Absolute Soul

Absolute Soul
95. Penghadang Jalan



"Kalian itu bodoh, idiot, keduanya, atau bahkan lebih parah dari itu?" gerutu Verna masih geram dengan tindakan kedua sahabatnya yang tanpa pikir panjang menerjang sekawanan musuh.


"Maaf." Haikal dan Heru menggaruk kepalanya masing-masing sambil tersenyum kering tak ingin menjawab ataupun menyangkal perkataan Verna. Keduanya sadar bahwa perbuatan mereka dapat mengundang bahaya jika saja terjadi sesuatu yang tak terduga.


Beruntung selama keduanya bertarung melawan sekelompok Ant-Bee dalam rangka kompetisi itu tidak ada Verg lain berdatangan sehingga tidak ada sesuatu buruk yang terjadi, tetapi setelah bertarung melawan beberapa Verg sekaligus tanpa bantuan Haikal maupun Heru mustahil tidak kembali tanpa luka.


Saat ini baik Haikal maupun Heru sedang disembuhkan oleh Cecil, mereka mengalami beberapa cedera ringan seperti luka gores dan lebam, tapi terdapat juga bekas luka yang jika tidak ditangani secepat mungkin akan merepotkan.


Ant-Bee memang termasuk Verg kelas rendah yang bahkan mampu dihadapi oleh Blazer tingkat Newbie sekalipun jika satu lawan satu, namun kekuatan Verg Insect-class tidak terletak pada setiap individunya melainkan seberapa besar jumlah mereka.


Verg Insect-class seperti Ant-Bee bukanlah ancaman berarti jika dalam jumlah yang dihadapi Haikal dan Heru, tetapi jika dalam satu kelompok terdiri lebih dari 50 ekor Ant-Bee maka tingkat ancaman mereka bisa meroket hingga menyamai kelas Beast, bahkan bukan tidak mungkin mendekati kelas Chimera.


Haikal menggunakan alasan ini untuk meloloskan diri dari ceramah Verna, sayangnya gadis bertubuh pendek dan berambut ungu tersebut bukannya menghentikan ceramah, yang terjadi justru sebaliknya. Verna semakin keras memarahi keduanya.


Haikal dan Heru sama sekali tidak bisa berkutik melihat sikap Verna yang sedemikian rupa, keduanya mengetahui jika Verna sudah mulai mengoceh seperti ini maka hampir mustahil menghentikannya.


Saat Verna masih ingin memarahi Haikal dan Heru, Jack menepuk pundaknya, "Cukupkan sampai di situ saja ceramahmu, Verna. Kita masih harus pergi menuju muara sungai."


Jack menjelaskan meskipun di tempat ini keadaan terlihat tidak buruk melihat tak begitu banyak Verg berkeliaran, dia tidak bisa mengatakan hal sama untuk para Blazer yang berjaga sekitar sungai.


Muara sungai merupakan salah satu tempat paling dijaga di seluruh Adele mengingat itulah pintu masuk utama bagi Verg model Aquatic, penjagaan di muara sungai tidak boleh lebih lemah dari pusat kota.


"Sedikitnya Verg yang berkeliaran di sini juga hasil usaha Blazer di hilir sungai," tambah Jack mengingatkan situasi sekitar yang sebenarnya cukup aman dibanding situasi di dalam akademi.


Begitu melihat situasi sekitar yang tidak terlalu parah, Jack semakin yakin jika Spaceless Blazer sungguh menggunakan kemampuan manipulasi ruang dan waktunya untuk memindahkan sebagian Verg di luar dinding langsung ke lingkungan akademi.


Dengan kemampuan yang dapat berpindah ke manapun tanpa menghiraukan jarak dan waktu, bukan tidak mungkin Spaceless Blazer juga menghancurkan pelindung anti-Verg di sekitar muara sungai dan membuat Verg model Aquatic di luar dinding masuk dengan sendirinya.


Verna menghela nafas sejenak mengiyakan perkataan Jack, dia lalu memandang Haikal dan Heru, "Jika kalian sampai berbuat sembarangan lagi...." Verna tidak melanjutkan kata-katanya lebih jauh, dia hanya memberikan tatapan menusuk pada kedua pemuda tersebut.


Haikal dan Heru mengangguk secepat mungkin tidak berniat melawan Verna.


Begitu luka-luka yang dapat mempengaruhi pergerakan mereka menutup, Cecil menyudahi perawatannya terhadap Haikal dan Heru sambil tersenyum tipis, "Aku tahu kalian bersemangat, tapi tolong diingat juga energi jiwaku bukan tak terbatas."


Keduanya tidak bisa berkata apa-apa selain meminta maaf akibat ulah mereka, Cecil menggunakan lebih banyak energi jiwa dari yang seharusnya.


Dalam kelompok mereka saat ini Cecil-lah yang paling besar daya konsumsi energi jiwanya mengingat dia harus selalu mengeluarkan Jade Phoenix dan membagi penglihatannya untuk memperhatikan lingkungan sekitar dalam ruang lingkup luas.


Haikal dan Heru yang melupakan hal tersebut dan terbawa suasana merasa bersalah, berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


Setelah kejadian kecil itu kelompok Haikal melanjutkan perjalanan menuju muara sungai. Mereka beberapa kali bertemu Verg yang berkeliaran, tetapi semua Verg tersebut tidak lebih dari kelas Normal sehingga dapat ditangani dengan baik.


