AFFAIR With Mr. JO

AFFAIR With Mr. JO
Obsesi



Keesokan harinya pagi-pagi Jo sudah mendatangi rumah kedua orang tuanya, dimana Bara berada.


Untuk menanyakan langsung tentang hubungannya dengan Ev.


Karena ia masih tidak percaya, jika Bara dan juga Ev memiliki hubungan.


"Jo, tumben. Pagi-pagi sekali sudah ke rumah?" tanya mama Lala yang sedang berada di ruang makan ketika melihat sang putra masuk ke dalam rumah.


"Iya Ma, mumpung libur," jawab Jo yang kini mencium kedua pipi wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan modis diusianya yang tidak muda lagi. "Mama hanya sendiri, papa ke mana?" tanya Jo ketika tidak mendapati ada papa Rudi.


"Masih di kamar,"


"Oh begitu, kalau kakak?"


"Palingan masih molor di kamar,"


"Baiklah, aku langsung ke kamar Kakak,"


"Tidak mau sarapan dulu?"


"Tidak Ma,"


"Pasti Mira sudah membuatkan sarapan yang enak untuk kamu, hingga kamu menolak sarapan di rumah mama," sambung mama Lala.


Yang hanya mendapat senyuman dari Jo, dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar Bara.


Tidak mungkin ia akan mengatakan, jika Mira masih tidur, tidak peduli dengannya, jangankan padanya, pada putrinya sendiri saja tidak peduli.


Jo langsung masuk ke dalam kamar Bara, dan mengelengkan kepalanya melihat kamar sang kakak masih gelap dan hanya ada satu lampu tidur yang menyala.


Dengan segera Jo menyalakan lampu kamar sang kakak, bukan hanya itu, tapi ia juga membuka seluruh tirai yang berada di kamar Bara, berharap sang kakak akan segera terbangun, karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


Dan benar saja, tidak berselang lama, tidur Bara terganggu, karena silau matahari yang menerpa wajahnya.


"Sial, siapa yang membuka tirai itu!" teriak Bara.


"Aku Kak,"


"Jo," ucap Bara yang mengenali suara sang adik. "Untuk apa pagi-pagi buta kamu datang dan membangunkan aku, ini akhir pekan, bodoh!"


"Berisik, untuk apa kamu datang hah?!" tanya Bara kesal karena tidurnya terganggu, tentu ia bertanya dengan kedua bola matanya masih terpejam.


"Aku ingin tahu, kakak sudah berapa kali tidur dengan Ev?" tanya Jo penasaran, mengingat lagi perkataan Ev semalam.


"Boro-boro tidur, aku cium saja tidak mau," jawab Bara jujur masih dalam posisinya. "Eh untuk apa kamu menanyakan hal seperti itu?" tanya Bara yang kini mulai membuka kedua bola matanya.


"Tidak ada apa-apa," jawab Jo yang merasa sangat lega mendengar jawaban dari sang kakak. Berarti apa yang semalam Ev katakan padanya adalah sebuah kebohongan sesuai dengan prediksinya. "Oh ya Kak, lebih baik cari wanita lain saja, dan jangan dekati Ev,"


"Kenapa?"


Namun, Jo tidak menjawab pertanyaan dari sang Kakak, tidak mungkin ia akan mengatakan jika Ev adalah wanita yang sangat ia cintai.


"Heh, malah bengong, kenapa aku tidak boleh mendekati Ev?"


"Dia putri dari pria yang sudah Kakak bunuh,"


Mendengar jawaban dari Jo, membuat Bara langsung beranjak dari tidurnya, tidak percaya dengan apa yang sang adik katakan.


"Jangan bercanda kamu Jo," ujar Bara tidak percaya.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, Kak,"


Bara terdiam sejenak, dan kini menoleh pada sang adik. "Jadi dia putri dari Hazel?" tanya Bara mengingat wanita yang dulu menjadi obsesinya.


"Iya Kak,"


Kembali Bara terdiam sejenak, dan entah mengapa otaknya sekarang berpikir, Ev mendekatinya, karena ia ingin membalas dendam terhadapnya, atas kematian sang papa.


Mengingat lagi, beberapa kali ia melihat Ev, sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Kak, aku mohon jangan dekati Ev lagi, setelah tahu siapa dia," pinta Jo, tidak ingin Ev tertarik pada Bara, karena bagi Jo, Ev hanya miliknya.


Namun, ucapannya tidak di gubris oleh Bara yang kini menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya.


Bersambung..............