
Tentu saja Ev tidak ingin menjawab pertanyaan dari Bara yang di tujukan untuknya.
Karena apa yang Bara tanyakan, benar adanya, dulu ia mendekati kakak dari sang kekasih karena ingin balas dendam.
Namun, balas dendamnya tersebut Ev singkirkan, karena cintanya yang teramat besar pada Jo sang kekasih.
"Kenapa diam saja?" tanya Bara karena Ev tidak menjawab pertanyaannya.
"Maaf," hanya itu ucapan yang keluar dari bibir Ev. Yang seharusnya tidak ia ucapkan, pada pria yang sudah membuatnya tidak pernah melihat ayah kandungnya secara langsung.
"Untuk apa kamu minta maaf,"
Ucapan Bara, alhasil membuat Ev langsung menoleh padanya, sambil memicingkan matanya.
"Harusnya aku yang minta maaf padamu, setelah apa yang aku lalukan pada keluarga kamu," entah jin baik dari mana yang menempel di tubuh Bara, hingga ia bisa mengatakan hal tersebut, yang tentu saja membuat Ev bingung.
Kemudian Bara menepuk pundak Ev yang duduk tepat di sampingnya.
"Berbahagialah kamu dan juga Jo, aku akan merestui hubungan kalian," ucap Bara yang terdengar mustahil, karena jelas-jelas ia tadi seperti tidak menyukai jika sang adik akan menikah dengan Ev.
Tapi hati manusia bisa Tuhan bolak balik, dan Bara menyadari cinta tidak bisa di paksakan, dan ia tidak ingin mengulang kejadian yang sama dengan beberapa tahun yang lalu, karena keegoisan dan juga obsesinya, ia harus mendekam di balik jeruji besi dengan waktu yang cukup lama.
"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Ev, setelah mendengar apa yang Bara katakan.
"Tentu saja tidak, apa kamu ingin aku merebut kamu dari Jo? Tidak Ev, aku melihat cinta kalian berdua sangat besar, meskipun aku bisa mendapatkan kamu, tapi tidak dengan hatimu, karena hatimu dan cintamu hanya untuk Jo,"
"Benar, aku sangat mencintainya, hingga langkahku dan juga Jo sudah sejauh ini," sambung Ev, membenarkan apa yang Bara katakan.
"Apa kamu sedang hamil?" pertanyaan lolos begitu saja dari bibir Bara.
"Kanapa kamu bertanya seperti itu?"
"Bukannya kamu dan juga Jo..."
"Iya," sambung Ev memotong perkataan dari Bara, tahu apa yang akan di tanyakan bakal calon kakak iparnya. "Tapi aku sedang tidak hamil,"
"Oh," hanya itu ucapan yang keluar dari bibir Bara, dan kembali menoleh pada Ev. "Ev, apa kamu membenci aku?"
"Kamu pikir saja sendiri,"
"Terus apa yang harus aku lalukan, agar kamu tidak membenci aku?"
"Kak," panggil Jo, yang terlihat sedikit panik.
"Ada apa Jo?"
"Papa, Kak,"
"Ada apa dengan papa?"
"Dokter bilang, tidak bisa menyelamatkan nyawa papa,"
"Apa?!" tentu saja Bara begitu terkejut mendengar apa yang sang adik katakan, membuatnya langsung beranjak dari duduknya, dan langsung berlari menuju ruangan dimana tadi papa Rudi mendapat perawatan intensif, ingin memastikan apa yang di katakan sang adik benar atau tidak, karena sejak dulu Bara lebih dekat dengan papa Rudi.
Berbeda dengan Jo yang kini duduk di tempat duduk yang baru saja di duduki oleh sang kakak.
"Sayang, aku tidak salah dengar?" tanya Ev.
"Tidak sayang, papa sudah tiada," jawab Jo, tentu saja kesedihan tidak dapat ia pungkiri, meskipun ia tahu kelakuan papa Rudi seperti apa.
*
*
*
Kabar kematian papa Rudi, sampai juga di telinga Mira, membuatnya malah uring uringan tidak jelas mendapati sugar daddynya sudah pergi untuk selamanya.
"Bagaimana dengan hidup aku, bila si tua bangka itu sudah koit, sial!" kesal Mira, yang memikirkan masa depannya tanpa papa Rudi, apa lagi di dalam rahimnya ada buah cintanya dengan papa Rudi. "Apa aku harus mendekati Jo? Ah tidak mungkin," ucap Mira, yang langsung tersenyum. "Ada Bara, aku bisa memanfaatkannya,"
"Ma, aku lapal," ucap Ara yang sudah mendekati di mana Mira berada.
Membuat Mira langsung menoleh pada putrinya tersebut. "Lapar?"
"Iya Ma,"
"Sama bodoh!"
Bersambung..................