
Sudah belasan menit semenjak dimulainya pertarungan akhir, alur pertandingan beberapa kali berubah akibat kemampuan kedua pemuda tersebut, tetapi dalam beberapa menit terakhir Jack berhasil menungguli Haikal secara telak.
"Gerakanmu terlalu lambat bagi seseorang yang telah mengalahkan Edward, Haikal," kata Jack sambil menghindari setiap serangan Haikal.
"Berisik!" Haikal berdecak kesal menanggapi perkataan Jack, dia terus melancarkan pukulan maupun tendangan namun tak ada satupun serangannya yang berhasil masuk belakangan ini.
Jack mendesah pelan melihat reaksi Haikal yang terlihat kehilangan ketenangan. Dia kemudian mengangkat kakinya menyarangkan sebuah tendangan telak pada perut Haikal, membuat pemuda tersebut terhempas beberapa langkah ke belakang.
"Sialan...." Haikal meringis memegangi perutnya, padahal tendangan Jack tidak lebih keras dari sebelumnya namun dirinya bisa merasakan sakit yang tak sedikit di sekitar pusarnya.
Jack menyipitkan matanya bisa melihat kondisi Haikal yang tidak prima. Biarpun sebagian besar disebabkan oleh dirinya, Jack merasa ada sesuatu yang mengganjal Haikal sejak beberapa saat lalu dan dia tahu apa sebenarnya itu.
"Kau sudah sadar mengapa kau tidak bisa membangkitkan Soul Arc-mu sampai sekarang?" Ujar Jack tiba-tiba membuat tubuh Haikal bergetar, para hadirin juga ikut terkejut mendengar perkataan Jack.
Haikal menggigit bibirnya hingga mengeluarkan darah menanggapi ucapan Jack, "Lalu, memangnya kenapa? Hanya ini satu-satunya yang bisa kulakukan demi menebus dosaku."
Jack menggelengkan kepalanya sejenak sebelum sekali lagi melancarkan tendangan, kali ini dia mengincar pipi Haikal. Benar saja, Haikal yang sama sekali tidak siap itu tak mampu menghindar maupun bertahan sehingga hanya bisa menerima serangan Jack.
Haikal terhempas cukup jauh dan berakhir di dinding stadium lainnya hingga menghancurkan arena lebih banyak, namun dia tidak kehilangan kesadarannya.
"Masih belum mau mengakui alasanmu yang sebenarnya?" Jack menggeretakkan giginya merasa kesal melihat Haikal yang begitu keras kepala.
Haikal tidak menanggapi perkataan Jack tersebut, dia perlahan-lahan bangkit lalu menyunggingkan senyum kecil menatap Jack, "Kau cerewet sekali, Jack. Tidak sepertimu yang biasanya."
"Haikal Alendra!" Jack tidak bisa menahan diri lagi melihat reaksi Haikal, dia lalu menendang lantai dan melesat menuju Haikal dan menyarangkan sebuah tendangan telak pada perut Haikal, menghempaskan pemuda tersebut menghantam dinding stadium lainnya.
"Argh!" Haikal memuntahkan darah segar dari mulutnya ketika menghantam dinding, membuat sebagian hadirin yang sadar memejamkan mata tak kuat melihat pertarungan satu sisi tersebut. Haikal ambruk ke lantai sesaat sesudah menabrak dinding.
Tidak ada satupun hadirin yang berani berkomentar, entah apakah itu karena tidak sanggup menyaksikan Haikal terkena serangan lebih dari ini atau kagum terhadap Jack yang tak terlihat kelelahan atau semacamnya.
"Ini...." Pembawa acara sekalipun tidak mampu berkata-kata, matanya terbuka lebar menyaksikan kondisi Haikal serta arena yang sudah babak belur. Kerusakan arena selevel ini mungkin adalah kerusakan terberat sejauh Turnamen Penyambutan berlangsung.
Pembawa acara menoleh ke arah ruangan Veindal berada berharap sosok Kepala Sekolah Akademi Skymaze tersebut menghentikan jalannya pertandingan, mengingat kondisi Haikal sudah begitu parah.
Tanpa banyak yang menyadarinya, dahi Veindal sendiri mengerut hebat menyaksikan pertandingan ini. Dia bisa mengukur sekuat apa serangan Jack yang bisa dikatakan selevel Blazer tingkat Expert atau bahkan Master.
"Jika bukan karena tubuh Haikal telah dilatih sedemikian rupa, mungkin dia sudah tewas atau setidaknya sekarat karena serangan sekuat itu," batin Veindal merasa kagum terhadap Haikal yang bukan hanya tidak kehilangan kesadarannya, tetapi juga mampu berdiri dan menantang Jack lebih banyak lagi.
