
"Siapa, sayang?" tanya Jo ketika sang kekasih sudah menutup sambungan ponselnya.
"Mama,"
"Pasti dia menyuruh kamu untuk pulang," tebak Jo, yang sudah hafal, karena beberapa kali ia ingin menikmati malam bersama dengan sang kekasih, mama Hazel calon mama mertuanya, yang perlahan bisa menerima dirinya.
Pasti menghubungi Ev, dan menyuruhnya untuk pulang, seakan dia tahu, apa yang akan sang putri lakukan dengan sang kekasih.
"Mama tahu, kamu garangan. Pasti bisa menebak pikiran kamu arahnya ke mana,"
"Kamu juga menikmatinya, sayang. Yuk sebelum aku antar pulang kita anu dulu, tidak akan lama sayang. Aku sudah sangat gatal," bujuk Jo masih dengan keinginannya, menikmati malam dengan sang kekasih, seperti yang dulu sering dilakukannya.
"Gatal?"
"Iya, sayang," jawab Jo menjawab pertanyaan sang kekasih, tak lupa mengukir senyum pada Ev yang kini beranjak dari duduknya.
"Garuk saja, jika masih gatal, oles saja dengan obat panu,"
"Ish sayang, kamu kira burungku panuan,"
"Lah kan gatal,"
"Gatal mau ngecas sayang, masa tidak tahu sih," kata Jo yang mengikuti sang kekasih, dimana Ev melangkahkan kakinya menjauh dari ruang makan. "Yuk,"
"Tidak mau, titik! Aku mau pulang,"
"Yah gatot lagi nih," keluh Jo, membuat Ev langsung menghentikan langkahnya dan menatap calon suaminya tersebut.
"Seminggu lagi setelah kita menikah, pagi, siang, sore, malam dan kapan pun kamu mau aku siap untukmu, oke!"
Mendengar ucapan dari Ev membuat Jo tersenyum sumringah. "Yakin sayang?"
"Yakin dong,"
"Yes!"
*
*
*
Seminggu berlalu, acara pernikahan Jo dan juga Ev yang di adakan cukup meriah di sebuah hotel bintang lima, berjalan dengan lancar tanpa ada suatu halangan apa pun.
Albert yang menghadiri acara tersebut juga dengan ikhlas melihat Ev yang ia sukai bersanding dengan Jo di pelaminan, dan ia coba untuk melupakan perasaannya pada Ev.
"Aku tahu kamu menyukai Ev, tapi aku harap kamu bisa membuang jauh perasaan yang kamu miliki untuk Ev. Aku yakin, kamu akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Ev," kata Jessi yang baru saja menghampiri Albert di salah satu meja, tempat dimana acara resepsi pernikahan Ev dan juga Jo berlangsung, dan tidak akan lama lagi acara tersebut akan berakhir.
Albert menatap pada Jessi dan hanya tersenyum untuk menanggapi ucapan yang terlontar dari bibirnya.
"Aku yakin Al, kamu akan menemukan wanita yang sangat mencintai kamu," ucap Jessi lagi.
"Betul itu, dan kamu tidak perlu mencari jauh, karena wanita itu sudah ada disini, yaitu aku," sambung Jeni yang baru saja menghampiri Jessi dan juga Albert.
Membuat keduanya langsung menoleh pada Jeni yang sedang mengukir senyum ke arah Albert.
"Yuk, menikah denganku," ajak Jeni.
Membuat Jessi hanya menggelengkan kepalanya mendengar apa yang di katakan oleh sang sahabat.
Berbeda dengan Albert yang kini beranjak dari duduknya lalu meninggalkan Jessi dan juga Jeni.
"Sayang, kok pergi sih?" tanya Jeni, yang tidak di hiraukan oleh Albert.
"Risih dengan belatung nangka seperti kamu, jadi perempuan jual mahal sedikit napa," ujar Jessi.
