
Albert menoleh pada Ev yang sudah mendekatinya, ketika ia mendengar suara dari dalam kamar dimana Ev baru saja keluar.
"Ev, suara apa itu?"
"Biasa, makhluk halus, di sini sering terjadi hal seperti itu," jawab Ev sambil mengukir senyum, agar Albert tidak curiga.
"Kamu tidak takut?"
"Tidak, mungkin karena sudah terbiasa,"
Albert bergidik dan langsung merinding mendengar jawaban dari Ev, karena ia takut dengan hal-hal mistis, kemudian ia beranjak dari duduknya, lalu meraih tangan Ev.
"Lebih baik kita cepat pergi makan malam," ajak Albert sambil menarik tangan Ev.
"Kenapa terburu-buru?"
"Aku takut, eh maksud aku, nanti jalanan macet,"
Ev mengerutkan keningnya mendengar apa yang Albert katakan.
"Kamu takut? Takut sama siapa?" tanya Ev ingin tahu.
"Hantu," jawab Albert spontan.
Mendengar jawaban dari Albert, Ev mengukir senyum, baru tahu Albert takut dengan hal mistis.
"Baiklah, memang makhluk halus yang berada di sini, suka menganggu,"
"Ih serem, aku tidak mau lagi ke sini Ev, kalau berkunjung aku tunggu di lobi saja ya,"
Kembali lagi, Ev tersenyum mendengar apa yang Albert katakan, setelah ia takut takuti. Dan artinya, Albert tidak lagi akan mengunjungi unit apartemennya, karena memang ia hanya ingin memanfaatkan Albert saja.
"Oke tidak masalah," sambung Ev menimpali ucapan dari Albert.
Setelah memastikan Ev dan juga Albert keluar dari dalam unit apartemen, Jo segera keluar dari dalam kamar, dan tujuannya kali ini adakah mengikuti ke mana Ev dan juga Alber akan makan malam.
***
Namun, ketika dalam perjalanan mengikuti Ev, Jo di hubungi olah pengasuh sang putri, yang memberi tahu jika Ara sakit.
Setelah kurang lebih satu jam mengendarai mobil di jalanan yang padat merayap, akhirnya Jo tiba di rumah.
Dengan segera, ia yang sudah masuk ke dalam rumah langsung menuju kamar sang putri.
"Mbak, bagaimana keadaan Ara?" tanya Joni yang sudah masuk ke dalam kamar sang putri, dan melihat Ara sedang tertidur.
"Demamnya sudah turun Pak, setelah tadi aku beri minum obat penurun penas,"
"Syukurlah, oh ya, Istriku ke mana? Kenapa tidak menemani Ara?" tanya Jo yang tidak mendapati keberadaan sang istri di kamar putrinya.
"Ponsel ibu tidak bisa di hubungi, maka dari itu, aku menghubungi Bapak,"
"Ke mana dia?"
"Kurang tahu, ibu pergi dari siang,"
"Selalu," sambung Jo yang sangat paham bagaimana istrinya, dimana hampir setiap hari dia akan pergi, jika tidak berkumpul dengan para sahabatnya, Mira akan pergi berbelanja, hingga lupa waktu.
Dan itu yang membuat Jo sedikit muak dengan Mira, yang jarang memperhatikan Ara. Dimana ia mempercayakan sang putri pada pengasuh, dan di asuh oleh pengasuhnya dua puluh empat jam.
Bukan hanya pada Ara saja Mira tidak perhatian, tapi juga dengan Jo.
Dimana Mira jarang memperhatikannya, membuat Jo seakan tidak memiliki istri, karena Mira sibuk dengan urusannya sendiri, tanpa peduli padanya, termasuk dalam urusan ranjang yang menjadi salah satu kebutuhan pokok pasangan yang sudah menikah.
Dan Jo akui, Mira sangat kuat tidak melakukan hubungan suami istri dengannya dalam waktu yang cukup lama.
Mungkin, jika bukan Jo sudah berjanji pada kedua orang taunya, yang sudah menjodohkannya dengan Mira, dan akan selalu setia padanya seumur hidup, sudah lama ia menceraikan sang istri.
Entah sudah berapa kali Jo menghubungi sang istri, tapi ponselnya masih tidak aktif.
"Ke mana kau!" kesal Jo, dan ia yang sudah berada di ruang keluarga, langsung menautkan keningnya, ketika melihat sang istri masuk ke dalam rumah bersama dengan sang Kakak.
Padahal ia tahu, Bara tadi pagi sudah ia antar pulang ke rumah, tapi kenapa sekarang kembali lagi ke rumahnya.
Bersambung.............