
Salvia yang menyaksikan aksi Haikal mengalahkan ketiga lawan tersebut sontak mengeluarkan keringat dingin dan menelan ludah merasa takut pada Haikal. Dia secara refleks memeluk tubuhnya sendiri.
"Itu... Haikal?" Salvia bertanya pada dirinya sendiri merasa begitu heran melihat Haikal tanpa ragu menebas anggota badan lawannya. Memang tidak sampai membunuh namun ini sedikit menakutkan sekaligus menjijikkan bagi Salvia yang baru pertama kali melihat hal semacam ini secara langsung.
Selagi Salvia merasa mual melihat begitu banyak darah dan lengan anggota Blackout yang terpisah dari tubuhnya, Haikal melirik pada gadis tersebut sejenak. Dia bisa melihat dan memahami reaksi Salvia.
Haikal kemudian mengalihkan pandangannya kepada Heru yang kemudian dijawab dengan anggukan pelan.
Melihat tanggapan Heru, Haikal kemudian memanggil Salvia dengan sebuah senyuman yang terlihat dipaksakan, "Salvia, aku akan pergi duluan membereskan beberapa lawan yang mungkin berdatangan."
"Eh? Tunggu dulu, Hai—" Belum sempat Salvia menyelesaikan kata-katanya, Haikal sudah beranjak dari tempatnya dan berlari kecil ke depan mendahului Salvia, membuat gadis itu seketika lemas dan jatuh berlutut di lantai.
Salvia terbelalak hebat menyadari kakinya terkulai lemah seakan seluruh tenaganya menghilang. Dia ingin memaksa kakinya untuk berdiri namun tak bisa, "Kenapa? Ada apa dengan kakiku?"
Dia berusaha bangkit berdiri semampunya, tetapi sekuat apapun dirinya berusaha Salvia selalu terduduk kembali. Salvia kemudian melihat menuju arah Haikal berlari hendak menyusulnya, tapi Haikal sudah menghilang dari pandangannya.
Salvia lalu tanpa sadar meneteskan air mata memandangi arah Haikal pergi, dia menyadari air matanya setelah berselang beberapa detik kemudian. Salvia menyeka air matanya meski tidak mengerti mengapa dirinya menangis.
Pada saat itu juga Heru melangkah mendekat dan menepuk pundaknya membuat Salvia sedikit terkejut, "Tidak perlu sampai menangis begitu, Salvia. Haikal tidak bermaksud jahat kok."
Salvia ingin mengatakan sesuatu pada Heru, tetapi tak ada kata-kata di pikirannya yang keluar, "Aku tahu.... Haikal melakukan itu juga demi melindungiku."
"Tapi, yang kulakukan bukannya berterima kasih justru aku takut padanya," kata Salvia sedikit terisak setelah dirinya lebih tenang. Dia bisa melihat jelas kesedihan di balik senyum dan ekspresi Haikal sebelum pergi. Hal itu membuatnya merasa bersalah.
Heru mengangguk pelan sedikit banyak memahami perasaan Salvia. Memang benar ini pertama kalinya Heru melihat Haikal mengayunkan pedang tanpa ragu menebas manusia, meski tidak sampai membunuh, tapi dia sendiri sudah mengetahui alasan di balik sikap sadis Haikal.
"Salvia, mungkin kau belum tahu, tapi Haikal memiliki alasan tersendiri mengapa dia tidak ragu bertindak demikian." Heru menepuk punggung Salvia sembari ikut memandang arah Haikal pergi, membuat Salvia penasaran.
Heru menarik nafas dalam-dalam kemudian menatap Salvia, lalu mengangkat suaranya sekali lagi, "Haikal sebenarnya sudah lama membuang keraguannya."
Salvia terbelalak sejenak mendengar perkataan Heru namun masih tidak mengerti ke mana arah pembicaraannya. Heru sendiri bisa melihat ekspresi keheranan di wajah Salvia, dia tersenyum kecil menanggapinya.
"Yah, intinya jika itu demi orang yang disayanginya, Haikal tidak akan ragu untuk mengotori tangannya sendiri," ujar Heru sembari membantu Salvia berdiri, "Dia sudah tidak ingin kehilangan orang berharganya lagi karena ragu."
Heru tersenyum selebar mungkin agar Salvia tidak perlu khawatir, namun nyatanya Salvia bisa melihat senyuman tersebut hanyalah senyum palsu. Dia bisa merasakan kesedihan di balik senyuman Heru.
Salvia menundukkan kepalanya menatap lantai mengingat-ingat kembali kenangannya bersama Haikal. Dia ingat Haikal adalah sosok hangat yang mudah tersenyum, jauh berbeda dari sosok Haikal yang terakhir dia lihat.
Sorot mata dan suara Haikal terdengar begitu dingin saat berhadapan dengan tiga anggota Blackout beberapa waktu lalu. Sosok Haikal ini jauh dari Haikal yang selama ini dikenal Salvia.
"Heru, apa kau bisa menceritakan masa lalu Haikal padaku?" Salvia bertanya tanpa mengangkat wajahnya, membuat dahi Heru sedikit mengerut.
Keheningan tanpa jawaban dari Heru membuat Salvia menengadahkan dagunya menatap pemuda tersebut dengan mata berkaca-kaca, "Aku ingin mengenal Haikal lebih banyak, memahami perasaan Haikal lebih banyak, dan lainnya juga."
Mendengar itu Heru dilanda kebimbangan. Dia ingin menuruti permintaan Salvia sebagai salah satu orang yang berharga bagi sahabatnya itu, tetapi di sisi lain Heru merasa tidak memiliki hak untuk menceritakan masa lalu Haikal.
