
"Sayang," ucap Jo lagi. "Aku sangat merindukanmu,"
Anehnya Ev tidak langsung melepas pelukan dari Jo, yang ada ia malah membiarkannya, karena tidak di pungkiri pelukan tersebut yang ia rindukan, dimana Ev selalu nyaman di peluk oleh Jo, meskipun itu salah.
Tentu Jo seperti mendapat angin segar, karena Ev tidak menolak pelukannya, membuat ia semakin erat memeluk wanita yang sangat ia cintai.
"Katakan padaku, apa yang aku dengar tentang perjodohan itu, tidak benar kan, sayang?"
Pertanyaan Jo membuat Ev segera mengakhiri kenyamanan di dalam pelukan Jo, dan terpaksa melepas pelukannya, tidak ingin ada yang melihatnya.
Kemudian Ev membalik tubuhnya dan menghadap pada Jo, lalu mendorong tubuhnya untuk menjauh.
"Sayang,"
"Diam! Kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun, ingat itu!" Ev mengingatkan Jo kembali.
"Kenapa sayang? Apa karena perjodohan itu?"
"Jika iya, tidak ada urusannya denganmu kan!"
"Tentu saja ada, karena kamu hanya milikku, sayang,"
"Dasar egois!" sahut Ev sambil menyunggingkan senyum sinis.
"Aku tahu aku egois sayang, aku mencintaimu di saat aku memiliki istri," sambung Jo tahu maksud kata egois yang di ucapkan oleh Ev.
"Itu sadar,"
"Tapi aku sungguh sangat mencintaimu, sayang. Aku mohon kembali lah padaku, aku berjanji akan menceraikan Mira setelahnya,"
Ev menghembuskan nafasnya kasar, mendengar ucapan Jo, mungkin seperti ini lah jika seorang yang sudah beristri memiliki wanita lain, yang pasti akan mengatakan segala cara untuk mempertahankan sang pelakor.
"Sayang," ucap Jo yang kini meraih satu tangan Ev. "Aku berjanji padamu, aku akan menceraikan Mira,"
Namun, Ev tidak peduli lagi dengan apa yang Jo katakan, dan ia pun langsung melepaskan tangan Jo dengan kasar, ketika melihat Albert keluar dari dalam rumah, dan kini mendekati di mana ia berada.
"Maaf aku lama Ev," ucap Albert yang kini menatap pada Jo.
"Mister masih disini? Aku kira sudah pulang,"
Jo tidak ingin menimpali ucapan dari Albert, dan ia pun langsung menuju dimana mobilnya berada.
"Ev, ada apa dengan dia sih?" tanya Albert setelah Jo masuk ke dalam mobilnya.
"Baiklah,"
*
*
*
Albert benar-benar merasa bingung dengan Ev. Bagaimana tidak bingung, ketika ia beberapa kali ingin menggandeng tangannya, Ev selalu menolak, padahal saat tadi di rumah, Ev jelas-jelas memeluk lengannya dengan sangat mesra.
"Ev," panggil Albert ketika sekarang keduanya sedang berada di salah satu kafe di pusat perbelanjaan, dimana keduanya baru saja selesai menoton film di bioskop.
"Hem," hanya itu yang Ev katakan untuk menimpali panggil Albert, karena mulutnya sedang mengunyah makan malam.
"Terima kasih kamu mau menerima perjodohan kita," ucap Albert yang begitu senang dengan Ev yang menerima perjodohan yang di lakukan oleh kedua orang tua mereka.
Namun, Ev tidak mengatakan apa pun untuk menanggapi ucapan dari Albert.
Membuatnya kini meraih salah satu tangan Ev, tapi dengan segera Ev menyingkirkan tangan Albert.
"Al, jangan seperti ini," pinta Ev yang merasa risih dengan apa yang Albert lakukan barusan.
"Kenapa Ev, kita..."
"Maaf Al, aku memang menerima perjodohan itu, tapi kita masih sangat muda untuk melaju ke jenjang yang lebih serius, karena aku masih ingin mengejar cita-cita ku," sambung Ev memotong perkataan dari Albert.
"Ev, tapi setelah kita menikah, kamu masih tetap mengejar cita-cita kamu," kata Al, yang ingin segera memiliki hubungan dengan Ev, dan bila perlu langsung menikah dengannya.
"Maaf, aku tidak mau menikahi muda,"
"Tapi..."
"Aku ke toilet dulu," sambung Ev, memotong perkataan Albert, lalu beranjak dari duduknya, dan pergi ke toilet yang berada di luar kafe tersebut.
Sebelum masuk ke dalam toilet, Ev begitu terkejut karena tiba-tiba ada yang menarik tangannya.
"Kamu," ucap Ev setelah tahu siapa yang menarik tangannya.
"Sayang, ikut denganku," Jo yang sedari tadi terus mengikuti Ev, kini menarik tangannya untuk menjauh dari toilet.
Bersambung.............