
Jo menatap cangkir berisi teh yang ada di tangannya, yang baru saja di berikan oleh sang istri, yang duduk disampingnya.
Lalu menoleh pada Mira sambil memicingkan matanya, karena selama menikah dengan wanita yang sedang di tatapannya, tidak sekali pun Mira pernah membuatkan minuman untuknya.
Tentu saja kali ini Jo curiga dengan sang istri, kemudian menaruh cangkir yang ada di tangannya, ke atas meja.
"Sayang, kenapa tidak di minum?" tanya Mira.
"Kenapa kamu seperti ini, hah?" tanya balik Jo tanpa menjawab pertanyaan dari Mira yang di tujukan untuknya.
"Sayang, seperti ini, apa maksud kamu?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, tidak pernah sekalipun kamu pernah membuatkan aku minuman, tapi kali ini, untuk apa kamu membuatkan aku minuman, hah?" tanya Jo lagi, yang entah mengapa memiliki firasat buruk jika sang istri ingin meracuninya.
"Karena aku ingin berubah, sayang. Dan mulai saat ini, aku ingin menjadi istri yang sebenarnya untuk kamu, dan sesuatu yang tidak pernah aku kerjakan mulai saat ini akan aku kerjakan, seperti memasak, mengurus Ara, menyiapkan segala keperluan kamu, aku yang akan kerjakan," ujar Mira panjang lebar, dan kini mengambil cangkir yang tadi di letakan oleh sang suami di atas meja, dan kembali menyodorkannya pada Jo. "Sayang, minu..."
Belum juga Mira meneruskan ucapannya, Jo sudah terlebih dahulu menyingkirkan tangannya hingga teh yang berada di dalam cangkir tumpah.
"Sial," batin Mira, karena teh yang berisi obat perangsang tumpah sudah. "Sayang, kenapa kamu kasar seperti ini padaku, aku memang salah karena belum bisa menjadi istri yang kamu inginkan, tapi sekarang aku ingin berubah,"
"Sudah terlambat," sambung Jo, yang kini meraih sebuah map yang sedari tadi berada di atas meja tidak jauh darinya, lalu memberikannya pada Mira.
"Sayang ini apa?"
"Buka, dan tanda tangangi!" perintah Jo.
Membuat Mira dengan segera membuka map tersebut, dimana di dalamnya terdapat surat gugatan perceraian.
Yang bisa di urus secepat mungkin oleh pengacara yang Jo sewa, karena ia ingin segera menceraikan Mira.
"Sayang ini?"
"Aku tidak ingin bercerai, apa salahku, hingga kamu ingin menceraikan aku sayang? Masa hanya karena aku belum bisa menjadi istri yang kamu inginkan, kamu ingin bercerai denganku, ini tidak lucu sayang,"
Namun, Jo tidak menanggapi ucapan dari Mira, yang ada kini ia mengambil ponselnya, dan mengotak atik ponselnya, lalu menyodorkan pada Mira. "Ini kesalahan terbesar kamu," ucap Jo yang menunjukkan vidio dimana Mira dan juga papa Rudi sedang melakukan aktifitas panas di atas ranjang, yang di berikan oleh sang mama.
Tentu saja melihat vidio dirinya dan juga papa Rudi, membuat Mira diam terpaku, dan begitu terkejut, kenapa sang suami bisa mendapatkan vidio tersebut.
"Puas kamu melakukan hal ini? Pada keluargaku hah!" kesal Jo, yang terus memikirkan mama Lala, yang Jo yakini sangat terpukul mengetahui kebenaran tersebut, berbeda dengannya, karena Jo tidak sama sekali merasakan sakit hati, melihat penghianatan Mira padanya, yang ada ia merasa lega, dengan kejadian tersebut ia bisa segera bercerai dengan wanita yang begitu rendah seperti Mira.
Dan Jo kini mengambil ponsel miliknya yang masih berada di tangan Mira.
"Segera tanda tangani surat cerai itu, jika tidak, bukti ini bisa memasukkan kamu ke jeruji besi!" ancam Jo agar Mira segera menandatangani surat gugatan perceraian.
"Sayang,"
"Jangan bicara!" bentak Jo, membuat Mira kaget. "Dan cepat tanda tangani,"
"Aku..."
Prang!
Jo mengingat meja kaca di hadapan Mira, hingga pecah, dan membuat Mira terkejut.
"Buruan!"
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Mira langsung membubuhkan tanda tangan mengikuti perintah Jo.
Bersambung.............