
"Jo?" tanya Albert lagi, takut ia salah mendengar apa yang baru saja Jeni katakan.
"Iya, apa kamu mengenalnya?" tanya balik Jeni, ketika melihat ekspresi Albert.
"Mungkin, apa kamu tahu nama panjangnya?"
"Joseph ferdinan," jawab Jessi asal yang baru saja menghampiri keduanya, tidak ingin Jeni sang sahabat mengatakan siapa Jo yang sedang di bicarakan.
Tentu saja membuat Albert dan juga Jeni kini menoleh pada Jessi yang sudah berdiri tidak jauh darinya.
"Jes, bu..." Jeni tidak jadi meneruskan ucapkannya, karena tangannya kini di tarik oleh Jessi.
"Ikut denganku!" perintah Jessi yang langsung menarik tangan Jeni untuk meninggalkan Albert.
Tentu saja membuat Albert hanya menatap keduanya, meninggalkan kafe tersebut. Sambil mengingat nama yang baru Jessi katakan, padahal ia berpikir Jo yang tadi dikatakan oleh Jeni adalah mantan guru BP nya.
"Siapa itu Joseph Ferdinan, yang bisa mengambil hati Ev," ucap Albert, percaya pada ucapan Jessi.
Sedangkan itu di luar kafe, Jessi menoyor kepala Jeni sambil mengumpat.
"Dasar bodoh!" umpat Jessi lagi pada Jeni. "Apa kamu lupa, hanya aku dan juga kamu yang tahu siapa kekasih Ev, paham. Dan ya, kita juga sudah berjanji padanya, untuk tidak memberi tahu pada siapa pun kekasihnya, apa kamu lupa?"
"Tentu saja ingat,"
"Jika kamu ingat, kenapa tadi ingin memberi tahu pada Al, hah?!"
"Keceplosan Jes,"
"Dasar!"
"Lagian Al begitu mempesona,"
"Apa hubungannya dengan kamu memberi tahu siapa kekasih Ev, dasar bodoh,"
"Tentu saja ada, dia bilang ingin berkencan dengan aku, setelah aku memberi tahu siapa kekasih Ev,"
"Di bohongi mau,"
"Benar Jes, suer,"
"Heh, salome. Mana dia mau sama kamu yang sudah blong, sadar diri bisa kan?"
"Kan enak yang blong, serasa memacu adrenalin, mau ngerem tidak bisa, belok kanan kiri takut nabrak, iya kan,"
"Blong mobil sama milik kamu berbeda, dasar salome!" seru Jessi yang langsung menarik tangan Jeni kembali untuk segera kembali ke kampus, tidak ingin meninggalkan sahabatnya tersebut di depan kafe tersebut, takut Jeni kembali masuk untuk menemui Albert, dan keceplosan siapa Jo yang sebenarnya.
"Jes lepaskan aku!"
"Aku mau menemui Al, siapa tahu dia memang ingin berkencan denganku,"
"Jangan ngarep, selera dia bukan kamu,"
"Belum tentu,"
"Sudah diam saja dan ikut denganku!" tegas Jessi yang terus menarik tangan sang sahabat menuju kampus, yang bisa di tempuh dengan berjalan kaki.
*
*
*
Ev yang sudah berada di dalam mobil, setelah Jo menjemputnya terus menggenggam tangan kekasihnya tersebut, begitu pun dengan Jo, yang sesekali mencium punggung tangan Ev di sela-sela kesibukannnya mengendalikan setir pengemudi.
"Aku sangat merindukan kebersamaan kita seperti ini, sayang," ucap Jo ketika mobil yang di kendarai sedang berhenti karena lampu merah.
"Aku juga, sayang," balas Ev sambil mengukir senyum, tidak peduli ia mencintai pria yang sudah beristri.
"Oh ya sayang, apa kamu malam ini tidak tidur di apartemen?" tanya Jo.
"Kenapa memangnya?"
"Aku ingin tidur bersama dengan kamu, aku sungguh merindukan itu,"
"Apa kamu lupa, kesepakatan yang sudah kita sepekati?" tanya Ev mengingatkan Jo, karena sebelum ia kembali menjalani hubungan tersebut, Ev meminta sang kekasih untuk tidak lagi melakukan hubungan terlarang di atas ranjang.
"Iya sayang, aku masih ingat. Tapi aku hanya ingin tidur sambil memeluk kamu, itu saja, tanpa melakukan apa pun, boleh ya?"
"Aku tidak yakin,"
"Sungguh, sayang,"
"Baiklah, lagian ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu,"
"Tentang pernikahan kita?"
"Bukan,"
"Terus?"
"Tentang istri kamu dan juga papa kamu,"
Bersambung.............