
Setelah merebahkan tubuh Ev dan juga menyelimuti tubuhnya, Jo segera keluar dari dalam kamar, tentu sebelum itu, ia terlebih dahulu mencium kening Ev, yang sangat ia rindukan.
Setelah berada di luar kamar, ia mendekati Jessi yang sedang duduk di sofa yang ada di ruang tengah unit apartemen tersebut. Ingin tahu apa yang akan Jessi bicarakan padanya, apa lagi tadi dia mengatakan, ingin berbicara tentang Ev.
"Katakan apa yang ingin kamu katakan, aku akan mendengarnya," perintah Jo yang sudah duduk tidak jauh dari Jessi. "Apa lagi ini tentang Ev,"
"Tapi setelah aku menceritakan semuanya, kamu jangan marah pada Ev,"
Jo menautkan keningnya mendengar apa yang Jessi katakan. "Marah? Untuk apa aku harus marah,"
"Ev ingin menghancurkan seluruh keluarga kamu,"
"Maksud kamu apa?" tanya Jo, yang sekarang begitu penasaran dengan apa yang Jessi katakan.
Dan Jessi akhirnya mengingkari janjinya pada Ev sang sahabat, dimana ia sudah berjanji untuk merahasiakan niatnya balas dendam pada keluarga Jo.
Bukan karena ia ingin berkhianat pada sang sahabat, tapi Jessi tidak ingin Ev meneruskan balas dendamnya, yang bisa jadi merugikan dirinya sendiri.
Tentu saja Jo mendengarkan apa yang Jessi bicarakan, kenapa Ev memutus hubungannya sepihak, karena Ev tahu, ia adalah anggota keluarga dari pria yang sudah membunuh ayahnya, hingga tujuan Ev mendekati Bara sang kakak untuk apa, semua Jo dengarkan.
"Setelah kamu tahu semua ini, aku harap kamu tidak marah padanya, Jo,"
Jo tidak menanggapi apa yang baru saja Jessi katakan, untuk apa ia marah, setelah mengetahui Ev mendekati sang kakak bukan karena tertarik atau pun mencintainya, tapi hanya kerana dendam.
Yang ada ia merasa senang, karena Ev memutus hubungan dengannya, bukan karena tidak mencintainya lagi, tapi karena ingin membalas dendam pada keluarganya.
"Terima kasih, kamu sudah mengatakan semua ini padaku, Jess," ucap Jo yang kini beranjak dari duduknya.
"Tunggu!" Jessi menghentikan langkah kaki Jo yang ingin menuju kamar Ev. "Menjauhlah dari Ev,"
"Tidak, aku sangat mencintainya,"
"Tapi cinta kamu dan Ev tidak di benarkan, biarkan Ev mencari cinta lain, dan kamu fokus pada istrimu, Jo,"
"Jangan egois seperti ini, karena dengan keegoisan kamu ini, bisa membuat Ev terpojok Jo, dan semua pasti akan menyalahkannya," jelas Jessi, mengacu pada fakta di masyarakat, pasti pihak wanita yang di salahkan ketika mendapati sebuah perselingkuhan.
"Itu tidak akan pernah terjadi," ujar Jo yang kini kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Ev.
Membuat Jessi menghembuskan nafasnya kasar, dan seketika mengingat Albert.
"Aku akan menyuruh Albert, terus mendekati Ev. Hingga keduanya menjadi pasangan kekasih, agar Jo tidak lagi mendekati Ev," ucap Jessi dengan pikirannya, agar sang sahabat tidak lagi memiliki hubungan terlarang dengan pria beristri.
Tepat pukul sepuluh pagi, Ev perlahan membuka kedua bola matanya. Dan saat kedua bola matanya sudah membulat sempurna, ia kini melihat ada tangan yang melingkar di atas tubuhnya.
Dengan segera ia pun menatap pada pemilik tangan, dimana Jo sedang tertidur sambil memeluknya, sesuatu yang selalu ingin ia rasakan, tidur berdua dengan Jo hingga pagi menjelang, karena selama ini, Jo selalu pulang setelah menghabiskan malam dengannya.
Refleks satu tangan Ev membelai pipi Jo, pria yang sangat ia rindukan, karena setelah mengakhiri hubungannya dengannya, hidup Ev terasa mengambang. Apa lagi mengetahui istri Jo yang tidak sebaik ia kira, dan membuatnya merasa kasihan pada mantan kekasih dan juga partnernya di atas ranjang.
Namun, setelahnya ia menjauhkan tangannya, tak ingin lagi membelai wajah Jo, dan menjauhkan rasa kasihan, ketika mengingat balas dendamnya.
Setelahnya ia kini menyingkirkan tangan Jo dari atas tubuhnya dengan kencang.
Membuat pemilik tangan, langsung terjaga dari tidurnya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Jo yang sudah membuka kedua bola matanya.
"Pergi dari kamarku!" perintah Ev, yang sudah duduk di atas kasur, tanpa melihat kearah Jo.
Membuat Jo kini beranjak dari tidurnya, dan duduk di atas kasur, lalu meraih salah satu tangan Ev. "Sayang,"
"Diam! Dan ingat, kita tidak memiliki hubungan apa pun lagi, paham!"
"Apa karena balas dendam kamu, sehingga kamu menepis cinta yang kamu milikki untukku?"
Bersambung...................