
Tentu saja Ev menolak keinginan sang mama untuk tinggal dan meneruskan kuliahnya di luar negeri, meskipun beberapa waktu lalu ia juga menginginkan tinggal di luar negeri setelah memutus hubungan dengan Jo.
Tapi itu beberapa waktu lalu, berbeda dengan sekarang. Di mama Ev tidak ingin jauh dari Jo sang kekasih setelah menjalin hubungan kembali.
"Kamu jangan membantah perintah mama Ev!" tegas mama Hazel ketika keduanya masih berada di dalam mobil, yang baru saja terparkir di halaman parkir rumahnya, setelah kepulangannya dari rumah sakit.
"Aku tidak mau, Ma," tolak Ev lagi.
"Ev!"
"Sayang, sudahlah," sahut papa Zain yang masih duduk di bangku pengemudi.
"Diam kau!" kesal mama Hazel pada sang suami, yang terus saja membela Ev yang kini sudah keluar terlebih dahulu dari dalam mobil.
"Ish, galak amat. Padahal kalau sudah di tusuk, menjerit keenakan,"
Mendengar apa yang dikatakan oleh sang suami, membuat mama Hazel, yang duduk tepat di belakang kursi yang di duduki sang suami, langsung menendang kursi tersebut.
"Tidak ada jatah, paham!"
"Eleh, pembohongan publik. Seminggu tidak di tusuk aja, sudah seperti cacing kepanasan, orang lagi syuting di luar kota saja langsung di paranin, hanya minta di tusuk," sambung papa Zain, yang sangat tahu tentang istrinya.
Namun, mama Hazel tidak ingin menanggapi ucapan dari sang suami, dan hanya meliriknya tajam dan turun dari dalam mobil, untuk menyusul sang putri.
Tentu saja langsung di ikuti oleh papa Zain. "Sayang, restui mereka lah, dan segera nikahkan Ev dengan Jo, aku rasa mereka berdua sama-sama memiliki cinta yang sangat besar,"
"Diam!"
"Jo itu hanya adik dari pria yang sudah membuat Ev tidak bisa mengenal papanya, sayang. Janganlah kamu juga membenci dia. Biarkan saja Ev menikah dengan Jo, sayang," ucap papa Zain, tahu sang istri tidak merestui hubungan Ev dan juga Jo karena salah satu keluarganya adalah seorang pembunuh.
"Ev masih muda, bukan saatnya dia menikah,"
"Eleh, kamu juga dulu, menikah disaat umur kamu lebih muda di banding Ev, sayang,"
"Diam!"
"Awww sayang, aset berharga aku," erang papa Zain ketika sang istri baru saja memukul juniornya. "Kamu yang rugi sendiri nanti. Jika ini tidak bisa mengacung lagi," ucap papa Zain sambil memegangi juniornya.
Namun, tidak dihiraukan oleh mama Hazel yang kini sudah mendekati sang putri, dan menahan tangannya, untuk menghentikan langkahnya.
"Ev, kamu harus nurut sama mama,"
"Tidak!"
"Ev!"
"Kamu masih muda, belum tahu kebahagian yang sebenarnya itu seperti apa, mama yakin, dengan kamu mengikuti perintah mama ke luar negeri, kamu pasti akan mendapat kebahagiaan yang sebenarnya disana, bersama pria selain Jo,"
"Tidak! Jo lah kebahagiaan aku Ma, titik!" tegas Ev yang langsung meninggalkan sang mama masuk ke dalam rumah.
"Ev, jangan keras kepala kamu!"
"Aku tidak peduli!" sahut Ev untuk menimpali ucapan dari sang mama.
Dan Ev pun langsung menghentikan langkahnya, ketika sudah masuk ke dalam rumah, saat melihat ada oma Camel dan juga opa Santos sedang duduk di rumah tengah. "Opa, Oma,"
"Cucu oma yang cantik," ucap oma Camel yang kini beranjak dari duduknya dan merentangkan keduanya tangannya.
Tentu saja Ev langsung menghampirinya dan memeluk sang Oma.
"Sayang, ada apa?" tanya Oma Camel setelah melepas pelukannya, dan melihat wajah sang cucu terlihat kesal.
"Aku tidak mau mengikuti keinginan mama, Oma,"
"Kenapa?"
"Mama menyuruh aku tinggal dan kuliah di luar negeri,"
"Oh," hanya itu tanggapan dari oma Camel yang kini menatap pada mama Hazel yang baru mendekatinya.
"Zel, untuk apa kamu memaksa Ev tinggal di luar negeri. Biarkan saja, jika dia tidak mau, jangan kamu paksa,"
"Dia tidur dengan pria Mi," ucap mama Hazel langsung pada intinya.
Membuat Oma Camel kini menatap pada sang cucu. "Benar itu, sayang?"
"Iya Oma, tapi aku minum pil pencegah kehamilan," jujur Ev, karena sang Oma selalu mengerti akan dirinya.
"Bagus," ujar oma Camel.
"Dasar gila!"
Bersambung..............