
Sebulan berlalu, setelah mengetahui Mira mengalami kecelakaan, tidak ada satu pun anggota keluarga Jo yang datang menjenguknya ke rumah sakit.
Yang ada acuh tak acuh, apa lagi dengan Ev yang begitu bersyukur mengetahui mantan istri sang kekasih mengalami kecelakaan.
Hingga Mira kehilangan bayi yang sedang ia kandung, bukan hanya itu juga, kecelakaan tersebut juga membuatnya harus kehilangan kedua kakinya yang terpaksa harus di amputasi karena kecelakaan itu.
Tentu saja membuat Mira begitu frustasi dan sekarang mengalami depresi, hingga beberapa kali, ia yang masih berada di rumah sakit, karena tidak bisa membayar biaya rumah sakit, beberapa kali coba untuk mengakhiri hidupnya, tapi langsung di cegah oleh perawat yang mengetahui aksinya.
Seperti saat ini, Mira coba untuk mengakhiri hidupnya dengan membenturkan kepalanya di tembok ruang perawatan dimana ia masih berada.
Namun, aksinya di gagalkan oleh perawat yang kebetulan masuk ke dalam ruangan dimana ia berada.
Dan setelah menggagalkan rencana Mira, perawat tersebut langsung mengelengkan kepalanya, melihat Mira yang tertawa sendiri, sambil mengoceh tidak jelas.
"Harusnya wanita gila ini di bawa ke rumah sakit jiwa," ucap perawat yang lainnya, dimana ia baru masuk ke dalam ruangan dimana Mira berada, untuk menghampiri rekan kerjanya.
"Sepertinya sore nanti akan di bawa ke rumah sakit jiwa,"
"Oh begitu baguslah, setidaknya kita tidak akan mengurus dia lagi," ucap perawat tersebut sambil menoleh pada Mira yang terus tertawa sendiri. "Eh tau tidak, aku baru mendapat kabar, jika wanita itu, ternyata simpanan papa mertuanya, gila banget kan, mungkin itu karma kali ya,"
"Masa sih? Tidak punya urat malu saja, masa anak dan juga papa mertuanya di embat,"
"Iya,"
"Heh, dimana berlian aku hah! Cepat bawa kemari," ucap Mira, membuat dua perawat yang ada di ruangan tersebut langsung menoleh kearahnya.
"Berlian bunga pasir kali, bayar rumah sakit saja tidak bisa, ngomongin berlian, dasar wanita gila!" sahut salah satu perawat tersebut.
*
*
*
Sementara itu di tempat lain, setelah fitting baju pengantin yang akan Jo dan juga Ev kenakan di hari pernikahannya, yang akan di adakan seminggu lagi.
"Makan yang banyak," ucap Jo ketika keduanya sedang menikmati makan malam, dan Ev seperti tidak bernafsu untuk menyantap makanan yang ada di hadapannya.
"Sayang, aku tidak ingin makan, yang aku inginkan hanya beristirahat, dan lebih baik, sekarang antar aku pulang ke rumah,"
"Tidak bisa, kamu harus makan, agar memiliki tenaga untuk malam ini," ucap Jo sambil mengukir senyum, dan senyum yang ia tunjukkan adalah senyum penuh arti.
Membuat Ev langsung menoleh pada sang kekasih sambil memicingkan matanya.
"Jangan mengada-ada ya, aku tidak mau melakukan hal itu, sebelum menikah," sahut Ev yang tahu maksud dari perkataan sang kekasih.
"Sayang, sudah lama kita tidak melakukannya, sepertinya aku juga sudah lupa bagaimana rasanya, mau ya, malam ini saja,"
"Tidak mau,"
"Ayo lah sayang, aku sungguh tidak tahan, hanya bisa memeluk dan mencium kamu tanpa melakukan anu, malam ini yuk anu," ajak Jo sambil mengukir senyum, dan kini beranjak dari duduknya, lalu mendekati dimana Ev duduk, lalu memeluknya dari belakang. "Oke sayang,
"Tidak oke,"
"Aku mohon sayang, lagian seminggu lagi kita sudah resmi menikah, yuklah,"
"Aku tidak..." Ev tidak jadi meneruskan ucapannya, karena bibirnya di sambar oleh bibir Jo, tentu saja Ev tidak keberatan, dan membalas ciuman sang kekasih.
Dan hal itu membuat Jo merasa mendapat angin segar, dan terus mengekspor bibir sang kekasih yang terasa manis dan juga sudah menjadi candu baginya.
Hingga suara dering dari ponsel Ev, membuat keduanya langsung melepas tautan bibirnya.
"Aku angkat dulu, sayang," ucap Ev karena yang menghubungi adalah sang mama.
"Ev, pulang sekarang juga, mama tunggu, dan tidak pakai lama!" perintah mama Hazel dari balik sambungan ponsel Ev.
Bersambung....................