
Akhirnya papa Zain menceritakan pada sang istri tentang Ev sang putri dan juga Jo, tentang hubungannya sudah sejauh mana.
Tentu saja membuat mama Hazel begitu terkejut, mengetahui hal itu, dan ia benar-benar merasa tidak becus mengurus anak.
Membuatnya yang sedari duduk di pinggiran tempat tidur, karena memang papa Zain tadi menceritakan semuanya saat keduanya sudah masuk ke dalam kamar, dan kini tiba-tiba mama Hazel meneteskan air mata.
Air mata kesedihan mendapati sang putri ternyata melakukan hal yang seharusnya belum ia lakukan, dan ia merasa sangat bersalah karena sudah mengijinkan Ev untuk tinggal di apartemen.
"Sayang," ucap papa Zain sambil menahan tangan sang istri yang kini beranjak dari duduknya, dan ingin melangkahkan kakinya. "Ini semua sudah terjadi, tidak ada gunanya marah atau pun yang lainnya, dan kita sebagai orang tua, harus mengambil jalan yang benar untuk masa depan Ev kedepan, dan aku harap kamu merestui hubungan mereka," nasihat papa Zain yang tahu jika sang istri tidak menyukai Jo, karena salah satu anggota keluarganya telah membunuh papa kandung dari Ev.
Namun, tidak dihiraukan oleh mama Hazel yang kini melepas tangan sang suami, yang masih menahan tangannya.
Kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar, tentu saja di ikuti oleh papa Zain, takut sang istri menemui Ev dan melakukan sesuatu padanya.
"Sayang, jangan marahi Ev, percuma, ini semua sudah terjadi, dan mereka melakukan hal itu karena suka sama suka, kita hanya perlu menikahkan mereka,"
Dan ucapan papa Zain, membuat mama Hazel menghentikan langkah kakinya, lalu membalik tubuhnya untuk menghadap sang suami yang berada di belakangnya.
"Tutup mulut kamu! Dia putriku, aku tahu apa yang harus aku lakukan, paham!" seru mama Hazel penuh dengan kemarahan.
"Sayang, tapi..." Papa Zain tidak jadi meneruskan ucapannya, karena sang istri sudah terlebih dahulu meninggalkannya, untuk menuju kamar Ev.
Tentu saja papa Zain kembali mengikuti sang istri.
Brak!
Suara bantingan pintu yang di buka kencang, membuat Ev yang sedang berbicang dengan Jo lewat sambungan ponsel, begitu terkejut, dan ia pun langsung menutup sambungan ponselnya.
Dengan tatapan tertuju pada sang mama yang baru saja membuka pintu kamarnya, dan kini berjalan mendekatinya.
"Mama, kenapa Mama..."
Tamparan mendarat di salah satu pipi Ev yang di layangkan oleh sang mama, membuat Ev tidak meneruskan ucapannya.
"Ma, ada apa ini?" tanya Ev sambil memegangi sebelah pipinya yang baru saja mendapat tamparan dari sang mama.
"Harusnya kamu tahu, mama seperti ini padamu kenapa!" Mama Hazel menjawab dengan kesal pertanyaan dari sang putri, lalu menarik kasar tangan Ev untuk segera turun, karena memang Ev sedang duduk di atas kasur. "Turun!" perintahnya.
"Sayang, ini bisa di selesaikan dengan baik-baik," ujar papa Zain yang sedari tadi mengikuti sang istri, dan kini mendekatinya, ketika melihat mama Hazel terlihat begitu kesal dengan Ev dan menarik tangannya.
Namun, mama Hazel tidak mau menanggapi ucapan dari sang suami, dan menarik kembali tangan Ev untuk segera turun dari tempat tidur.
"Ma, maafkan aku. Aku memang salah," ujar Ev yang tahu, pasti sang mama sudah di beri tahu papa Zain tentang hubungannya dengan Jo sudah sejauh mana. "Tapi jangan seperti ini, tangan aku sakit Ma," keluh Ev, karena sang mama mencekal tangannya dengan erat.
Tapi tidak dihiraukan oleh mama Hazel yang kini menarik tangan sang putri yang sudah turun dari tempat tidur, untuk keluar dari dalam kamar.
"Sayang, lepaskan tangan Ev, jangan seperti ini, kamu akan menyakitinya," papa Zain menahan tubuh sang istri.
Namun, dengan segera mama Hazel menyingkirkan tubuh sang suami. "Diam, dan jangan ikut campur, dia putriku,"
"Ev, juga putriku," sambung papa Zain.
Tapi tidak dihiraukan oleh mama Hazel yang kembali melangkahkan kakinya dengan tangan yang masih menarik salah satu tangan sang putri.
"Ma, lepaskan aku," pinta Ev.
"Ikut Mama!"
Bersambung...............