
Jessi yang menginap di unit apartemen Ev sang sahabat, kini masuk ke dalam kamarnya, setelah ia memasak sarapan untuknya dan juga sang sahabat.
Jessi menautkan keningnya ketika melihat Ev sudah bangun dari tidurnya, dan sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam laci meja nakas yang terdapat di samping tempat tidurnya.
"Ev apa..." Jessi tidak jadi meneruskan ucapannya ketika melihat Ev sedang mengeluarkan beberapa bungkus pil kontrasepsi, dari yang masih utuh hingga yang beberapa sudah terminum, pil kontrasepsi yang selalu Ev minum, untuk mencegah kehamilan setelah setahun belakangan ini ia melakukan hubungan terlarang dengan Jo.
Dan pil tersebut tidak akan pernah Ev minum lagi, setelah ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Jo.
Jessi tidak mengatakan apa pun, dan terus menatap pada sang sahabat yang sekarang membuang pil kontrasepsi tersebut ke tempat sumpah.
"Ev, yuk kita sarapan dulu," ajak Jessi, ketika Ev sudah kembali ke tempat tidur, dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Aku belum lapar,"
"Yakin?"
"Kamu serapan dulu sana,"
Namun, Jessi tidak menanggapi perintah Ev, yang ada ia kini duduk di pinggiran tempat tidur dimana Ev berada.
"Ev,"
"Jangan nasihati aku," sahut Ev yang tahu, sahabatnya tersebut sudah seperti pemuka agama yang selalu memberi nasihat padanya.
"Aku ingin bicara dengan kamu,"
"Aku tidak ingin mendengar,"
"Ev, kamu jangan seperti ini, aku merasa jika Bara bukan pria yang baik," ucap Jessi, dengan penilaiannya.
"Aku tahu, jika dia pria baik, tentu saja dia tidak akan jadi pembunuh,"
"Itu kamu tahu, dan aku mohon, kamu jangan dekat-dekat dengannya lagi, dan lupakan balas dendam kamu pada mereka,"
"Tidak akan,"
"Ya ampun Ev, apa kamu pernah berpikir, jika Bara tahu kamu adalah putri dari almarhum papa kamu, aku yakin ia langsung memiliki niat jahat padamu, dan itu akan berbahaya untuk kamu,"
"Dan itu tidak mungkin, sedangkan Jo sudah tahu siapa kamu,"
Dan Ev tidak menanggapi ucapan dari sang sahabat, karena kini ia berpikir sejenak, mendengar apa yang Jessi baru saja bicarakan.
"Aku mohon dengarkan aku, Ev,"
"Tidak, sebelum dia tahu aku siapa, aku yakin bisa membuat mereka semua mati tanpa harus mengotori tanganku sendiri," Ev masih dengan rencana awalnya.
"Dan itu tidak benar Ev, yang bersalah disini hanya Bara, kenapa harus semua anggota keluarnya yang kamu incar, meskipun aku tidak membenarkan apa yang akan kamu lalukan,"
"Berisik Jes! Lebih baik kamu keluar dari dalam kamarku,"
"Tapi Ev..."
"Pergi!" seru Ev memotong perkataan dari sang sahabat.
*
*
*
Sementara itu di tempat lain, Bara yang masih di dalam kamarnya, terus menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya, setelah Jo sang adik pergi dari kamarnya, setelah memberi tahu siapa Ev.
"Jadi Ev putrimu, Zel. Baguslah, aku memang tidak bisa mendapatkan kamu, tapi aku yakin, bisa mendapatkan putrimu," ucap Bara dengan sangat yakin. "Meskipun aku yakin, Ev mendekati aku ada maksud tertentu," Bara dengan pikirannya, jika Ev ingin membalas dendam. "Tapi sebelum tujuannya berhasil, aku akan terlebih dahulu membuat ev bertekuk lutut di hadapanku," dengan bangganya ia bisa mengatakan hal tersebut.
Karena memang, dari dulu apa pun yang Bara inginkan pasti selalu terwujud meskipun cara yang ia gunakan salah.
"Apa aku harus menghamili Ev dulu?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Boleh di coba," ucapnya dan kembali menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya.
Dan tatapannya kini tertuju pada ponsel miliknya yang berdering, lalu ia melempar ponselnya yang baru saja ia ambil, saat tahu yang menghubunginya adalah Mira adik iparnya. "Tidak penting,"
Bersambung....................