"Untuk apa mahal, kalau ada yang murah,"
"Dasar tidak waras!"
Sementara itu di panggung pelaminan, Ev mendudukkan bokongnya kasar, setelah hampir dua jam ia harus mengikuti proses acara resepsi.
"Sayang, lelah?"
"Kamu pikir sendiri," jawab Ev dengan kesal.
"Kok marah sih, sayang. Aku kan, hanya bertanya,"
Namun, Ev tidak menimpali ucapan dari Jo yang sekarang sudah resmi menyandang status sebagai suaminya.
"Oke, aku tahu kamu sangat lelah. Bagaimana jika kita ke kamar hotel?"
Ev pun hanya mengangguk, membuat Jo langsung beranjak dari duduknya, sambil mengulurkan tangannya pada sang istri, tak lupa senyum penuh arti tersungging dari ke dua sudut bibirnya.
"Ets, mau ke mana kalian?" tanya Oma Camel yang kini menghampiri Jo dan juga Ev yang ingin ke kamar hotel tempatnya menginap.
"Eh Oma," ucap Jo sambil mengukir senyum. "Ini Oma, istriku kelelahan, dan kita ingin ke kamar hotel,"
"Tidak bisa di biarkan," ujar oma Camel, yang langsung mengambil sesuatu dari dalam tas, kemudian memberikannya di tangan Jo. "Campur dengan minuman istri kamu," bisiknya.
"Ini apa Oma?" tanya Jo yang tidak tahu dengan bungkusan yang baru saja di berikan oleh oma Camel.
"Sesuatu yang akan membuat Ev bersemangat, dan membuat kamu puas, gih sana ke kamar," bisik oma Camel lagi.
"Sip," sambung Jo tahu maksud dari oma Camel.
"Eh tunggu dulu," oma Camel menghentikan langkah Jo kembali yang ingin segera ke kamar hotel, dan memasukkan sesuatu ke dalam kantong jas yang Jo kenakan. "Gunakan ini, biar kamu kuat dan tahan lama,"
"Oma pelecehan, tanpa menggunakan ini aku juga kuat dan tahan lama,"
"Jangan banyak omong, gih sana produksi cicit untuk oma,"
"Sip Oma, Oma mau cicit berapa?"
"Satu lusin dong,"
"Oke, aku gaskuen Oma," sambung Jo yang langsung membawa sang istri ke kamar hotel.
Rasa lelah yang tadi Ev rasakan tiba-tiba hilang entah pergi ke mana, setelah Jo memberikan minuman padanya.
Membuat Jo langsung tersenyum senang, apa lagi sekarang sang istri menghampirinya ke atas ranjang.
"Sayang," panggil Ev.
"Ada apa?"
"Gatel,"
"Apanya?" tanya Jo pura-pura tidak tahu.
Namun, tidak di jawab oleh Ev yang kini naik ke atas tubuh Jo, dimana ia sedang tidur terbaring di atas ranjang.
"Mau,"
"Mau apa?"
"Ngecas, dong. Yuk?"
"Ayuk," jawab Jo yang langsung membalik tubuh Ev, dan mengungkungnya. "Pagi, siang, sore, malam dan kapan pun aku mau, oke!" ucap Jo, mengingat apa yang pernah Ev katakan.
"Asiap! Go!"
Dan kalian tahu sendiri apa yang akan terjadi selanjutnya ya guys! Dan kalian boleh praktek sendiri dengan pasangan kalian masing-masing, yang penting sudah halal wkwkwkwk.
Dan ya, terima kasih untuk kalian semua yang sudah mengikuti kisah mereka, karena aku menyatakan novel ini.
TAMAT
Dan tunggu ekstra partnya, itu pun kalau kalian mau, kalau tidak ya lebih bagus, biarkan Jo dan Ev bahagia wkwkwkwk.
Sampai jumpa di novel aku yang selanjutnya!