Dalam perjalanan ini juga Haikal dan Heru menyadari terdapat sesuatu yang berbeda dari Cecil.


Heru yang mendengar pertanyaan Haikal mengangkat sebelah alisnya sebelum ikut menoleh ke arah Cecil, "Aku pikir saat melawannya di pertandingan sebelumnya itu hanya perasaanku saja, tapi setelah diperhatikan lebih jauh ternyata instingku tidak salah."


Saat menyadari dirinya diperhatikan oleh Haikal dan Heru, Cecil hanya tersenyum tipis membalas keduanya meski tidak mengetahui dirinya sedang dibicarakan. Hal itu membuat Haikal dan Heru bulu kuduk mereka berdiri sesaat.


"Tidak sopan sekali kalian." Verna bisa mendengar pembicaraan Haikal dan Heru walaupun keduanya sudah menjaga volume suara, "Cecil bersikap begini bisa dibilang adalah kemajuan."


Verna kemudian menceritakan secara singkat masa lalu Cecil yang menyebabkan sikap gadis tersebut menjadi sangat pemalu dan tidak percaya diri. Dia merasa keduanya perlu mengetahui hal ini mengingat sikap Cecil memang terlihat amat berbeda dari pandangan orang lain.


"Jadi begitu rupanya." Haikal menganggukkan kepalanya baru mengetahui alasan di balik sikap Cecil yang begitu pemalu, di saat yang bersamaan merasa geram terhadap kaum bangsawan yang berusaha meruntuhkan mental Cecil sejak dini.


Reaksi Heru juga tidak jauh berbeda dari Haikal. Dia adalah kekasih Verna yang juga berasal dari keluarga bangsawan Galvoria, tidak sedikit pengalaman tak menyenangkan yang dia terima dari kerabat-kerabat Verna sehingga mengutuk kaum bangsawan yang berusaha menjatuhkan Cecil dalam hati.


Di sisi lain Salvia yang sejak tadi ikut mendengarkan dalam diam tidak terlalu bereaksi, namun biarpun tidak begitu mengekspresikan perasaannya, dalam hati Salvia juga merasa iba kepada Cecil. Dia pernah mendengar peristiwa serupa di masa lalu, namun tak menyangka bahwa Cecil-lah korban kejadian tersebut.


Verna yang membicarakan masa lalu Cecil kemudian tersadar akan sesuatu, dia memandang Haikal dengan sorot mata khawatir, "Haikal... aku...."


"Tidak, jangan bicarakan itu sekarang." Haikal dapat mendengar gumaman Verna dan langsung menolak topik yang hendak dibicarakan Verna, membuat gadis berambut ungu tersebut tersenyum tipis namun tidak mempermasalahkannya karena merasa dirinya memang tidak layak membicarakan hal tersebut.


Haikal bisa melihat perasaan bersalah pada mata Verna, namun sebelum dia mengangkat suara berniat meluruskan kesalahpahaman yang Verna pikirkan, Cecil menjerit keras.


"Di depan sekitar empat ratus meter terdapat seseorang! Dia tidak mengenakan seragam atau penanda Blazer yang melambangkan Guild manapun di Adele, hanya mengenakan jubah bertudung!"


Haikal dan lainnya segera memperlambat langkah mereka sambil mempersiapkan Soul Arc masing-masing, tentu terkecuali Haikal yang belum mampu membangkitkan Soul Arc-nya sehingga mengaktifkan Soul Saber di tangannya.


Mereka semua sama-sama berpendapat bahwa orang yang dimaksud Cecil bukanlah sosok baik-baik sehingga harus bersiap jika pertarungan tidak dapat dihindari.


Tidak butuh waktu lama bagi keenamnya bisa melihat sosok berjubah tersebut dengan mata telanjang, lalu menghentikan langkah bersamaan tak mengacaukan formasi.


"Hmm, ternyata benar apa yang dikatakan Nigel. Kita bisa bertemu di tempat ini, Haikal Alendra dan Heru Hartanto," ujar sosok tersebut.


Perkataan sosok berjubah itu membuat Haikal dan lainnya mengerutkan dahi di waktu yang bersamaan, Jack yang pertama bereaksi terhadap sosok tersebut, "Kalian mengenalnya, Haikal, Heru?"


"Menurutmu aku akan berekspresi begini jika aku mengenalnya?" Haikal menunjuk wajahnya sendiri yang nampak kebingungan, begitu pula Heru yang tak jauh berbeda membuat Jack menggaruk kepalanya.


"Aih, kalian jahat sekali melupakanku begitu saja." Sosok tersebut tertawa dingin menanggapi ucapan Haikal, dia lalu membuka jubahnya dan mengeluarkan belasan belati yang segera mengintari tubuhnya, "Mungkinkah kalian lebih mengingat ini?"


Haikal dan Heru membelalakkan matanya sejenak melihat belasan belati terbang tersebut, mereka langsung mengingat siapa sosok bertudung ini, "Kau...."


"Benar, ini aku! Pengguna teknik Knives Drive yang pernah kalian kalahkan!" Sosok itu tertawa lantang sesaat sebelum memperkenalkan dirinya, "Namaku Shear Hancliff, mungkin kalian bisa mengingat nama ini mulai sekarang."