Absolute Soul

Absolute Soul
64. Snow Princess vs Witch Queen



Tantangan dari Verna yang disetujui oleh Salvia berhasil menghebohkan seisi arena, bahkan para penonton di tempat lain yang menyaksikan semuanya melalui televisi atau internet yang disiarkan secara umum juga tidak kalah hebohnya.


Selagi seisi arena tengah heboh-hebohnya membicarakan dan mendiskusikan tantangan Verna serta persetujuan Salvia tersebut, sang pembawa acara sedikit panik tidak tahu harus berbuat ataupun berkomentar apa mengingat dirinyalah yang harus menarik undian.


Pada akhirnya pembawa acara menyerah harus berbuat apa, dia mengalihkan perhatian kepada Kepala Sekolah Akademi Skymaze yang berada di ruangan khusus pengajar, Veindal Volksky, "Bagaimana pendapat anda tentang hal ini, Kepala Sekolah?"


Pada saat itu juga perhatian seluruh arena terpusat kepada Veindal, termasuk para kru kamera yang kini menyorot pria paruh baya tersebut, membuat Veindal berpikir sejenak sebelum menyuarakan pendapatnya.


"Aku sendiri tidak keberatan jika harus mengabaikan sistem undian untuk sekarang." Veindal juga menjelaskan bahwa bukan hanya Verna dan Salvia, tetapi sejak awal dimulainya turnamen semua orang mengetahui bahwa terdapat sebuah tantangan yang mungkin akan terjadi di babak ini, yaitu pertandingan Haikal melawan Jack.


Tidak ada menyangkal bahwa pertandingan Haikal dan Jack merupakan salah satu pertandingan yang ingin sekali ditonton oleh banyak pasang mata, namun mereka sadar kemungkinan terjadinya pertandingan tersebut sangatlah kecil—terutama sebelum Haikal memperlihatkan hasil kerja kerasnya selama ini.


Di hadapan mereka kini hanya tinggal satu langkah lagi agar pertandingan tersebut terwujud, ditambah tantangan dari Verna terhadap Salvia yang menarik minat sebagian besar para penonton.


Verna dikenal sebagai Witch Queen dan digadang-gadang sebagai calon Blazer tipe Wizard terbaik di angkatan kelas satu tahun ini, tetapi sang Snow Princess Salvia juga tidak kalah hebatnya sebagai sesama calon Blazer tipe Wizard.


Jika pertandingan demi memperebutkan gelar Calon Blazer Wizard Terkuat seangkatan ini sungguh terjadi, maka akan menjadi pertarungan yang menarik—mungkin melebihi penantian pertarungan Jack melawan Haikal.


Pertarungan antara dua calon Blazer yang paling diunggulkan dipertemukan dalam pertandingan, siapa yang bisa mengatakan 'tidak' pada pertarungan ini?


Para penonton yang hadir di arena saling berdiskusi tentang pendapat Veindal sebagai Kepala Sekolah Akademi Skymaze, di saat yang sama di ruangan khusus para wakil Guild juga tertarik terhadap pendapat pria paruh baya tersebut.


Setelah melihat berbagai reaksi penonton dan para wakil Guild di ruangannya masing-masing, Veindal tersenyum puas.


"Baiklah, dengan pengecualian di babak final Turnamen Penyambutan tahun ini, pertandingan kedua akan menyuguhkan pertarungan Verna Galvoria melawan Salvia Volksky demi memperebutkan gelar Blazer Wizard terbaik di angkatan ke-27," seru Veindal mengumumkan, "Kemudian pertandingan terakhir akan dimeriahkan oleh Jack Calvin dan Haikal Alendra!"


Pengumuman Veindal tersebut disambut hangat oleh sorakan para hadirin. Sebagian memang tidak puas atas beberapa pengecualian khusus yang dibuat oleh Veindal pada Turnamen Penyambutan tahun ini, namun mereka hanya bisa menerima.


"Ehm, karena Kepala Sekolah telah memutuskan, silahkan peserta Verna Galvoria dan Salvia Volksky mempersiapkan diri," ujar pembawa acara dengan ragu, masih sedikit tidak percaya Veindal yang merupakan kepala sekolah akademi memutuskan hal tersebut seenaknya.


Mendengar arahan sang pembawa acara, Salvia langsung melakukan peregangan kecil tepat di sebelah panggung arena, diikuti oleh Verna yang juga melakukan hal serupa di sisi seberang arena.


"Salvia, kau yakin bisa bertarung dalam kondisi ini?" Tanya Haikal sebelum melangkah menuju ruang tunggu di pinggir arena.


Salvia mengangkat sebelah alisnya sejenak mendengar pertanyaan Haikal, kemudian tersenyum mengejek, "Apa kau menganggapku selemah itu?"


Haikal tidak menjawab namun dia tak mengalihkan pandangannya dari mata Salvia, membuat hati gadis tersebut gundah, "Salvia, jawablah dengan jujur."


Biarpun secara fisik Salvia terlihat mampu bertarung kapanpun, Haikal masih kurang yakin terhadap metode rehabilitasi yang dirinya temukan dapat memulihkan cedera Salvia dalam waktu sesingkat ini, walau memakai energi jiwa milik Veindal yang notabenenya berkualitas tinggi


Melihat sorot mata Haikal yang nampak benar-benar khawatir terhadapnya, Salvia menghela nafas panjang merasa kalah. Dia lalu mengalihkan pandangannya menuju Verna di sisi seberang arena yang tengah melakukan pemanasan ringan.


"Sejujurnya, bisa dibilang kondisiku belum pulih sepenuhnya," ujar Salvia tersenyum masam.


