
Pertandingan pertama perempat final Turnamen Penyambutan tahun ini disambut antusias oleh para penonton, pasalnya pertandingan perdana dibuka oleh kelompok unggulan yang diperkirakan menjadi pemenang turnamen tahun ini, kelompok Verna Galvoria.
"Semangat Cecil, kau pasti bisa!" Seru Verna dari luar batas arena berniat menambah kepercayaan diri gadis yang berdiri di tengah arena tersebut, namun sayangnya Cecil tak bisa mendengar suaranya diakibatkan rasa gugupnya yang semakin menjadi.
Berbeda dari Verna yang menyerukan dukungannya secara langsung, Jack hanya berdiam diri di samping Verna menatap Cecil yang tengah bergemetar gugup di arena. Ia yakin meskipun sifatnya begitu pemalu, Cecil memiliki kemampuan yang cukup untuk disandingkan dengan dirinya maupun Verna, hanya saja Cecil tidak pernah mempunyai kepercayaan pada dirinya sendiri.
Sejak kecil Cecil sering dilabeli 'anak rendahan' oleh anak-anak di lingkungan sekitarnya, membuat Cecil tidak bisa beranjak dari sana dan menganggap rendah dirinya sendiri, walau sebenarnya dirinya jauh lebih berbakat dari mereka yang menghinanya.
"Cecil, aku tak menuntutmu menang, tapi kuharap kau bisa mengatasi masa lalu dan ketidakpercayaan dirimu itu." Jack memasang ekspresi serius pada wajahnya, merasa satu-satunya hal yang membelengu Cecil adalah masa lalunya.
Jika harus membicarakan Job dan statistiknya, maka Cecil tidak kalah jauh dari Jack yang bakatnya hanya tertutup oleh kejeniusan Verna. Kalau Jack tidak berada di akademi ini maka bisa dikatakan dirinya jenius paling dekat dengan Verna, selain karena adanya Anna, Salvia, serta Edward.
Di sisi lain Cecil masih bergemetar merasa kakinya mulai kehilangan tenaga, tak memiliki kepercayaan diri melawan lawannya, "Gawat... ini gawat, aku takkan bisa menang...."
Saat Cecil larut ke dalam pikirannya Carlos yang merupakan lawannya sudah mengerahkan kemampuan api dari Soul Arc-nya, Soul Arc jenis Wizard yang berfokus pada sihir api. Soul Arc jenis Wizard dengan elemen api cukup sering ditemui, namun Carlos berasal dari keluarga Ogwine yang terkenal dengan kemampuannya memanipulasi energi jiwa dan sihir.
Keluarga Ogwine memang bukanlah keluarga bangsawan, apalagi 13 keluarga bangsawan paling berpengaruh di seluruh Wulodhasia, tetapi bisa dikatakan keluarga ini merupakan salah satu keluarga Blazer berbakat dalam memanipulasi energi jiwa sehingga mampu mengimbuhkan kreativitas dan improvisasi pada tiap serangannya.
Carlos kurang beruntung karena lahir di generasi yang sama dengan Salvia, Verna, dan para jenius lainnya sehingga bakatnya kurang diperhatikan, membuat Carlos berkeinginan kuat untuk menonjolkan dirinya di Turnamen Penyambutan ini.
Melihat Carlos telah siap hanya tinggal menunggu aba-aba mulai dari pengacara, Cecil menjadi semakin gemetaran dan panik tak tahu harus berbuat apa. Selang beberapa saat akhirnya Cecil mengeluarkan Soul Arc-nya, membuat sebagian besar penonton terkejut sekaligus kagum padanya, tapi tak sedikit pula yang menyayangkan Soul Arc sebagus ini dipegang oleh seorang gadis kecil yang nampaknya penakut.
"Soul Arc jenis hewan panggilan... Summoner. Bukankah itu salah satu Job langka di antara Blazer jenis Wizard?"
"Langka sih langka, namun jika penggunanya tidak bisa menggunakan kemampuan seorang Summoner bukankah itu sama saja?"
"Meski Summoner adalah Job langka, dengan hewan panggilan seperti itu apa dia bisa bertarung?"
Wujud Soul Arc Cecil bukanlah sesuatu yang bisa disaksikan setiap hari. Ia memiliki Soul Arc berbentuk binatang kecil, lebih tepatnya seekor burung gereja kecil berbulu hijau. Sebagian besar penonton tertarik karena Cecil memiliki Soul Arc langka di antara Blazer jenis Wizard, namun melihat wujud Soul Arc-nya hampir seluruh penonton kehilangan ketertarikan.
