AFFAIR With Mr. JO

AFFAIR With Mr. JO
Hamil



Sementara itu di tempat lain, setelah papa Rudi di usir dari rumah, Bara menghampiri sang mama, yang terlihat begitu kesal, di dalam diamnya.


Hingga akhirnya Bara mengetahui kenyataan yang di luar praduganya, jika Ara sang keponakan ternyata adalah adiknya, setelah mama Lala menunjukkan hasil tes DNA.


Tentu saja hal itu membuat Bara yakin, jika Mira adik iparnya memang sudah memiliki hubungan dengan sang papa jauh sebelum menikah dengan Jo.


Bara kini meraih salah satu tangan sang mama, lalu menggenggamnya dengan sangat erat.


"Aku akan selalu ada di samping Mama,"


"Terima kasih,"


"Jika Mama ingin papa dan juga Mira masuk penjara karena telah melakukan ini pada Mama, aku akan membantu Ma,"


"Tidak perlu Bar. Mama sudah membuat papa kamu tidak memiliki apa pun lagi,"


"Terus, Bagaimana dengan perusahaan?" tanya Bara, karena sang papa sudah menjanjikan, jika ia yang akan menggantikan sang papa mengurus perusahaan. "Tetap aku yang akan mengurus kan, Ma?"


"Kamu dan juga Jo,"


Mendengar jawaban dari sang mama membuat Bara langsung menautkan keningnya, menatap wanita paruh baya yang duduk di sampingnya.


"Kenapa harus dengan Jo, Ma. Aku bisa mengurus sendiri,"


"Jo berhak juga atas perusahaan itu, Bar,"


"Tapi Ma, Jo itu pasti tidak akan becus mengurus perusahaan,"


"Pasti bisa,"


"Lebih baik Mama pikir dulu deh, sebelum mengambil keputusan, Jo itu akan membuat perusahan tidak akan berkembang," ujar Bara yang ingin menguasai perusahaan kedua orang tuanya.


"Ini keputusan Mama, dan Mama harus adil pada kalian berdua,"


"Tidak bisa, Ma. Perusahan harus aku yang menguasai," batin Bara, karena ia yakin, jika ia yang menguasai perusahaan orang tuanya, akan lebih mudah memikat Ev, karena semua wanita tidak akan pernah menolak pria yang sudah mapan, itu yang Bara pikirkan.


*


*


*


"Ma,"


"Sayang, jangan marah-marah lah, malu di lihat orang," ujar Papa Zain yang terus mengikuti langkah sang istri, yang baru masuk ke sebuah rumah sakit.


"Kamu juga diam!" tegas mama Hazel yang terus menarik salah satu tangan sang putri menuju ke ruangan dokter kandungan, yang mama Hazel kenal.


Tanpa mendapat perlawanan lagi dari Ev, yang mengira sang mama tadi akan melakukan sesuatu padanya, ketika menariknya untuk keluar dari dalam rumah.


Tapi nyatanya sang mama membawanya ke sebuah rumah sakit, dan Ev tidak tahu tujuan sang mama membawanya ke rumah sakit untuk apa.


"Halo, Put," sapa mama Hazel, setelah masuk ke dalam salah satu ruangan dokter kandungan, yang sangat mama Hazel kenal.


"Halo Zel, hamil lagi? Hingga malam-malam kamu menyuruh aku untuk datang ke rumah sakit?" tanya Dokter Putri, yang tadi di hubungi mama Hazel, untuk kembali ke rumah sakit, padahal ia sudah selesai bertugas.


"Tidak!" jawab datar mama Hazel.


"Terus, untuk apa kamu..."


"Periksa Ev," sambung mama Hazel memotong perkataan dari Dokter Putri yang tak lain dan tak bukan adalah sahabatnya.


"Maksud kamu apa si Zel?"


"Periksa saja, jangan banyak bertanya!"


Mendengar ucapan dari mama Hazel, Dokter Putri yang tahu jika sahabatnya tersebut tidak baik-baik saja, langsung menarik tangan Ev, untuk ikut dengannya.


Meskipun Ev awalnya menolak, tapi akhirnya ia mengikuti perintah sang mama yang kembali marah-marah.


"Sayang, kamu pikir Ev hamil?" tanya Papa Zain setelah Dokter Putri sedang memeriksa Ev.


Namun, tidak di jawab oleh mama Hazel, yang ingin memastikan anaknya hamil atau tidak setelah mengetahui hubungannya dengan Jo sudah sejauh mana.


"Kamu jangan mengada ada, tidak mungkin Ev hamil," ujar papa Zain.


"Benar apa yang di katakan suami kamu, Ev tidak hamil," sahut dokter Putri yang sudah selesai memeriksa Ev. "Tega sekali kamu menuduh putri kamu sendiri hamil, Zel,"


Namun, mama Hazel tidak menanggapi ucapan dari dokter Putri, karena tatapannya kini tertuju pada Ev sang putri.


"Mulai besok, kamu tinggal di luar negeri!" perintah mama Hazel yang ingin menjauhkan sang putri dengan Jo, setelah tahu kekuatirannya jika sang putri hamil tidaklah benar.


Bersambung...........