
Suara deheman dari mama Lala menghentikan pergosipan ketiga asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan bahan masakan untuk makan siang, dan ketiganya langsung menatap pada mama Lala yang kini mendekati ketiganya.
Membuat Siti dan Surti yang tadi sedang menggosipkan majikan pria, merasa tidak enak, takut mama Lala mendengar apa yang di katakannya.
"Eh, ada Nyonya," ucap Siti. "Makan siang akan siap setengah jam lagi, Nya. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Siti.
"Tidak ada, aku hanya ingin melihat kalian akan masak apa,"
"Seperti biasa, masakan yang Tuan dan Nyonya suka, oh ya, Nya, sejak kapan Nyonya ada disini?" tanya Surti penasaran, takut majikannya tersebut mendengar apa yang tadi ia katakan.
"Baru saja,"
Jawaban mama Lala Membuat Siti dan juga Surti bisa bernafas lega, dan mereka pikir majikannya tersebut tidak mendengar apa yang di bicarakannya.
"Oh ya, sore nanti kita kembali ke rumah," ujar mama Lala pada ketiga asistennya yang selalu ikut ke Villa.
"Baik,"
"Baik Nya,"
"Iya Nya," sambung ketiganya bersahutan.
"Ti, tolong ambilkan cangkir, Tuan kalian menginginkan kopi," perintah mama Lala pada Siti.
"Baik Nya, biar aku saja yang membuatkannya,"
"Tidak perlu," ujar mama Lala yang langsung mengambil cangkir dari tangan asisten rumah tangganya tersebut, dan seperti biasa ia akan membuatkan kopi kesukaan sang suami.
Setelah kepergian mama Lala dari dapur, kembali lagi ketiga asisten rumah tangga tersebut bergosip ria sambil memasak.
"Aku tidak habis pikir, jika Tuan dan Nona Mira memiliki hubungan khusus, pasti Nyonya akan terpukul,"
"Benar sekali, padahal Nyonya orang yang sangat baik, tega banget Tuan pada istrinya," sambung Siti membenarkan ucapan dari Surti.
"Ish, kalian berhentilah bergosip, tidak ada untungnya kan buat kalian,"
"Tentu saja ada Neng,"
"Apa?"
"Biar tidak bosan kita membicarakan kamu, yang suka pacaran sama pak sopir,"
"Ish, kalian tahu?"
"Tentu saja tahu, kamu suka mojok kan, ama pak Sopir, hayo apa yang kamu lakukan?"
"Jangan bilang *****-*****," sahut Siti.
"Ish apaan sih, tidak lucu, sudahlah kita selesaikan pekerjaan kita ini,"
"Tidak mau ngaku, ngaku aja kali,"
Sedangkan itu, mama Lala yang kembali ke kamar dengan membawa satu cangkir kopi untuk sang suami. Terus mengingat pembicaraan ketiga asisten rumah tangganya yang tadi bergosip tentang sang suami dan juga Mira sang menantu.
Kemudian mama Lala mengingat lagi, begitu perhatiannya selama ini sang suami pada Mira, melebihi perhatian sang suami pada dirinya sendiri.
Dan semalam saat ia terjaga dari tidurnya, tidak mendapati sang suami berada di dalam kamar, tapi saat ia sudah terbangun, sudah melihat sang suami tidur di sampingnya, dan itu membuat pikiran negatifnya bertambah.
"Tidak mungkin," ucap mama Lala untuk menepis pikiran negatifnya, kemudian masuk ke dalam kamar yang selalu ia tempati bersama sang suami jika berkunjung ke Villa tersebut.
"Akhirnya istriku tercinta membawakan aku secangkir kopi, terima kasih Ma," ucap papa Rudi yang sedang duduk di sebuah sofa yang ada di dalam kamarnya sambil menatap layar ponsel, ketika mama Lala sudah menaruh secangkir kopi tepat di atas meja yang ada di hadapannya.
"Pa,"
"Iya Ma,"
"Semalam Papa masuk ke dalam kamar jam berapa?" tanya Mama Lala, entah mengapa pikiran negatif yang ingin ia tepis untuk sang suami, tidak mau hilang dari benaknya.
"Kenapa memangnya Ma?"
"Hanya bertanya saja,"
"Oh, kurang tahu semalam masuk jam berapa, soalnya ada satu sahabat papa kembali lagi, karena mobilnya tiba-tiba mogok, alhasil papa harus menemaninya, sebelum akhirnya mobilnya bisa kembali jalan," bohong papa Rudi tidak mungkin ia akan mengatakan kembali ke kamar pagi buta setelah menghabiskan malam dengan menantu tercintanya, yang bisa memberikan kenikmatan bertubi tubi.
"Oh begitu,"
"Kenapa kamu menanyakan hal seperti itu Ma?"
"Ingin tahu saja, soalnya semalam pas mama terjaga dari tidur, tidak melihat Papa di kamar,"
"Oh walah, hanya karena hal itu, memang kamu pikir Papa ke mana?"
"Tidak kemana mana," jawab mama Lala sambil mengukir senyum, tidak ingin sang suami curiga, karena ia sedang mencurigainya.
"Eh tunggu Ma," papa Rudi menghentikan langkah kaki sang istri yang akan meninggalkannya.
Dan mama Lala pun langsung membalik tubuhnya untuk menatap pada sang suami. "Ada apa Pa?"
"Minggu depan papa akan pergi ke luar negeri,"
"Lagi? Bukannya baru beberapa minggu lalu Papa pergi ke luar negeri?"
"Iya, besok papa juga harus pergi, ingin mengurus beberapa bisnis yang ada di sana sebelum papa serahkan pada kedua anak kita,"
"Kalau begitu mama ikut,"
"Tidak usah," larang papa Rudi.
Dan larangan tersebut membuat mama Lala, kembali berpikir negatif, masa setiap bulan sang suami pergi ke luar negeri, dan beberapa kali ia tahu sang suami pergi bersamaan dengan Mira sang menantu.
Bersambung..............