
"Papi baru tahu, jika Mami gila, ke mana saja selama ini," sahut mama Hazel setelah mendengar ucapan dari opa Santos mengenai sang istri.
Membuat papa Zain hanya tersenyum mendengar ucapan dari papi mertuanya.
Tapi tidak dengan oma Camel, yang kini menatap pada sang suami, yang baru saja mengatakan dirinya gila. "Coba ulang, tadi ngomong apa?"
"Dasar gila!" jawab opa Santos lagi, mengulang ucapan yang pertama, dan ia yang sudah beranjak dari duduknya dan mendekati sang istri, langsung mengusap wajah oma Camel. "Sudah tua, masih saja belum sadar diri,"
"Apa salahnya coba, benar apa yang aku katakan sayang, bagus cucu kita minum pil kontrasepsi, sebelum indohoyy. Kalau tidak bisa hamil dia,"
"Dasar!" sahut Opa Santos sambil menunjuk kening sang istri. "Tidak ada yang benar, apa yang cucu kita lalukan sudah salah, kamu sebagai Oma harus memberi tahu yang baik-baik pada cucu kita, jangan menyesatkan seperti ini,"
"Tentu saja ini tidak menyesatkan, tapi pelajaran berharga yang harus cucu kita dapatkan, sayangku yang tetep tampan,"
"Pelajaran berharga endasmu! Tidak ada, lebih baik kamu jangan bicara lagi, jika kamu yang bicara sungguh sangat meresahkan dan juga menyesatkan, paham!"
"Tapi..."
"Jika masih bicara, tidak ada jatah, mengerti!" tegas opa Santos memotong perkataan dari sang suami.
"Ish, kamu tidak asik sayang. Ancamannya selalu begitu, tahu sendiri aku tidak kuat dengan hal seperti itu," keluh oma Camel tahu ancaman yang sang suami katakan.
"Rasain, makanya mulut di jaga, sudah peot juga, tapi ucapannya mengandung sampah," sahut mama Hazel. "Pi, memang tidak bosan apa dengan nenek-nenek ini? Kalau saran aku sih, mending Papi cari istri baru," ujar Mama Hazel pada Opa Santos.
Yang langsung mendapat pelototan dari oma Camel. "Enak saja kalau ngomong, nenek-nenek begini, diatas ranjang bagaikan pengantin baru kali,"
"Oh oke, fix tidak dapat jatah," sahut opa Santos pada sang istri.
"Maaf, sayang keceplosan. Oke aku akan diam," ujar oma Camel sambil mengukir senyum.
Dan kembali lagi papa Zain yang masih bergabung, hanya bisa menahan senyum mendengar percakapan tidak berfaedah dari keluarga sang istri, dan papa Zain yakin, ini salah satu yang merusak Ev putri sambungnya.
Dan ia langsung mencekal tangan Ev sang putri yang ingin pergi. "Tunggu!"
"Apa lagi Pa, aku ngantuk ingin tidur,"
"Zel, sebenarnya ada masalah apa sih?" tanya opa Santos pada mama Hazel, yang melihat sang putri dan juga sang cucu terlihat sedang ada masalah.
"Ya seperti aku bilang Pi, dia sudah tidur dengan pria," jawab mama Hazel lagi.
Dan kali ini opa Santos menatap pada sang cucu. "Apa itu benar Ev?"
Dan Ev langsung menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari sang opa.
"Apa kalian melakukannya karena saling cinta?"
"Iya Opa,"
"Kalau begitu, kalian harus menikah, agar kamu dan juga dia tidak berbuat dosa lagi," saran opa Santos sama dengan papa Zain.
"Benar apa yang Opa kamu katakan, sayang. Mendingan kalian menikah," sambung oma Camel membenarkan ucapan dari sang suami.
"Enak saja, tidak bisa!" sahut mama Hazel.
Tentu saja membuat opa Santos dan juga Oma Camel langsung menatap pada sang putri.
"Kamu jadi ibu bagaimana sih, tadi bilang mami tidak jelas, sekarang kamu lebih tidak jelas, Zel. Ini keputusan sang paling bagus untuk menikahkan Ev dengan pria itu,"
"Tidak Mi. Mami tidak tahu pria itu siapa,"
"Memangnya siapa?" tanya oma Camel penasaran.
"Adik dari Bara, Mami ingat bukan, siapa yang sudah membunuh Jimi?" tanya mama Hazel pada sang mami, dan menyebut nama mendiang sang suami yang sudah di bunuh oleh Bara.
"Apa?!"
Bersambung..............