Setelah puas mengagumi ketahanan Haikal yang tidak wajar, pandangan Veindal kemudian terarah pada Jack sambil bergumam dalam hati berharap Jack menghentikan serangan brutalnya, "Bukankah ini sudah lebih dari cukup jika ingin menyadarkan Haikal, Jack?"
Jack membalikkan badannya berjalan menjauhi Haikal yang tergeletak tak berada di lantai menuju keluar lapangan arena, membuat hadirin yang tersisa bersorak sementara pembawa acara mengumumkan pemenang pertandingan final ini.
"Pemenang pertandingan final akhir... Jack Calvin!" Pembawa acara berseru keras, "Lalu, pemenang akhir Turnamen Penyambutan ke-25 adalah Kelompok Verna ; Verna Galvoria, Jack Calvin, serta Cecil Vermillion!"
Pengumuman pemenang tersebut disambut sorak-sorai hadirin yang mendukung kelompok Verna, sementara pendukung kelompok Salvia merasa cukup kecewa namun tidak menyalahkan anggota kelompok yang mereka dukung.
"Pemenang turnamen ini memang Kelompok Verna, tapi Kelompok Salvia tidak buruk juga."
"Benar, selain Salvia yang salah satu dari empat jenius generasi ini, Haikal juga tidak terlalu jauh levelnya."
"Jangan lupakan Heru juga. Meski lawannya perempuan, berhasil mengalahkan Blazer dengan Soul Arc Jade Phoenix termasuk prestasi yang lumayan."
Suara tepuk tangan mengiringi kembang api yang meledak menyambut pemenang Turnamen Penyambutan tahun ini. Sebagian besar puas dengan pertandingan luar biasa yang disuguhkan, namun sebagian lainnya tidak terlalu menerima hasil demikian.
Itu wajar mengingat sudah banyak pandangan negatif pada Haikal yang merupakan calon Blazer pecundang yang belum mampu membangkitkan Soul Arc-nya sendiri, lalu sifat dasar manusia yang keras kepala terhadap stigma tertentu.
Pertarungan sengit antara Jack yang dipandang salah satu jenius tersembunyi melawan Haikal yang merupakan pecundang gagal tanpa Soul Arc cukup menggoyahkan kekeras kepalaan mereka, apalagi jika Haikal sampai menjadi pemenang pertandingan ini.
Jack tidak terlalu menanggapi semua sorak-sorai tersebut yang sebagian besarnya memuji namanya, dia menoleh ke arah Haikal yang saat ini tangannya mengepal keras kemudian tersenyum kecil melihat reaksi Haikal yang nyatanya tak kehilangan kesadarannya.
"Kau dengar itu, Haikal?" Jack tersenyum lembut sedikit banyak memahami perasaan Haikal yang kemungkinan besar campur aduk antara kesal karena kalah dan gembira berkat diakui oleh orang lain sebagai calon Blazer, "Kau tidak perlu lagi menyalahkan dirimu sendiri setelah semua ini, kan?"
"Akuilah hasrat serta jati dirimu yang sebenarnya, itulah kunci untuk membangkitkan Soul Arc bagimu," ujar Jack menengadahkan dagunya menatap langit, "Jangan berpaling lagi."
Haikal tidak bisa berkomentar membalas ucapan Jack. Dia menolak lantai menggunakan kedua lengannya berusaha bangkit, tetapi berkat serangan habis-habisan Jack serta tenaganya yang sudah terkuras habis setelah bertarung sekuat tenaga Haikal tidak bisa bangun.
Jack yang melihat itu tersenyum kecut, lalu melemparkan selembar kartu menuju badan Haikal. Sesaat kemudian kartu tersebut terurai menjadi partikel energi jiwa hijau yang memasuki tubuh Haikal, memulihkan sebagian besar cederanya dalam beberapa saat saja.
Haikal membuka matanya cukup lebar menyaksikan hal gaib yang terjadi pada tubuhnya, "Ini...." Dia mengalihkan pandangan menuju Jack dengan sorot mata keheranan.
"Kartu hatiku mempunyai kekuatan menyembuhkan," jawab Jack tanpa perlu mendengar pertanyaan Haikal dengan senyuman khasnya, namun beberapa saat kemudian senyum tersebut memudar, "Kau akan membutuhkannya."
Haikal memiringkan kepalanya tidak mengerti maksud perkataan Jack, tetapi belum sempat dirinya kembali bertanya Jack sudah mengalihkan perhatiannya menuju sosok pembawa acara yang masih berkomentar dengan semangatnya mengenai kelompok pemenang turnamen.
"Hei, pembawa acara." Jack mengangkat tangannya dan menunjuk pembawa acara tersebut, membuat yang ditunjuk serta para hadirin yang tersisa saat ini sama herannya dengan Haikal.
Dia menyeringgai lebar disertai aura intimidasi yang tidak main-main, "Sudah waktunya kau membuka topengmu, bukan?"