AFFAIR With Mr. JO

AFFAIR With Mr. JO
Terwujud Sempurna



Ev yang baru mendekati Bara, kini berdiri tepat disampingnya, dimana Bara masih duduk tepat di depan meja bartender dengan satu tangannya memegang segelas minuman beralkhohol.


Belum juga Ev memegang bahunya, Bara terlebih dahulu menoleh kearahnya.


Dan tatapannya kini mengamati setiap jengkel wajah cantik dan sempurna Ev, bukan hanya itu, setelahnya ia menatap tubuh Ev dari ujung kepala hingga ujung kaki, dimana tubuh ideal Ev terlihat sangat sempurna, dengan gaun yang membungkus tubuhnya.


Senyum terukir dari kedua bibir Bara, mendapati makhluk ciptaan Tuhan yang begitu sempurna berdiri tepat di sampingnya.


Tentu saja, Bara kini menaruh gelas berisi minuman beralkhohol diatas meja, kemudian mengulurkan tangannya ke arah Ev.


"Apa aku boleh berkenalan?" tanya Bara.


Tanpa pikir panjang lagi, Ev segera menjabat tangan Bara. Karena tujuannya saat ini adalah membalas dendam langsung pada pembunuh sang papa, sebelum pada anggota keluarganya yang lain, dengan cara yang baru saja melintas di benaknya.


"Bara,"


"Ev," sambung Ev yang kini tersenyum ke arah Bara, lalu melepas jabatan tangannya.


"Mau minum?"


"Tidak, aku tidak terbiasa minum," tolak Ev, padahal biasanya juga ia minum, meskipun hanya sedikit.


Tapi untuk menjaga kewarasan untuk menghadapi musuh yang berada di dekatnya, ia tidak akan menyentuh minuman apa pun di klub malah tersebut.


"Oh ya, jarang sekali ada wanita yang datang ke klub malam, tidak minum," ujar Bara dan kembali menatap wajah Ev, yang menurutnya masih sangat muda. "Untuk apa kamu datang ke klub malam jika bukan untuk minum dan menikmati malam?"


"Temanku yang mengajakku ke sini, Om. Dan aku merasa tidak nyaman berada di tempat ini,"


"Om? Apa aku setua itu," tanya Bara sambil tertawa. "Panggil saja aku Bara, oke!"


"Oke,"


"Kamu tidak nyaman di tempat ini?"


Ev menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Bara.


"Baiklah," tentu saja Ev langsung mengiyakan ajakan Bara, agar rencana yang tersusun rapi di otaknya segera terlaksana.


Bara pun langsung beranjak dari duduknya. "Mari," ia pun menyuruh Ev untuk berjalan terlebih dahulu. "Ya ampun, tubuhnya sudah membuat aku traveling, aku harus bisa merasakan tubuhnya, jika bukan sekarang tentu saja lain waktu, yang penting aku bisa dekat dengan bidadari yang nyasar ke bumi," batin Bara yang berjalan di belakang Ev, sambil mengamati setiap lekuk tubuhnya.


*


*


*


Untuk malam ini, cukup bagi Bara hanya mengajak Ev ke sebuah kafe, sambil berbincang, agar ia bisa dekat dengannya, karena ia punya ketertarikan sendiri pada Ev, apa lagi setelah berbincang dengannya, Bara yakin Ev bukan wanita murahan yang sering ia temui di klub malam.


Dan ia pun kini mengantar Ev pulang ke apartemen yang cukup mewah.


"Kamu tinggal disini?" tanya Bara yang baru saja menghentikan laju mobil yang di kendarai tepat di depan lobi apartemen tersebut.


"Iya,"


"Boleh dong aku mampir,"


"Maaf tidak bisa, kedua orang tuaku sangat kolot, mereka tidak sama sekali akan mengijinkan aku membawa seorang pria masuk ke dalam unit apartemen yang kami tempati," bohong Ev.


"Oh baiklah," ujar Bara yang kini turun dari mobil yang di kendarai terlebih dahulu, untuk membukakan pintu mobil dimana Ev berada.


"Terima kasih," ucap Ev, tak lupa mengukir senyum palsu, ketika Bara membukakan pintu mobil dimana dirinya berada.


"Boleh kan, aku mengirim pesan padamu, setelah nanti aku sampai di rumah?" tanya Bara karena keduanya tadi sudah bertukar nomor ponsel.


Ev hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Bara. "Aku masuk dulu," ujar Ev, yang tidak ingin berlama-lama dengan Bara, sebelum ia hilang kendali dan menghajarnya, jika ada pisau, mungkin Ev akan langsung menusuknya, tapi Ev menahan itu, agar rencana apiknya terwujud sempurna.


Bersambung............