala untuk menjauh.
"Hazel!" teriak oma Camel lagi, lalu mendorong tubuh sang putri. "Benar-benar kamu ya, apa kamu lupa, yang tadi mama katakan padamu, hah?!"
Kembali lagi, mama Hazel tidak menanggapi ucapan dari sang mami, yang ada ia kini duduk di salah satu sofa, sambil meringis.
"Hazel!"
"Berisik Mi, sakit tahu!" sahut mama Hazel yang kini mengangkat satu kakinya, yang baru saja di injak oleh mama Lala yang mengenakan hak. "Aduh sakit, Mi," keluh mama Hazel, membuat oma Camel kini mendekati sang putri, dan melihat ibu jari kaki sang putri yang terlihat merah karena injakkan tidak sengaja dari mama Lala.
"Kamu kenapa?" tanya oma Camel bingung.
"Dia menginjak kaki aku, Mi," mama Hazel menunjuk ke arah mama Lala, dimana semua orang kini menatap ke arahnya.
Membuat mama Lala langsung mengukir senyum, dan kini mendekati mama Hazel.
"Maaf, aku tidak sengaja, sekali lagi maafkan aku," ucap mama Lala yang merasa bersalah.
"Tidak masalah, ini karma untuk dia," sahut oma Camel, menanggapi ucapan permintaan maaf mama Lala pada mama Hazel, dan sekarang ia menggandeng tangan mama Lala menuju meja makan. "Kita makan malam dulu yuk, setelah itu kita berbicang mengenai hubungan cucuku dan juga Jo," ajak oma Camel yang langsung di ikuti oleh mama Lala dan juga yang lainnya, meninggalkan mama Hazel seorang diri.
Namun, papa Zain yang baru sampai ruang makan, langsung kembali untuk menghampiri sang istri.
"Sayang, sakit?"
"Jangan tanya!"
"Ish, kalau marah kamu tambah cantik deh, jadi pengin bikin adik untuk Ed dan juga En,"
Mama Hazel melolot ke arah sang suami setelah mendengar apa yang di katakannya.
"Apa lagi kalau melotot, jadi ingin berlama-lama bikin adik untuk si kembar,"
"Zain!" kesal Mama Hazel.
"Iya sayang, nanti malam ya, oke, sekarang yuk makan malam lagi?"
"Ogah!"
"Hei sayang, ada calon menantu dan juga besan kita loh di sini,"
"Aku tidak peduli,"
"Yakin?"
"Padahal Jo calon suami yang pasti akan bertanggung jawab pada Ev loh, sayang. Buktinya setelah kamu menyuruhnya untuk menjauh dari Ev, dia malah datang ke sini dengan tujuan ingin melamar putri kita," ucap papa Zain yang langsung membekap mulutnya, sudah mengatakan apa yang seharusnya tidak ia katakan.
Dimana ia tahu ke mana sang istri tadi pagi pergi, karena papa Zain langsung menghubungi nomor ponsel Jo, yang ia dapat dari Ev.
Saat ia ingin menanyakan langsung pada Jo, keseriusannya dengan Ev. Hingga akhirnya Jo mengatakan jika mama Hazel pergi menemuinya.
Mama Hazel memicingkan matanya mendengar apa yang di katakan oleh sang suami.
Dan papa Zain kembali menuju ruang makan, ketika melihat reaksi sang istri.
"Zain!"
*
*
*
Sementara itu di sebuah apartemen sederhana yang pernah Mira tinggali, dan sekarang harus ia tempati kembali, setelah di usir oleh Jo.
Mira terus marah-marah, setelah menidurkan Ara sang putri, yang akhirnya ia bawa atas perintah Jo.
Tentu saja ia marah-marah pada papa Rudi yang juga berada di apartemen sederhana tersebut, tempat keduanya dulu sering menghabiskan malam, sebelum Mira menikah dengan Jo.
"Aku tidak mau tahu, jatah bulanan yang setiap bulan papa berikan selama ini padaku, tidak boleh telat,"
"Baby, tapi papa sudah tidak memiliki apa pun lagi,"
"Terus bagaimana dengan perawatan tubuh aku dan juga lainnya Pa?!"
"Jangan memikirkan hal itu,"
"Enak saja, tidak bisa!" sahut Mira, karena setiap bulan papa Rudi selalu memberikan uang yang jumlahnya tidak sedikit padanya.
"Yang penting kita bisa makan Baby,"
"Yang aku butuhkan perawatan paham! Dasar tua bangka!" kesal Mira.
"Baby, kenapa kamu bicara seperti itu, pada papa?" tanya papa Rudi karena selama ini ia tidak pernah mendengar ucapan yang baru saja Mira katakan.
"Kenapa, itu benar bukan? Jika papa tidak bisa memberikan apa yang aku inginkan, pergi saja sana!" usir Mira lalu mendorong tubuh papa Rudi, hingga jatuh tersungkur.
"Ba... baby, to... long,"
Bersambung..........