"Seorang Summoner.... Tak kusangka aku bisa bertarung melawan salah satunya," batin Carlos tersenyum tipis ternyata lawannya adalah seorang calon Blazer ber-Job Summoner, tetapi tidak meremehkan Cecil.
Summoner memang dikenal langka dan bisa diandalkan dalam berbagai jenis pertempuran karena memiliki mobilitas dan efesiensi bagus, serta kekuatan tempurnya juga seringkali patut diperhitungkan. Carlos merasa hari ini adalah hari keberuntungannya bisa melawan seseorang dengan Job Summoner.
Sementara Carlos terkagum-kagum pada Cecil, gadis itu sendiri merasa tatapan para penonton sangat tajam, seolah-olah memberikan tekanan luar biasa besar padanya. Kakinya semakin bergemetar merasakan begitu banyak pandangan penonton terpusat padanya sekarang.
Saat aba-aba mulai diluncurkan oleh pengacara, Carlos segera bergerak maju sambil menyemburkan api di tangannya ke arah Cecil.
Cecil yang sadar dirinya diserang mengambil sedikit langkah untuk menghindar, tetapi karena rasa gugupnya ia tidak bisa menghindar dengan sempurna. Bahu kanannya sedikit terbakar.
"Maafkan aku, tapi aku takkan segan meski kau seorang gadis." Sesudah mengatakan itu Carlos kembali melancarkan serangan, kali ini ia melemparkan beberapa api yang telah dipadatkan menjadi bola api. Jarak jangkauan serangannya menjadi lebih sedikit, tapi Carlos sadar dengan ini serangannya menjadi lebih cepat dan kuat.
Cecil masih bisa menghindarinya dengan kaki-kaki kecilnya, namun karena rasa gugupnya belum hilang pergerakan Cecil sedikit kacau dan tubuhnya terserempet beberapa bola api Carlos sebelum mulai mengerang kesakitan, "Urgh...."
"Aku belum selesai! Fire Ball – Barrage!" Carlos menembakkan bola api, kali ini bola apinya datang beruntun pada arah yang ia inginkan.
Cecil kembali bergerak untuk menghindari serangannya, namun berkat kakinya yang mulai kehilangan tenaga sebagian besar serangan Carlos mengenainya dengan telak, "Uaarghh!!"
Cecil terlempar beberapa meter setelah menerima serangan Carlos, berguling dan berhenti tepat di pinggir garis pembatas arena. Ia terlihat sungguh kesakitan namun tak ingin menyerah, membuat sebagian besar penonton sedikit terkesima.
Tak banyak yang mengetahui masa lalu Cecil yang membuatnya begitu trauma. Dicap sebagai anak gagal dan tak kompeten oleh anak-anak lingkungan sekitarnya membuat Cecil tidak bisa bergerak maju takut masa itu kembali terulang, terutama di tempat yang begitu banyak orangnya.
Tetapi bukan berarti setiap orang berbakat akan dijunjung tinggi, tidak sedikit orang ataupun pihak yang tak senang dengan bakat tersebut dan mengincarnya untuk menghambat perkembangannya. Terdapat beberapa kasus di masa lalu calon Blazer berbakat dibunuh agar tidak terlalu mengancam.
Ya, meskipun musuh utama umat manusia adalah Verg, manusia memiliki sifat yang selalu menjadi akar masalah di setiap zaman, yaitu keserakahan. Setiap orang pasti menginginkan hal lebih terhadap suatu kelompok atau dirinya sendiri. Bahkan dulu perang pernah meletus beberapa kali berkat keserakahan umat manusia.
Di zaman di mana kekuatan adalah segalanya dan peradaban hampir musnah, manusia tidak meninggalkan keserakahannya sekalipun. Hal inilah yang membuat Cecil terperangkap masa lalunya.
Keluarga Vermillion tempat di mana Cecil dilahirkan merupakan keluarga bangsawan, yang secara otomatis membuat mereka sekeluarga tinggal di tempat kaum bangsawan tinggal. Di antara kaum bangsawan sering terjadi perselisihan dan persaingan, bahkan anak-anaknya yang masih belia pun seringkali digunakan sebagai alat untuk bersaing.
Keluarga Vermillion tidak memperlakukan Cecil seperti itu mengingat posisi mereka sebagai bangsawan tidak setinggi bangsawan lainnya. Mereka memilih untuk diam tidak mencoba menyelam ke dalam perselisihan dan persaingan antar bangsawan.
Namun justru di sanalah yang menjadi akar masalahnya.
Bangsawan memiliki hak khusus untuk memeriksa bakat keturunan mereka sebagai Blazer dan ketika keluarga Vermillion memeriksakan Cecil barulah diketahui Cecil Vermillion memiliki bakat yang tinggi, membuat keluarga Vermillion menjadi incaran banyak bangsawan lainnya.