Pada akhirnya Heru menghela nafas panjang sebelum mengangkat suaranya, "Aku tidak bisa menceritakan keseluruhannya, jika kau bersungguh-sungguh maka kau bisa menanyakan itu pada Haikal sendiri setelah pertempuran ini."
"Salvia, sebagai calon Blazer dari keluarga Blazer tingkat tinggi kau pasti mengetahui kejadian tiga tahun lalu, kejadian tentang sekelompok anak bermain keluar dinding, kan?" Heru mengecilkan suaranya hingga hanya bisa didengar oleh Salvia.
"Sekelompok anak bermain keluar dinding?" Salvia berusaha mengingat kejadian yang disebutkan Heru selama beberapa saat sebelum matanya terbelalak lebar ketika mengingat hal tersebut, "Jangan-jangan...."
Heru mengangguk pelan membenarkan dugaan Salvia, "Benar, sekelompok anak itu adalah aku, Haikal, Verna, dan seorang lainnya."
Heru kemudian menceritakan kejadian dua tahun lalu kepada Salvia. Dia tidak menjelaskan banyak, Heru hanya mengatakan bahwa sikap Haikal terlihat dingin dan tak berperasaan barusan ada kaitannya terhadap kejadian tersebut.
Memang benar Salvia sangat tidak puas terhadap kisah Heru yang tak terlalu jelas, namun dia bisa menebak apa yang terjadi melihat wajah Heru yang nampak pucat dan menahan mual serta sikap Haikal yang terasa begitu dingin sebelumnya.
Melihat wajah pucat Heru, Salvia segera menyuruhnya beristirahat di atas Snow Cloud-nya. Saat ini kondisi Heru bisa dikatakan kekurangan darah karena bertarung melawan beberapa anggota Blackout sekaligus, jadi Salvia khawatir kondisi Heru memburuk karena memaksakan diri bercerita.
"Maaf memintamu bercerita padahal kondisimu cukup parah," kata Salvia meminta maaf merasa bersalah.
"Ah, aku begini karena mengingat kejadian itu, bukan terlalu lemas kekurangan darah," balas Heru tak ingin membuat Salvia khawatir lebih dari ini.
Perkataan Heru nyatanya tidak terlalu efektif menenangkan Salvia, gadis tersebut justru merasa tak enak mengetahui masa lalu Haikal dan Heru sama sekali jauh berbeda dari bayangannya.
Heru bisa melihat reaksi Salvia dan seketika merasa lebih baik kemudian tersenyum kecil sambil bergumam dalam hati, "Kelihatannya kau akan mendapat tanggung jawab yang cukup merepotkan, Haikal."
Setelah merasa lebih baik, Salvia dan Heru berjalan cepat menelusuri lorong menyusul Haikal. Tidak lupa selama perjalanan Salvia membungkus tubuh Heru dengan saljunya mengurangi pendarahan serta luka lebam yang diderita Heru.
Sejauh mereka menyusuri lorong keduanya tidak bertemu musuh satu kalipun, baik itu Verg maupun Blazer Blackout, justru mereka menemukan beberapa mayat Verg tak bernyawa serta beberapa manusia terbaring di lantai tanpa kesadaran.
"Haikal yang melakukan semua ini?" Salvia mengangkat alisnya melihat semua itu tidak dapat percaya bahwa Haikal mengalahkan mereka dalam waktu singkat. Berbeda dari sebelumnya, kali ini tidak ada satupun dari Blazer anggota Blackout yang kehilangan anggota tubuhnya.
Mungkin karena mengetahui reaksi Salvia yang terganggu terhadap anggota tubuh yang tidak berada di tempat yang semestinya, Haikal mengalahkan mereka semua dengan pukulan semata.
Heru juga ingin berkomentar tetapi menahan diri karena kondisinya saat ini tidak memungkinkannya berbicara lebih jauh. Raut wajahnya terlihat begitu pucat sekarang berkat kehilangan banyak darah.
Beruntungnya tidak butuh waktu lama bagi mereka melihat pintu gedung kelas satu yang menjadi tujuan mereka. Baik Salvia maupun Heru mendapati beberapa Blazer resmi menjaga pintu tersebut.
Dua Blazer tersebut segera mendatangi Salvia dan Heru begitu mengetahui kedatangan keduanya, "Nona Salvia, anda tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa, tapi Heru butuh penanganan medis secepatnya," ujar Salvia menyerahkan Heru pada salah satu dari mereka yang kemudian permintaannya segera dituruti.
Salah satu Blazer resmi itu lalu menanyai keadaan Salvia secara mendetail seakan tidak ingin gadis berambut perak tersebut terluka segores pun, membuat Salvia tersenyum kecut. Dia bisa menebak Blazer ini diminta oleh Veindal agar memastikan keamanan Salvia.
"Omong-omong, di mana Haikal? Seharusnya dia sudah sampai lebih dulu dari kami." Salvia menoleh ke sana kemari memeriksa sosok Haikal tetapi tidak menemukan keberadaan pemuda tersebut.
Blazer itu menuturkan bahwa Haikal sedang beristirahat di dalam gedung lalu meminta agar Salvia juga ikut masuk, "Silahkan nona beristirahat di dalam. Tempat ini biar kami yang menjaga."
"Baiklah jika begitu." Salvia tidak menolak tawaran Blazer tersebut dan melangkah masuk ke dalam gedung, namun begitu begitu dirinya membuka pintu matanya terbelalak lebar menyaksikan pemandangan yang sama sekali tidak dia duga.