AFFAIR With Mr. JO

AFFAIR With Mr. JO
Kartu Tanpa Limit



Selepas kepergian Jo dari rumah setelah ia mendapat tanda tangan dari Mira di surat perceraian.


Mira langsung menghubungi papa Rudi untuk memberi tahu, apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan juga Jo.


Hingga papa Rudi akhirnya menemui Mira, di sebuah restoran mewah di mana keduanya sering menikmati makan malam bersama.


Dan papa Rudi kini memeluk Mira yang baru saja tiba di restoran tersebut, ketika melihat raut wajah menantu rasa istri tersebut terlihat begitu kesal.


Setelah beberapa saat papa Rudi memeluk Mira, kini ia melepas pelukannya, lalu meraih dagunya, agar ia bisa menatap lekat wajah Mira.


"Baby, jadi Jo sudah mengetahui hubungan kita? Dan dia juga ingin bercerai dengan kamu?" tanya papa Rudi, untuk memastikan yang tadi Mira katakan di sambungan ponsel benar.


"Iya Pa, terus aku bagaimana? Dan kenapa Jo bisa mendapat rekaman aktifitas kita di luar negeri kemarin, Pa?" tanya Mira, yang masih bingung, kenapa Jo bisa mendapat rekaman itu.


"Papa rasa dia sudah menyuruh orang untuk membuntuti kita Baby,"


"Jadi otomatis, dia sudah tahu hubungan kita dari lama dong Pa?"


"Bisa jadi,"


"Terus bagaimana nasib anak yang sedang aku kandung Pa? Gugurkan saja ya,"


"Jangan,"


"Kenapa jangan Pa? Jika Jo tahu hubungan kita, pasti Mama juga tahu,"


"Papa juga yakin Lala akan tahu hubungan kita, tapi papa punya ide cemerlang dengan bayi yang sedang kamu kandung, Baby,"


"Ide apa lagi Pa? Semua ide papa sudah hancur berantakan,"


"Kamu tenang saja, nenek peot itu tidak bisa macam-macam pada papa apa lagi pada kamu, jika dia tahu kamu sedang mengandung," ucap papa Rudi sambil mengukir senyum.


Kala mengingat sang istri memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi, terutama pada anak-anak dimana mama Lala sudah mendirikan beberapa yayasan untuk anak-anak terlantar.


Dan jika mama Lala tahu, kalau Mira sedang hamil, pasti dia akan memaafkan perbuatannya dengan Mira, itu yang sedang papa Rudi pikirkan, dan ia juga sedang menyusun rencana untuk bersandiwara agar sang istri tidak marah padanya.


"Yakin Pa?"


"Tentu saja yakin, kita lupakan Jo, dan sekarang fokus pada nenek peot itu, dengan rencana papa,"


"Rencana apa lagi Pa,"


"Ada Baby," papa Rudi yang sudah duduk di kursinya kembali, kini menarik tangan Mira untuk duduk di pangkuannya.


Dan seperti biasa, Mira pasti langsung mengalungkan kedua tangannya di leher papa mertuanya tersebut.


"Tidak lapar Pa,"


"Sungguh?"


"Iya, tapi aku menginginkan sesuatu,"


"Apa itu Baby?" tanya papa Rudi dengan jari jarinya menyusuri leher jenjang Mira hingga turun dan meremas gunung kembarnya.


"Tas keluaran baru, dan baru hari ini tas itu keluar Pa, aku ingin menjadi salah satu yang pertama memiliki tas itu,"


"Oke, papa akan belikan. Tapi ingat tidak gratis, setelah itu kita ke hotel," ujar papa Rudi dan tidak peduli dengan sang putra yang telah mengetahui hubungannya dengan Mira.


"Oke," sambung Mira yang sudah di butakan dengan harta, tidak peduli lagi pada apa yang tadi ia alami. Kemudian ia mencium bibir papa Rudi, setelah mendapat isyarat darinya.


*


*


*


Papa Rudi menemani Mira ke toko tas yang terkenal dengan harganya yang selangit. Dan membiarkannya membeli tas yang Mira mau.


"Terima kasih Pa, aku tambah sayang pada Papa," ucap Mira ketika keduanya sedang duduk di sebuah sofa, untuk menunggu pesanannya di kemas.


"Buktikan nanti di atas ranjang, Baby," bisik papa Rudi tepat di telinga Mira.


"Ish Papa,"


"Maaf, Pak," pelayanan toko tersebut menghampiri dimana Mira dan juga papa Rudi duduk. "Kartu Bapak tidak bisa di gunakan," ucap pelayanan toko tersebut sambil menyodorkan kartu tanpa limit yang tadi Papa Rudi berikan untuk membayar tas Mira.


"Tidak mungkin,"


"Benar Pak,"


Kemudian papa Rudi mengambil kartu tersebut dan memberikan kartu yang lainnya.


"Maaf Pak, ini juga tidak bisa di gunakan," ucap pelayanan tersebut.


Tentu saja papa Rudi mengeluarkan semua kartu yang ia miliki, tapi tidak ada satu pun yang bisa di gunakan.


"Lala!"


Bersambung...........