
Sementara itu, kepulangannya dari rumah Ev sang kekasih, Jo memutuskan untuk pulang ke rumah.
Dan ia langsung mengeluarkan semua pakaian dan barang-barang milik Mira dari dalam kamarnya.
Membuat Mira terus memohon pada Jo, untuk tidak mengusirnya dari dalam rumah mewah tersebut.
"Aku mohon, jangan seperti ini, Jo," ucap Mira yang kini bersimpuh di hadapan Jo yang berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
Tentu saja Jo, langsung mendorong tubuh Mira untuk menjauh darinya, hingga tersungkur di lantai.
"Pergi!"
"Jo,"
"Aku bilang pergi!" tegas Jo lagi, karena rumah tersebut memang rumahnya. "Dan ya, bawa Ara sekalian,"
Mira yang masih berada di atas lantai, langsung menatap pada Jo, setelah mendengar apa yang dikatakannya. "Tega sekali kamu, pada anak kamu sendiri," ucap Mira lagi, yang belum mengetahui jika Jo sudah tahu jika Ara bukanlah putrinya, melainkan putri dari papa Rudi.
Jo menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya, lalu ia merogoh kantong celananya, dan melempar salinan tes DNA milik Ara ke arah Mira.
"Yakin, Ara anakku?"
"Tentu, Jo. Kamu pikir..."
"Lihat saja itu!" perintah Jo. Memotong perkataan dari Mira.
Membuat Mira langsung membuka kertas tersebut, dan ia langsung menutup mulutnya sendiri, karena terkejut.
"Masih bilang Ara anakku, hah!"
Namun, tidak mendapat tanggapan dari Mira yang hanya diam terpaku, mengetahui jika Jo sudah mengetahui siapa Ara sebenarnya.
"Pergilah! Dan bawa Ara, cepat!" perintah Jo.
Membuat Mira kini beranjak dari tempatnya, lalu menatap pada Jo.
"Sekali lagi maafkan aku, Jo. Aku memang salah,"
"Pergi!"
Jo diam sejenak mendengar permintaan dari Mira, benar apa yang dikatakannya, Ara tidak tahu apa pun tentang semua ini, terlebih lagi, ia juga menyayangi bocah kecil itu, meskipun ia tahu Ara bukan anak kandungannya, tapi dia sadar dan tidak Jo pungkiri, jika Ara adalah adiknya.
"Jo, aku mohon padamu, ijinkan Ara tetap tinggal disini, agar dia bisa hidup dengan layak, jika dia ikut denganku, aku tidak bisa mencukupi kebutuhannya," pinta Mira, yang kini tidak memiliki tabungan sama sekali, karena semua kartu miliknya, yang selama ini ia gunakan untuk berfoya foya tidak bisa lagi di gunakan.
"Pergilah!" perintah Jo lagi.
*
*
*
Sementara itu, setelah perdebatan sangat alot antara mama Hazel dan juga Oma Camel.
Karena oma Camel tidak mempermasalahkan jika kekasih sang cucu adalah adik dari Bara, pria yang sudah membunuh menantunya. Dan ia juga memutuskan keputusan yang sama dengan sang suami sam juga papa Zain, untuk menikahkan Ev dengan Jo.
Hal itu membuat mama Hazel kesal dan meninggalkan ruang tengah dimana semua orang masih berkumpul, karena tidak ada yang mengerti kenapa ia tidak merestui sang putri dengan Jo.
Tentu saja Papa Zain langsung mengikuti sang istri, untuk membujuknya lagi, agar merestui hubungan Ev dan juga Jo.
Setelah kepergian mama Hazel dan juga papa Zain, Oma Camel kini menatap pada sang cucu yang sudah duduk disalah satu sofa.
"Ev, undang kekasih kamu besok untuk makan malam, Oma ingin tahu seserius apa dia pada kamu,"
"Dia memang mengajak aku untuk ke jenjang selanjutnya Oma, tapi aku belum ingin menikah," jelas Ev.
"Yang benar saja kalau bicara Ev, opa tidak setuju, pokoknya kamu harus menikah dengan dia, paham!" tegas Opa Santos, tidak ingin sang cucu melakukan kesalahan lagi.
"Aku tidak akan melakukan hal itu lagi Opa, kalau pun melakukannya, seperti saran Oma, kita akan menggunakan pengaman,"
"Jangan dengarkan orang sinting, paham!"
"Sayang, tega teganya kamu bilang aku sinting, jahat kau!"
Bersambung................