AFFAIR With Mr. JO

AFFAIR With Mr. JO
Terserah



Sementara itu, Jo yang sudah masuk ke dalam kamar Bara, kini mendekati sang kakak yang baru saja mengambil satu botol wine di minibar yang ada di dalam kamarnya.


"Kak,"


"Keluarlah, jika kamu hanya ingin berceloteh, percuma. Aku tidak akan mendengarkannya," ucap Bara sambil menuang wine ke dalam gelas yang ada di hadapannya. "Tapi jika kamu ingin menemani aku minum, tetaplah tinggal,"


"Kakak tahu aku..."


"Tidak minum," sambung Bara memotong perkataan adiknya tersebut, yang dari remaja tidak pernah minum minuman yang mengandung alkohol. "Norak kau,"


Namun, Jo tidak ingin menanggapi ucapan sang kakak, dan kini ia duduk di kursi tepat di samping nya.


"Kak, aku ingin bicara,"


"Bicara saja, tapi jika kamu ingin melarang aku untuk tidak mendekati Ev, jangan harap aku akan mengikuti perintahmu, Jo!"


"Tapi Kak,"


"Jo sudahlah keluar dari dalam kamarku!"


"Tidak, sebelum Kakak mengatakan tidak akan mengajar Ev lagi,"


Bara yang sedari tadi tidak melihat sang adik, kini menatap kearahnya sambil memicingkan matanya. "Jo, aku heran sama kamu, kenapa kamu seolah-olah tidak menyukai aku mendekati Ev, apa kamu juga menyukai dia? Tidak bukan?"


"Kak, tapi..."


"Jo! Pergilah!" usir Bara memotong perkataan Jo. "Aku pastikan Ev akan menjadi milikku paham!"


"Dan aku tidak akan membiarkan itu, Kak!"


"Aku tidak peduli, dan sekarang keluarlah!" perintah Bara yang kini beranjak dari duduknya. Lalu berjalan menuju pintu, dan membuka pintu tersebut, mengisyaratkan untuk sang adik keluar dari dalam kamar.


"Ingat Kak, aku tidak akan membiarkan Kakak mendapatkan Ev, paham!"


"Terserah," Bara langsung mendorong tubuh adiknya tersebut untuk keluar dari dalam kamarnya. "Tidak ada yang tidak bisa Bara dapatkan, karena apa pun yang aku inginkan pasti aku bisa mendapatkannya," ujar Bara setelah menutup pintu kamarnya.


*


*


*


Ev yang sudah tinggal kembali bersama ke dua orang tuanya, kini berbincang bersama sang mama dan juga papa sambungnya di ruang tengah setelah selesai makan malam.


Seperti biasa, jika sedang berkumpul apa saja akan ketiganya bicarakan, yang membuat hati Ev merasa tenang, dan tak lagi memikirkan kehidupannya yang begitu rumit karena rencana balas dendamnya, dimana ia harus mengorbankan perasaan cintanya pada Jo, meskipun cinta itu salah.


"Ev, kok ngelamun?" tanya mama Hazel pada sang putri.


"Kenapa diam saja?"


"Sayang, mungkin dia sedang memikirkan kenapa sampai sekarang belum memiliki kekasih," malah papa Zain yang menjawab pertanyaan sang istri yang di tujukan untuk putri sambungnya, yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.


"Benar juga apa yang kamu katakan sayang," sambung mama Hazel membenarkan apa yang sang suami katakan, kemudian ia kini menatap pada sang putri. "Ev, kapan kamu akan memiliki kekasih, dan mengenalkannya pada mama?" tanya mama Hazel karena yang ia tahu, sang putri belum memiliki kekasih.


"Mama apaan sih, aku belum kepikiran untuk memiliki kekasih,"


"Ini tidak benar, kamu sudah dewasa Ev,"


"Aku juga tahu Ma,"


"Bagaimana jika mama kenalkan kamu dengan anak sahabat mama, orangnya ganteng baik pula, pasti kamu akan menyukainya,"


"Ma, apaan sih,"


"Tidak apa-apa, siapa tahu kamu suka, kalau tidak juga tidak masalah, kalian bisa menjadi teman, bagaimana?"


Namun, Ev tidak lagi menanggapi ucapan dari sang mama.


"Ev, kenapa diam saja mau ya?"


"Terserah mama," jawab Ev, tidak ada kata lain.


"Kamu sudah pernah melihatnya kok, belum lama dia ke sini,"


"Kapan?" tanya Ev bingung.


"Sayang, pas dia ke sini, Ev kan, tidak ada di rumah gimana sih," sambung papa Zain.


Membuat mama Hazel langsung menepuk jidatnya. "Oh iya, mama lupa,"


"Kayaknya harus di colok nih," bisik papa Zain tepat di telinga sang istri.


"Mancing nih,"


"Mulai," sahut Ev, jika sudah melihat kedua orang tuanya saling berbisik, dan kini ia beranjak dari duduknya. "Aku ke kamar dulu, Ma, Pa,"


"Oke, besok mama undang pria itu untuk main ke rumah ya,"


"Terserah," sahut Ev yang kini menuju kamarnya.


Bersambung..................