Banyak bangsawan berusaha mendekati keluarga Vermillion saat kabar bakat Cecil bocor untuk mempererat hubungan, tetapi sebenarnya mereka hanya melakukannya di depan saja. Kebanyakan bangsawan ini menyuruh anak-anaknya untuk mengucilkan dan mengejek Cecil, menjatuhkan mentalnya di usia belia untuk menghambat perkembangannya di masa depan.
Benar saja, berkat perlakuan anak-anak mereka Cecil menjadi mengidap trauma yang cukup mendalam sampai menghambat perkembangannya hingga sekarang.
"Cecil Vermillion, apakah kau akan menyerah?" Pengacara sedikit iba melihat kondisi Cecil yang terluka cukup parah hendak protes karena Carlos terlalu berlebihan, tetapi ia sadar turnamen ini diadakan untuk hal seperti ini.
Di tengah erangannya yang terdengar sangat menderita, Cecil menggelengkan kepalanya tak berniat menyerah sedikitpun.
Ia kemudian memandang Verna dan Jack di luar garis batas arena yang nampak sangat khawatir. Sejauh ini Cecil belum pernah menemukan teman seperti mereka bahkan dalam mimpi sekalipun.
Ketika melihat keduanya Cecil teringat latihan yang telah ia jalani bersama mereka.
Tidak ada satupun dari Verna maupun Jack mengeluhkan Cecil yang tidak begitu bagus dalam pertarungan karena traumanya, bahkan keduanya berusaha mendorong Cecil agar bisa keluar dari masa-masa kelam itu.
"Jika aku menyerah karena hal seremeh gugup dan takut... aku hanya akan mempermalukan mereka berdua." Cecil berusaha berdiri dari posisinya yang terbaring di lantai arena, dalam kondisi yang seharusnya tidak mungkin dilakukan oleh seorang murid kelas satu.
"Oh, kau masih bisa bertarung?" Carlos menaikkan alisnya menutupi keterkejutannya, tak menyangka Cecil berniat bertarung dengan kondisi terluka seperti itu.
Carlos sebenarnya tidak berniat melukai Cecil sampai separah ini, hanya saja Carlos adalah tipe orang yang takkan meremehkan lawannya meskipun kekuatan lawannya jauh berada di bawahnya sekalipun. Banyak orang salah paham dengan sifat Carlos yang seperti ini.
Para penonton dan Guild-Guild yang hadir di arena tak bisa menahan kekaguman mereka, tidak mudah mencari murid kelas satu yang memiliki kemauan kuat seperti Cecil, bahkan setelah dilukai sedemikian rupa oleh lawannya.
Di saat para penonton dan Carlos terkagum-kagum dengannya, Cecil menampar pipinya sendiri membuat semua yang melihatnya melotot hebat. Sudah terluka separah itu masih berniat menambah luka lagi? Gadis ini pasti kehilangan akal sehatnya, atau setidaknya itulah yang mereka pikirkan, bahkan bola mata Verna dan Jack hampir keluar saat menyaksikan tindakan Cecil.
Cecil melakukan itu bukan karena kehilangan akal sehat atau tak merasakan sakit, ia melakukannya untuk menghilangkan rasa gugup dan takut yang ia rasa sangat bodoh. Mengingat-ingat tindakan Verna dan Jack yang selalu mendukungnya selama ini, Cecil merasa tidak adil bagi mereka.
"Jika aku kalah tanpa perlawanan, aku hanya menyia-nyiakan kebaikan mereka berdua." Mata Cecil terlihat bercahaya, gemetar di kaki maupun seluruh tubuhnya juga berhenti.
Di saat itu juga tekanan energi jiwa mengalir deras keluar dari tubuhnya, membuat Carlos terbelalak hebat menyaksikan perubahan pada diri Cecil.
"Ayo kita mulai pertandingan yang sesungguhnya." Cecil kemudian menangkap burung gereja berbulu hijau yang merupakan Soul Arc-nya dan meremasnya hingga hancur membuat semua orang yang melihatnya terkejut, tetapi yang Cecil lakukan berikutnya membuat mereka lebih terkejut lagi.
Dari tangan Cecil yang meremas hancur Soul Arc-nya sendiri, terciptalah sebuah api hijau menyala terang menyilaukan seluruh orang yang hadir di arena. Ketika sinar tersebut sudah mereda dapat terlihat sesosok burung besar setinggi satu meter berbulu hijau bertengger di bahu Cecil.
"Kali ini aku juga akan bertarung sekuat tenaga," gumam Cecil pelan yang kemudian dijawab oleh sang burung hijau tersebut dengan salakan luar biasa keras menggema ke seluruh arena.