"Kalau begitu—"


Belum sempat Haikal menyelesaikan perkataannya, gadis itu kembali memandang Haikal dengan senyuman lembut seperti biasa, namun terdapat sebuah kesedihan di balik senyuman tersebut, "Aku tidak ingin menjadi orang tak berguna untuk kedua kalinya."


Haikal tertegun sesaat mendapatkan senyuman Salvia. Memang benar sebagian besar alasan Haikal terdiam disebabkan oleh senyuman Salvia yang tidak terlalu sering terlihat, tetapi Haikal bisa melihat kesedihan di balik senyum tersebut.


Dia ingin sekali bertanya apa yang mengganggu gadis itu, namun di saat yang bersamaan Haikal merasa dirinya tidak berhak ikut campur terlalu jauh ke dalam masalah pribadi.


"Baiklah, aku takkan melarangmu." Pada akhirnya Haikal menghela nafas panjang mengangkat tangan merasa tidak berhak ikut campur, "Tapi, jika aku merasakan adanya serangan mematikan seperti serangan terakhir Edward lalu, aku akan langsung menghentikan pertandingan."


"Yah, Verna bukan orang yang seperti itu juga sih." Haikal menggaruk kepalanya yang tidak gatal sejenak sebelum berbalik dan mulai melangkah menjauhi arena sambil melambaikan tangannya ke belakang, "Apapun itu jangan terlalu memaksakan dirimu."


Salvia tertegun untuk sesaat memandangi punggung lebar pemuda tersebut. Dia dapat merasakan suatu perasaan asing nan hangat merasuki hatinya, "Haikal sungguh mengkhawatirkanku," batin Salvia memegangi kerah baju bagian dadanya.


Tanpa sadar bibir gadis tersebut menyunggingkan sebuah senyuman, namun kali ini tidak ada kesedihan yang terkandung di dalamnya. Senyuman itu mungkin adalah senyuman paling lebar dan tulus yang pernah tercipta pada bibir Salvia.


"Sudah puas mengobrolnya?" Suara Verna kembali menyadarkan Salvia dari lamunannya, membuat gadis berambut perak itu mengalihkan perhatian pada Verna yang kini berdiri sendirian di panggung arena.


Salvia menarik serangkaian nafas sejenak memantapkan hatinya sebelum melangkah naik ke atas panggung arena, berhenti tepat di hadapan Verna, "Ya, kurang lebih begitu."


Verna mengangguk pelan dan tanpa membuang waktu mengeluarkan Soul Arc-nya yang berbentuk tongkat sihir sepanjang satu meter dengan sebuah batu kristal kecil tanpa warna pada ujungnya, sebuah tongkat bernama Elemental Staff.


Verna mengangkat Elemental Staff dan menunjuk Salvia dengan tongkat tersebut, "Aku tidak akan segan meski kau baru saja pulih, Salvia."


"Tentu saja, aku pun akan bersikap demikian." Salvia mulai memproduksi sejumlah besar salju yang melayang di sekitar tubuhnya menanggapi pernyataan Verna yang nampaknya tidak main-main.


Verna menyunggingkan senyuman kecil pada bibirnya sebelum membenturkan tongkatnya ke lantai arena sekali, lalu mengalirkan sejumlah energi jiwa pada Elemental Staff di tangannya.


Salvia tidak ketinggalan, dia juga menciptakan lebih banyak salju menggunakan energi jiwa dan menyebarkan sejumlah salju ke sekitarnya demi mempersiapkan serangan pertama.


Melihat kedua gadis tersebut telah siap sang pembawa acara berseru keras, "Pertandingan babak final kedua, Verna Galvoria melawan Salvia Volksky, dimulai!"


Tepat sepersekian detik setelah pertandingan resmi dinyatakan mulai, baik Verna maupun Salvia segera melayangkan serangan pertama dari jarak jauh secara bersamaan.


Salvia menciptakan puluhan tombak salju, sementara Verna mengerahkan sihir api langsung dari kristal tongkatnya yang kini berwarna merah padam.


"Snow Javelin – Barrage!" Seru Salvia melesatkan puluhan tombak salju miliknya ke depan.


Tak ingin kalah cepat, Verna juga melayangkan serangannya yang berupa semburan api, "Red Burst!"


Kedua serangan tersebut berbentrokan di tengah arena dan menciptakan ledakan dahsyat, menggetarkan seluruh arena dan hati para hadirin.


---


Author


Hai, sesuai janji minggu ini saya akan up 3 bab karena ada yg bisa menjawab tebakan saya minggu lalu!


Sayangnya hanya satu referensi utama yg berhasil ditebak, yaitu God Eater. Selamat bagi kamu yg berhasil menebaknya 👏


Satu referensi utama yg saya pakai lainnya adalah novel lokal buatan R. Lullaby-sensei, My Dearest! Sebagian besar dari kalian pada gak tau novel ini, kan?


Ini bukan promosi yg didukung oleh penulisnya, tapi saya ingin banyak orang mengenal novel atau Light Novel luar biasa ini.


Kenapa? Ya saya termasuk penggemar seri ini sih + author-nya, juga R. Lullaby-sensei ini adalah salah satu dari tiga penulis yg mendorong saya sampai ke sini dan salah satu penulis yg paling saya kagumi dan hormati.


Omong-omong, R. Lullaby-sensei gak ada di lapak ini, dia aktif di FB dan web lain. Kalau kalian cari ********-nya sekarang sih udah gak ada, cuma buku cetakan yg bisa kalian beli dan baca.


Penasaran ceritanya? Silahkan saja cari dan beli sendiri, hahahaha!