
Rasa kecewa, marah, kesal, benci, jijik menjadi satu, itu yang sedang mama Lala rasakan untuk saat ini, setelah melihat live langsung di layar ponselnya, dimana sang suami sedang melakukan aktifitas panas di atas ranjang sebuah hotel bintang lima di negara yang mama Lala kunjungi untuk membuntuti papa Rudi, ketika ia menaruh curiga pada suaminya ada main dengan menantunya, dan ternyata kecurigaannya benar adanya, jika papa Rudi dan juga Mira memiliki hubungan terlarang.
Tetes air mata jatuh dari kedua pelupuk mata mama Lala, setelah melihat aktifitas panas sang suami dengan menantunya sendiri.
Kemudian ia melempar ponsel miliknya ke atas kasur, tidak kuat untuk melihat lagi adegan selanjutnya dari ponsel miliknya yang terhubung dengan kamera tersembunyi yang sudah terpasang di kamar hotel dimana papa Rudi berada.
Dimana mama Lala membayar salah satu pelayanan hotel untuk memasang kamera tersembunyi, saat ia tahu sang suami mengingap di kamar hotel tersebut.
Butiran air mata terus menetes dari kedua pelupuk mata mama Lala, meskipun ia sudah mewanti wanti ini akan terjadi, tapi tetap saja membuat hatinya terluka, melihat sang suami yang sudah berpuluh puluh tahun menjadi pendampingnya, ada main dengan wanita lain, apa lagi wanita tersebut adalah menantunya sendiri.
Setelah sekian lama menangis, kini mama Lala menghentikan tangisnya, lalu menghapus sisa-sisa air mata yang masih membasahi kedua pipinya, saat ia menyadari tidak ada gunanya lagi ia menangisi hal tersebut.
"Aku harus segera kembali," ucap mama Lala yang kini beranjak dari duduknya, lalu menuju di mana koper miliknya berada, berniat untuk kembali, ke rumah dan memberi tahu Jo sang putra tentang hubungan Mira dan juga papa Rudi. Karena mama Lala yakin, Jo pasti akan terpuruk mengetahui kebenaran tersebut.
*
*
*
Mita menghentikan aktifitas panasnya, karena memang papa Rudi sudah memberikan kenikmatan bertubi-tubi padanya.
"Baby,"
"Iya Pa?"
"Lanjutkan,"
"Sebentar Pa, perut aku sakit," keluh Mira sambil memegangi perutnya.
"Kenapa Baby?" tanya Papa Rudi yang kini beranjak dari tidurnya, lalu menatap pada Mira yang sudah duduk sambil memegangi perutnya.
"Entahlah Pa, mungkin karena kita mainnya kelamaan,"
"Kita baru main kurang dari satu jam, Baby. Bisanya juga lebih,"
"Benar juga Ya Pa,"
"Apa kamu lapar?"
"Tidak Pa,"
Namun, Mira tidak menanggapi ucapan dari papa Rudi. Dan ia langsung mengambil ponsel miliknya untuk melihat aplikasi pengecek masa subur dan ternyata ia sudah telat datang bulan.
"Pa," ucap Mira sedikit panik.
"Apa Baby?"
"Sepertinya aku datang bulan, Pa,"
"Kok bisa, bukannya kamu minum pil kontrasepsi?"
"Iya Pa, tapi aku pernah lupa tidak meminumnya, bagaimana jika aku hamil Pa?"
"Tidak masalah, kan ada suami kamu,"
"Tapi sudah ada setahun Jo tidak menyentuh aku, bagaimana jika nanti dia curiga, Pa?"
"Tenang, serahkan urusan itu pada Papa, dan kamu tinggal ikuti apa yang Papa katakan, oke baby?"
"Oke, Pa,"
"Masih sakit?"
"Sedikit Pa,"
"Oke kita pergi ke rumah sakit untuk memastikan kamu hamil atau tidak,"
"Baik Pa,"
"Ets tunggu dulu, kamu mau ke mana?" tanya papa Rudi sambil menahan tangan Mira yang ingin turun dari atas ranjang.
"Kata papa, kita pergi ke rumah sakit,"
"Nanti dulu, satu ronde lagi," ujar papa Rudi yang kini menjatuhkan tubuh Mira tengkurap. "Angkat baby,"
"Ish Papa," sambung Mira yang langsung mengangkat bokongnya, tahu apa yang Papa Rudi minta.
"Papa pastikan, rasa sakit yang kamu rasakan akan berganti dengan kenikmatan Baby," ucap Papa Rudi yang langsung melancarkan aksinya kembali.
Bersambung.........................