
Hubungan Ev dan juga Albert semakin dekat karena seringnya bertemu.
Dan seperti dulu, perasaan Albert yang dulu sempat tertutup, kini terbuka lagi, apa lagi melihat Ev tidak menolak perhatiannya beberapa minggu ini, setelah bertemu dengannya lagi, setelah sekian lama.
Seperti hari ini, Albert mengajak Ev untuk makan siang di kafe tempatnya pertama kali bertemu dengannya, dan Ev tidak menolak ketika Albert memberikan satu buket bunga.
"Terima kasih, tahu saja kalau aku suka bunga Lily," ucap Ev sambil memegang buket bunga yang baru saja Albert berikan padanya.
"Tahu dong, aku masih ingat, saat kelulusan kita di sekolah, mama, papa dan juga anggota keluarga kamu semua memberikan bunga lily untuk kamu,"
"Iya, aku masih ingat, hingga wajah aku ketutupan tuh dengan bunga Lily," sambung Ev mengingat kelulusan saat SMA dulu.
"Oh ya Ev, bagaimana kabar Zi?" tanya Albert penasaran, pada saudara Ev, yang dulu pernah ia sukai, sebelum akhirnya ia menyukai Ev.
"Dia mengambil sekolah desainer di luar negeri, dan ya, dia juga sudah memiliki brand sendiri loh, dan beberapa kali mengikuti pameran, pokoknya hebat, padahal kamu tahu sendiri, dulu saat kamu cium pipinya nangis, masih ingat tidak?"
Tentu saja Albert masih ingat, tapi ia tidak ingin membahas hal itu lagi, dan hanya tersenyum untuk menjawab pertanyaan dari Ev.
"Sepertinya aku akan mengijinkan kamu untuk mendekati saudaraku itu, aku tahu kamu sekarang sudah dewasa dan tak pernah main perempuan lagi," ucap Ev mendapati Albert sekarang sangat baik, tidak seperti Albert yang dulu. "Kamu juga menyukainya kan, dan kebetulan dia masih jomblo abadi,"
"Siapa bilang aku menyukainya,"
"Eleh, lupa ingatan, dulu saja terus mengejar Zi,"
"Itu dulu, sekarang tidak. Karena aku menyukaimu," ucap spontan Albert.
Membuat Ev langsung menoleh padanya. "Kamu tahu, aku bukan wanita baik-baik, jadi jangan pernah menyukai aku, Al,"
"Aku bukan Ev yang dulu, Al,"
"Tentu lah, kalau kamu masih Ev yang dulu, tentu saja kamu masih menjadi murid di SMA," sambung Albert sambil mengukir senyum, dan senyum itu hilang ketika Ev beranjak dari duduknya sambil mengangkat sambungan ponselnya.
"Ev, mau ke mana?" tanya Albert ketika Ev sudah menutup sambungan ponselnya.
"Aku pergi dulu, maaf ya, aku tinggal," Ev pun segera meninggalkan Albert, karena ia ada janji dengan Bara, yang sudah menunggunya di mobil tepat di depan kafe tersebut.
"Ev, bunganya," panggil Albert yang tidak terdengar oleh Ev yang kini sudah keluar dari dalam kafe.
Ev yang tahu dimana mobil Bara, langsung menghampirinya dan masuk ke dalam.
"Maaf aku lupa," ucap Ev yang sudah masuk ke dalam mobil Bara.
"Tidak masalah, kita pergi sekarang?" tanya Bara sambil mengukir senyum, karena hari ini, ia dan juga Ev akan pergi membeli pakaian baru, dan tentu saja cauple untuk menghadiri acara ulang tahun papa Rudi yang akan di adakan di sebuah Villa mewah milik keluarga Bara.
"Boleh,"
"Baiklah, dan setelahnya kita langsung pergi ke Villa,"
Ev pun langsung menganggukkan kepalanya, untuk mengiyakan apa yang Bara katakan, karena ini saatnya ia menjalankan balas dendam, setelah dua minggu jalan dengan Bara, belum juga mendapat celah untuk menjalankan misinya.
Bara yang mulai menginjak pedal gas untuk melajukan mobilnya, kini melirik ke arah Ev, tidak sabar untuk menjalankan rencananya menghamili Ev, dan nanti malam saatnya ia beraksi setelah pesta ulang tahun sang papa selesai.
Bersambung............