
Akhirnya Mira tidak bisa membeli tas yang ia inginkan, karena semua kartu tanpa limit milik para Rudi tidak dapat di gunakan, begitu pun dengan kartu-kartu milik Mira, yang juga sama, tidak bisa di gunakan.
Membuat kesenangan yang sudah keduanya rencanakan, hancur lebur, di gantikan dengan kekesalan, mendapati kartu tanpa limit keduanya di blokir.
"Pa, gimana ini. Jangan bilang tenang lagi, aku sudah bosan mendengar kata itu dari Papa, lihat aku, tidak jadi membeli tas itu," ucap Mira yang baru saja keluar dari dalam toko tas.
"Diam!" bentak Papa Rudi untuk pertama kalinya.
Membuat Mira langsung menoleh padanya sambil memicingkan matanya.
"Pa, kenapa Papa membentak aku?"
"Jangan banyak omong!" seru papa Rudi, lalu melangkahkan kakinya menuju di mana mobilnya berada.
Namun, ia terkejut karena mobil miliknya sudah tidak ada lagi di tempatnya.
"Sial!" kesal papa Rudi, lalu menghampiri security yang berada tidak jauh darinya, tentu saja langsung di ikuti oleh Mira dari belakang, yang juga tidak melihat mobil papa Rudi.
"Pa, mobil Papa ke mana?"
"Jangan banyak bertanya, paham!"
"Kenapa Papa kasar seperti ini sih!" kesal Mira, membuat papa Rudi menghentikan langkah kakinya, lalu membalik tubuhnya untuk menatap pada Mira yang berada tepat di belakangnya.
"Lebih baik kamu pulang, jangan membuat papa tambah kesal, paham!"
"Pa, tapi..."
"Pulang!" seru papa Rudi.
"Papa jahat!" ucap Mira yang langsung meninggalkan papa Rudi.
Membuat papa Rudi kembali meneruskan langkahnya untuk menghampiri security.
"Mas, mobil yang disana ke mana?" tanya papa Rudi sambil menunjuk tempat parkir dimana tadi ia memarkirkan mobilnya.
"Oh jadi yang disana mobil Bapak, bentar Pak," security tersebut langsung mengambil selembar kertas yang ia kantongi lalu memberikannya pada papa Rudi. "Ini Pak, tadi petugas derek yang membawa mobil Bapak,"
Mendengar ucapan dari security tersebut, membuat papa Rudi langsung mengambil selembaran kertas dari tangan security tersebut dan membacanya.
*
*
*
Papa Rudi akhirnya pulang menggunakan ojek online, dan tujuannya langsung menemui sang istri yang ia yakini berada di dalam kamar, karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"La," panggil papa Rudi pada mama Lala yang sedang duduk di atas kasur sambil membaca sebuah majalah fashion.
Tentu saja, mendengar sang suami memanggil namanya, membuat mama Lala langsung menoleh pada sang suami sekilas, lalu kembali membaca majalah yang ada di pangkuannya.
Melihat reaksi sang istri yang begitu menyebalkan menurut papa Rudi, membuatnya langsung mendekati tempat tidur dimana sang istri berapa, lalu melempar selembaran kertas, dimana mama Lala memberi kuasa untuk menderek mobilnya.
"Kenapa kamu melakukan ini padaku, hah?!"
Namun, tidak di jawab oleh mama Lala yang tidak peduli dengan pertanyaan dan keberadaan papa Rudi.
"Aku sedang bicara padamu, La!" teriak papa Rudi kesal. "Dan aku yakin, kamu juga yang sudah memblokir semua kartu milikku, iya kan?!"
Sekarang mama Lala menutup majalah yang sedang di bacanya, lalu menatap pada sang suami sambil tersenyum.
"Itu kamu tahu, dan kamu juga tahu bukan, pintu sebelah mana? Silakan keluar," usir mama Lala secara halus.
"Kurang ajar sekali kamu mengusir aku, ini rumahku!"
"Ya aku tahu, ini rumah kamu, perusahaan itu juga milik kamu, dan seluruh harta kekayaan lima puluh persen memang milik kamu, tapi kamu lupa, jika harta kekayaan lima puluh persen milikmu itu, bisa jadi milikku, seperti perjanjian yang sudah tersimpan di notaris," jelas mama Lala panjang lebar mengingat perjanjian pranikah yang sudah di tanda tangani kedua belah pihak, jika seluruh harta milik papa Rudi akan jatuh seratus persen pada mama Lala, jika papa Rudi kedapatan memiliki wanita lain. "Dan Ya, sekarang semua milikmu, sudah menjadi milikku," ucap mama Lala sambil mengukir senyum.
"Dasar gila!"
"Kamu yang gila," sambung mama Lala yang langsung menyalakan vidio aktifitas panas papa Rudi dan juga Mira, di televisi. "Lihat, kamu gila kan?"
"Sialan kamu, La. Aku bunuh kau!" kesal papa Rudi yang langsung naik ke atas tempat tidur.
"Tolong!"
Bersambung..............